HAMIL ANGGUR(MOLA HIDATIDOSA)

                              

 

     KATA PENGANTAR

                                                           

                                                           

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Alhamdulilaahirabbi’alaamin,puji syukur senangtiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat limpahan rahmat, karunianya dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah

”Asuhan Keperawatan  pada Ibu dengan kehamilan Mola  Hidatidosa”

ini.Selain bertujuan untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah maternitas II

makalah ini juga disusundengan maksud agar pembaca dapat memperluas ilmu dan pengetahuan tentang bagaiamana teori tentang Mola Hidatidosa serta asuhan keperawatannya .

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca dan dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

                                                                                                     

 

 

 

 

 

 

 

                                                                             Surabaya,20Februari 2012

                                                                                         

                                                                                    Penyusun                                                                                         

 

 

 

 

                                              DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1  LataBelakang……………………………………………………………………………..1

1.2  RumusaMasalah…………………………………………………………………………1

1.3  Tujua………………………………………………………………………………………..2

1.4  Manfaat……………………………………………………………………………………..2

BAB II TINJAUAN TEORI

            2.1. KONSEP DASAR TEORI

                   2.1.1 Pengertian Mola Hidatidosa…………………………………………………3

                   2.1.2 Etiologi Mola Hidatidosa…………………………………………………….5

                   2.1.3 patofisiologi Mola Hidatidosa………………………………………………6

                   2.1.4 Tanda dan Gejala ……………………………………………………………….8

                   2.1.5Komplikasi…………………………………………………………………………8

                   2.1.6 Gambarandiagnostik…………………………………………………………..8

                  2..1.7Penatalaksanaan………………………………………………………………..10

            2.2.KONSEP DASAR KEPERAWATAN

                 2.2.1Pengkajian.………………………………………………………12

                  2.2.2 DiagnosaKeperawatan………………………………………….16

                  2.2.3IntervensiKeperawatan………………………………………….16

BAB III  CONTOH KASUS

3.1 Pengkajian kehamilan……………………………………………………22  3.2 Diagnosa………………………………………………………………………………………..28 3.3 Intervensi………………………………………………………………..28 3.4 Implementasi…………………………………………………………….30  3.5 Evaluasi………………………………………………………………………….31

BAB IV KESENJANGAN KASUS DAN TEORI

   4.1Kesenjangan……………………………………………………………………………………….33

4.2Kesimpulan…………………………………………………………………………………………34

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 1

Pendahuluan

 

1.1  Latar Belakang

Mola Hidatidosa ialah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri tumor jinak (benigna) dari chorion penyebab embrio mati dalam uterus tetapi plasenta melanjutkan sel-sel trophoblastik terus tumbuh menjadi agresif dan membentuk tumor yang invasif, kemudian edema dan membentuk seperti buah anggur, karakteristik mola hidatiosa bentuk komplet dan bentuk parsial, yaitu tidak ada jaringan embrio dan ada jaringan embrio.

Sebagian dari villi berubah menjadi gelembung-gelembung berisi cairan jernih. Biasanya tidak ada janin, hanya pada mola parsialis kadang-kadang ada janin. Gelembung itu sebesar butir kacang hijau sampai sebesar buah anggur. Gelembung ini dapat mengisi seluruh cavum uteri. Di bawah mikroskop nampak degenerasi hydrotopik dari stoma jonjot, tidak adanya pembuluh darah dan proliferasi trofoblast. Pada bagian pemeriksaan kromosom didapatkan poliploidi dan hampir pada semua kasus mola susunan sex chromatin adalah wanita.

Pada mola hidatidosa, ovaria dapat mengandung kista lutein kadang-kadang hanya pada satu ovarium, kadang-kadang pada kedua-duanya. Kista ini berdinding tipis dan berisi cairan kekuning-kuningan dan dapat mencapai ukuran sebesar sarung tinju atau kepala bayi. Kista lutein terjadi karena perangsangan ovarium oleh kadar gonadotropin chorion yang tinggi, kista ini hilang sendiri setelah mola dilahirkan.

                                     

 

 

1.2  Rumusan Masalah

  • apa definisi dari mola hidatidosa ?
  • apakah etiologi dari mola hidatidosa ?
  • bagaimana patofisiologi dari mola hidatidosa ?
  • bagaimana tanda dan gejala dari mola hidatidosa ?
  • bagaimana gambaran diagnostik dari mola hidatidosa ?
  • bagaimana penatalaksanaan pada klien dengan mola hidatidosa ?
  • bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan mola hidatidosa ?

 

1.3Tujuan

 

  • Agar mahasiswa mengetahui  dan memahami pengertian dari mola hidatidosa
  • Agar mahasiswa mengetahui dan memahami etiologi dari mola hidatidosa
  • Agar mahasiswa mengetahui dan memahami tanda dan gejala dari mola hidatidosa
  • Agar mahasiswa mengetahui komplikasi dari mola hidatidosa
  • Agar mahasiswa mengetahui gambaran diagnostik dari mola hidatidosa
  • Agar mahasiswa mengetahui penatalaksanaan dari mola hidatidosa
  • Agar  mahasiswa  mampu  memberikan  asuhan  keperawatan  pada 

Klien dengan  mola hidatidosa

 

1.3  Manfaat

Setelah membuat makalah mola hidatidosa ini, mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami pengertian mola hidatidosa, etiologi mola hidatidosa, patofisiologi mola hidatidosa, tanda dan gejala mola hidatidosa, komplikasi mola hidatidosa, gambaran diagnostic mola hidatidosa, penatalaksanaan mola hidatidosa, serta  membuat dan mengaplikasikan  asuhan keperawatan pada klien dengan mola hidatidosa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Tinjauan Teori

 

2.1 Konsep Dasar Teori

2.1.1 Pengertian

Mola Hidatidosa ditandai oleh kelainan vili korialis, yang terdiri dari proliferasi trofoblastik dangan derajat yang bervariasi dan edema sroma vilus. Mola biasanya menempati kavum uteri, tetapi kadang-kadang tumor ini ditemukan dalam tuba falopii dan bahkan dalam ovarium. Perkembangan penyakit trofoblastik ini amat menarik, dan ada tidaknya jaringan janin telah digunakan untuk menggolongkannya menjadi bentuk mola yang komplet (klasik)

dan parsial (inkomplet)

 

.

 

 

Karakteristik Mola Hidatidosa bentuk komplet dan parsial :

Gambaran

Mola parsial (inkomplet)

Mola Komplet (klasik)

Jaringan embrio atau janin

Ada

Tidak ada

Pembengkakan hidatidosa pada vili

Fokal

Difus

Hyperplasia                       

Fokal

Difus

Inklusi stroma

Ada

Tidak ada

Lekukan vilosa

Ada

Tidak ada

 

 

           

 

  1. Mola Hidatidosa Komplet (klasik)

Vili korialis berubah menjadi kumpulan gelembung yang jernih. Gelembung-gelembung atau vesikula ini bervariasi ukurannya mulai dari yang mudah terlihat sampai beberapa cm, dan bergantung dalam beberapa kelompok dari tangkai yang tipis. Massa tersebut dapat tumbuh cukup besar sehingga memenuhi uterus, yang besarnya bisa mencapai ukuran uterus kehamilan normal lanjut. Berbagai penelitian sitogenetik terhadap kehamilan mola komplet, menemukan komposisi kromosom yang paling sering (tidak selalu) 46XX, dengan kromosom sepenuhnya berasal dari ayah.

 Fenomena ini disebut sebagai androgenesis yang khas ovum dibuahi oleh sebuah sperma haploid yang kemudian mengadakan duplikasi kromosomnya sendiri setelah miosis. Kromosom ovum bias tidak terlihat atau tampak tidak aktif. Tetapi semua mola hidatidosa komplet tidak begitu khas dan kadang-kadang pola kromosom pada mola komplet biSA 46XY. Dalam keadaan ini dua sperma membuahi satu ovum yang tidak mengandung kromosom. Variasi lainnya juga pernah dikemukakan misalnya 45X. jadi mola hidatidosa yang secara morfologis komplet dapat terjadi akibat beberapa pola kromosom.

 

 

  1. Mola Hidatidosa Parsial (inkomplet)

Kalau perubahan hidatidosa bersifat fokal serta belum begitu jauh dan masih terdapat janin atau sedikitnya kantong amnion, keadaan ini digolongkan sebagai mola hidatidosa parsial. Pada sebagian vili yang biasanya avaskuler terjadi pembengkakan hidatidisa yang berjalan lambat, sementara vili lainnya yang vaskular dengan sirkulasi darah fetus plasenta yang masih berfungsi tidak mengalami perubahan. Hyperplasia trofoblastik yang terjadi, lebih bersifat fokal dari pada generalisata. Katiotipe secara khas berupa triploid, yang bias 69XXY atau 69XYY dengan satu komplemen maternal tapi biasanya dengan dua komplemen haploid paternal. Janin secara khas menunjukkan stigmata triploidi yang mencakup malformasi congenital multiple dan retardasi pertumbuhan.

 

 

 

 

 

 

2.1.2 Etiologi

Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor penyebabnya adalah  :

  1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan
  2. Imunoselektif dari tropoblast: yaitu dengan kematian fetus,pembuluh darah pada stroma villi menjadi jarang dan stroma villi menjadi sembab dan akhirnya terjadi hyperplasia.
  3. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah: keadaan sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap pemenuhan gizi ibu yang pada akhirnya akan mempengaruhin pembentukan ovum abnormal yang mengarah pada terbentuknya mola hidatidosa.
  4. Paritas tinggi: ibu dengan paritas tinggi, memiliki kemungkinan terjadinya abnormalitas pada kehamilan berikutnya,sehingga ada kemungkinan kehamilan berkembang menjadi mola hidatidosa.
  5. Kekurangan protein:sesuai dengan fungsi protein untuk pembentukan jaringan atau fetus sehingga apabila terjadi kekurangan protein saat hamil menyebabkan gangguan pembentukan fetus secara sempurna yang menimbulkan jonjot-jonjot korion.
  6. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas

 

2.1.3 Patofisiologi

Jonjot-jonjot korion tumbuh  berganda dan mengandung cairan merupakan kista-kista kecil seperti anggur. Biasanya didalamnya tidak berisi embrio. Secara histopatologik kadang-kadang ditemukan jaringan mola pada plasenta dengan bayi normal. Bisa juga terjadi kehamilan ganda mola adalah satu janin tumbuh dan yang satu lagi menjadi mola hidatidosa. Gelembung mola besarnya bervariasi, mulai dari yang kecil sampai berdiameter lebih dari satu cm. mola parsialis adalah bila dijumpai janin dan gelembung-gelembung mola.

ü  Secara mikroskopik terlihat trias :

1)      Proliferasi dari trofoblast

2)      Degenerasi hidropik dari stroma vili dan kesembaban

3)      Terlambat atau hilangnya pembuluh darah dan stroma.

Sel-sel langhans tampak seperti sel polidral dengan inti terang dan adanya sel sinsisial giantik (syncytial giant cell). Pada kasus mola banyaak kita jumpai ovarium dengan kista lutein ganda berdiameter 10 cm atau lebih. Kista lutein akan berangsur-angsur mengecil dan hilang setelah mola hidatidosa sembuh.

 

 

2.1.4 Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah :

a.Amenore dan tanda-tanda kehamilan

b.Perdarahan pervaginam berulang. Darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola.

c.Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.                                                      

d.Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya DJJ sekalipun

   uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih.

e.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu.

f. hiperemesis lebih sering terjadi, lebih keras dan lebih lama.

g. mungkin timbul preeklampsia dan eklampsia. Terjadinya preeclampsia dan

   eklampsia sebelum minggu kedau empat menuju kearah mola hidatidosa.

h.kadar gonadotropin tinggi dalam darah serum pada hari ke 100 atau lebih sesudah

   periode menstruasi terakhir.

 

2.1.5 Komplikasi

  • Perdarahan yang hebat sampai syok, kalau tidak segera ditolong dapat berakibat fatal.
  • Perdarahan berulang-ulang yang dapat menyebabkan anemia.
  • Infeksi sekunder.
  • Perforasi karena kegananasan dan Karena tindakan.
  • Menjadi ganas (PTG) pada kira-kira 18%-20% kasus akan menjadi mola destruens atau koriokarsinoma.

 

2.1.6 Gambaran Diagnostik

Kita harus mempertimbangkan kemungkinan data-data tentang menstruasi atau uterus hamil yang lebih lanjut membesar akibat mioma, hidramnion, atau terutama akibat janin lebih dari satu.

ü  Ultrasonografi

Ketapatan diagnostic yang terbesar diperoleh dari gambaran USG yang khas pada mola hidatidosa keamanan dan ketepatan pada pemeriksaan sonografi membuat pemeriksaan ini menjadi prosedur pilihan. Tetapi kita harus ingat bahwa beberapa stuktur lainnya dapat memperlihatkan gambaran yang serupa dengan gambaran mola hidatidosa, termasuk mioma uteri dengan kehamilan dini dan kehamilan dengan janin lebih dari satu. Tinjauan cermat mengenai riwayat penyakit bersama hasil evaluasi pemeriksaan USG yang cermat dan kalau perlu diulang satu atau dua minggu kemudian, harus bias menghindari diagnose mola hidatidosa lewat USG yang keliru ketika kehamilan sebenarnya normal.

                                 

ü  Amniografi

Penggunaan bahan radiopak yang dimasukkan kedalam uterus secara transabdominal akan memberikan gambaran radiografik khas pada mola hidatidosa. Cavum uteri ditembus dengan jarum untuk amniosintesis. 20ml hypaque disuntikkan segera dan 5 hingga 10 menit kemudian difoto anteroposterior. Pola sinar x seperti sarang tawon, khas ditimbulkan oleh bahan kontraks yang mengelilingi gelembung-gelembung corion. Pada kehamilan normal terdapat sedikit resiko abortus akibat penyuntikan bahan kontraks hipertonik intra amnion. Dengan semakin banyaknya sarana USG yang tersedia, teknik pemeriksaan amniografi sudah jarang dipakai lagi.

ü  Pengukuran kadar corionic gonadotropin

           Pengukuran kadar corionic gonadotropin kadang-kadang digunakan untuk membuat diagnose jika metode pengukuran secara kuantitatif yang andal telah tersedia, dan variasinya cukup besar pada sekresi gonadotropin dalam kehamilan normal sudah dipahami khusus kenaikan kadar gonadotropin yang kadang-kadang menyertai kehamilan dengan janin lebih dari satu.

ü  Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola (cara Acosta-Sison)

ü  2.1.7 Penatalaksanaan

  • Kuretase isap (suction curettage)

Apabila pasien menginginkan keturunan di kemudian hari, penanganan yang dipilih adalah evakuasi jaringan mola dengan kuretase isap. Dua sampai empat unit darah harus tersedia karena evakuasi dapat disertai dengan kehilangan darah yang banyak.setelah evakuasi awal, kontraksi uterus dirangsang dengan oksitosin intravena untuk mengurangi kehilangan darah.jaringan-jaringan sisa dibersikan dengan kuretase tajam.spesimennya dikirim secara terpisah ke laboratorium patologi.

 

 

  • Histerektomi abdominal

Pada mola ini merupakan suatu alternatif lain bagi pasien yang tidak lagi menginginkan kehamilan di kemudian hari.Histerektomi menyingkirkan kemungkinan berfungsinya sel-sel trofoblastik yang tertinggal di dalam uterus setelah kuretase isap dan mengurai resiko penyakit trofoblastik residual sampai 3-5%.keputusan mengenai salpingo-ooforektomi adalah tersendiri.setelah pengeluaran mola dan pengurangan stimulas chorionic gonadotropin,kista teka-lutein ovarium mengalami regresi secara spontan. Pengangkatan dengan pembedahan hanya diperlukan bila ada kaitan dengan

torsi atau perdarahan.

  • Program lanjut

Setelah evakuasi suatu kehamilan mola pasien diamati dengan seksama terhadap serangkaian titer chorionic gonadotropin (HCG), menggunakan  radioimmunoassay untuk submit beta, setiap satu atau dua minggu sampai negative. Hilangnya HCG secara sempurna diperkirakan terjadi dalam 9-15 minggu setelah pengosongan uterus. Pasien disarankan untuk menghindari kehamilan sampai titer chorionic gonadotropin negative selama satu tahun. Biasanya diberikan kontrasepsi oral estrogen-progestin. Pelvis diperiksa secara berkala untuk menilai ukuran uterus, adneksa untuk kista teka-lutein, dan traktus genitalis bagian bawah untuk metastase.

Apabila 2 titer  chorionic gonadotropin yang berurutan stabil (plateu) atau meningkat atau apabila tampak adanya metastase, pasien harus dievaluasi terhadap keganasan neoplasia tropoblastik gestasional dan kemoterapi. Hamper 15-20% pasien dengan Mola Hidatidosa berkembang gejala keganasan ssetetal kuretase isap. Dari kelompok ini hamper 80% menderita penyakit trofoblastik non metastatic sedangkan yang 20% menderita metastase keluar batas uterus, paling sering ke paru-paru atau vagina. Selain titer  chorionic gonadotropin yang persisten atau meningkat, gejala keganasan neoplsia trofoblastik gestasional meliputi perdarahan pervaginam yang persisten, pendarahan intra abdominal dan lesi perdarahan di paru-paru, hepar, otak, atau ogan-organ lainnya.

 

 

 

 

2.2 Konsep Dasar Keperawatan

2.2.1 PENGKAJIAN

  1. a.      Biodata

1)      Nama

Sebagai identitas bagi pelayanan kesehatan/Rumah Sakit/ Klinik atau catat apakah klien pernah dirawat disini atau tidak.

2)      Umur

Digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan terapi dan tindakan, juga sebagai acuan pada umur berapa penyakit/kelainan tersebut terjadi. Pada keterangan sering terjadi pada usia produktif 25 – 45 tahun.

3)      Alamat

Sebagai gambaran tentang lingkungan tempat tinggal klien apakah dekat atau jauh dari pelayanan kesehatan khususnya dalam pemeriksaan kehamilan.

4)      Pendidikan

Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien sehingga akan memudahkan dalam pemberian penjelasan dan pengetahuan tentang gejala / keluhan selama di rumah atau Rumah Sakit.

5)      Status Perkawinan

Dengan status perkawinan mengetahui berapa kali klien mengalami kehamilan Mola Hidatidosa atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan.

6)      Agama

Untuk mengetahui gambaran dan spiritual klien sehingga memudahkan dalam memberikan bimbingan keagamaan.

7)      Nama Suami

Agar diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam pembiayaan dan pemberian persetujuan dalam perawatan.

8)      Pekerjaan

Untuk mengetahui keadaan aktivitas sehari-hari dari klien, sehingga memungkinkan menjadi faktor resiko terjadinya kehamilan Mola Hidatidosa.

b. Keluhan utama            
Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang.

c. Riwayat kesehatan                      

  • Riwayat kesehatan sekarang : Yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
  • Riwayat penyakit masa lalu : Mengkaji riwayat penyakit pada masa lalu yang pernah diderita oleh klien misalnya Diabetes Mellitus, penyakit jantung, hipertensi, masalah ginekologi/urinary, penyakit endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.
  • Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan, kapan, oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.
  • Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
  • Riwayat kesehatan reproduksi :
    Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluhan yang menyertainya.

 

d. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas

Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.

Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluhan yang menyertainya.

 

 

e. Riwayat pemakaian obat

Kaji riwayat pemakaian obat-obatan kontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

  1. g.    Pola aktivitas sehari-hari

Kaji mengenai aktivitas, sirkulasi, pernapasan, cairan, eliminasi, kenyamanan/nyeri, keamanan, baik sebelum dan saat sakit.

  • Aktivitas : kelemahan, kesulitan ambulasi.
  • Sirkulasi : Takikardia, berkeringat, pucat, hipotensi (tanda syok) dan edema jaringan.
  • Pernapasan : pernapasan dangkal, takipnea.
  • Cairan :

v  Anoreksia, mual/muntah; haus.

v  Muntah proyektil.

v  Membran mukosa kering, lidah bengkak, turgor kulit buruk.

  • Eliminasi :

v  Ketidakmampuan defekasi dan flatus.

v  Diare (kadang-kadang).

v  Cegukan; distensi abdomen.

v  Penurunan haluaran urine, warna gelap.

v  Penurunan/tak ada bising usus (ileus); bunyi keras hilang timbul, bising usus kasar (obstruksi); kekakuan abdomen, nyeri tekan. Hiperesonan/timpani (ileus); hilang suara pekak diatas hati (udara bebas dalam abdomen).

  • Kenyamanan/ nyeri : Nyeri abdomen, Distensi, kaku, nyeri tekan.
  • Keamanan : Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis); infeksi pasca-melahirkan, abses retroperitoneal.

g. Data psikososial
Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan.

h. Status sosio-ekonomi
Kaji masalah finansial klien

i. Data spiritual
Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.

j. Pemeriksaan fisik

  • Inspeksi : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fisik, dan seterusnya.
  • Palpasi : merasakan suatu edema, mengevaluasi edema, menentukan karakter nadi, mencatat suhu, derajat kelembaban, mencubit kulit untuk mengamati turgor dan tekstur kulit, menentukan tegangan/tonus otot, menentukan kekuatan kontraksi uterus atau respon nyeri yang abnormal,
    memperhatikan posisi janin.
  • Perkusi : menggunakan jari, ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan, massa atau konsolidasi. Kemudian menggunakan palu perkusi, ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak
  • Auskultasi : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.

k. Pemeriksaan laboratorium : darah dan urine serta pemeriksaan penunjang rontgen, USG, biopsi, pap smear

 

2.2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Resiko tinggi terhadap devisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan.
  2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder.
  3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan Penurunan komponen seluler yang di butuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrien ke sel.
  4. Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
  5. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan intrauteri.
  6. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.

                                                        

2.2.3        INTERVENSI KEPERAWATAN :

  1. Resiko tinggi terhadap devisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan

Tujuan      :

Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output jumlah maupun kualitas baik.

Kriteria hasil: TTV stabil, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik.

Intervensi :

  1. Kaji kondisi status hemodinamika

Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi

  1. Ukur pengeluaran harian

Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal

  1. Catat haluaran dan pemasukan

Rasional : Mengetahuai penurunanan sirkulasi terhadap destruksi sel darah merah.

  1. Observasi Nadi dan Tensi

Rasional : Mengetahui tanda hipovolume (perdarahan).

  1. Berikan diet halus

Rasional : Memudahkan penyerapan diet

  1. Nilai hasil lab. HB/HT

Rasional : Menghindari perdarahan spontan karena proliferasi sel darah merah.

  1. Berikan sejumlah cairan IV sesuai indikasi

Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif

  1. Evaluasi status hemodinamika.

Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik.

 

  1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab.

Tujuan      :

Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan

kriteria hasil: TTV dalam batas normal, Ekspresi tenang, Hasil laboraturium dalam batas normal.

Intervensi :

  1. Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau

Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi

  1. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan

Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar.

  1. Lakukan perawatan vulva

Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.

  1. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda infeksi

Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi

  1. Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama selama masa perdarahan

Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

  1. Batasi pengunjung dan ajari pengunjung untuk mencuci tangan yang baik.

Rasional : Mencegah cross infeksi.

  1. Observasi suhu tubuh.

Rasional : Mengetahui infeksi lanjut.

 

  1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan Penurunan komponen seluler yang di butuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrien ke sel.

Tujuan      :

Tidak terjadi Perubahan perfusi jaringan selama perawatan perdarahan                  

kriteria hasil:-Hb dalam batas normal

                      -turgor kulit baik,vital sign dalam batas normal

                      -tidak ada mual muntah

                      -tidak ada perdarahan

                       

Intervensi :

  1. Kaji tanda vital, warna kulit, ujung jari

Rasional : Memberikan informasi mengenai perfusi

  1. Pertahankan suhu lingkungan dan tubuh.

Rasional : Memperlancar vaskularisasi kejaringan perifer.

  1. Nilai hasil lab.HB/HT dan jumlah SDM GDA.

Rasional : Mengidentifikasi/memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan.

  1. Berikan sel darah merah seuai program terapi.

Rasional : Memaksimalkan transportasi oksigen kejaringan.

 

  1. Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi

Tujuan :

Klien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi

Kriteria hasil: klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan, melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur

Intervensi :             

  1. Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas

Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk mencegah kondisi klien lebih buruk

  1. Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan

Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi

  1. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari

Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal

  1. Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien

Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien, pada Mola Hidatidosa, istirahat mutlak sangat diperlukan

  1. Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas

Rasional : Menilai kondisi umum klien

 

  1. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan  kerusakan jaringan intrauteri

Tujuan      :

Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami

Kriteria hasil:- klien mengungkapkan nyeri hilang/berkurang

                      -tampak rileks

                      -mampu beristirahat dengan tepat

Intervensi :

  1. Kaji kondisi nyeri yang dialami klien

Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun diskripsi.

  1. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya

Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri

  1. Kolaborasi pemberian analgetika

Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik

  1. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.

Tujuan      :

Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat

Kriteria hasil:-klien tenang

                      -klien dapat memahami informasi tentang penyakitnya

                             -klien  dapat menerima kondisinya

Intervensi :

  1. Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit.

Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas.

  1. Kaji derajat kecemasan yang dialami klien.

Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit.

  1. Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan.

Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien.

  1. Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama.

Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan.

  1. Terangkan hal-hal seputar Mola Hidatidosa yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga.

Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

TINJAUAN KASUS

                                                                                      

3.1 Pengkajian Kehamilan :

       Contoh Kasus:

    Ny.N datAng ke RS Bersalin Kasih Ibu pada tanggal 11 februari 2007,pukul 08.00 dengan keluhan keluar darah sedikit-sedikit pada vaginanya,klien merasa pusing,penglihatan berkunang-kunang,sering muntah-muntah yang berlebihan sering gelisah.
I. DATA SUBYEKTIF

1. BIODATA                                                                                                              

a. Nama : Ny. N

b. Umur : 25 tahun

c. Nama suami : Tn. A

d. Umur : 26 tahun

e. Suku/bangsa : Jawa/Indonesia

f. Status Perkawinan : Menikah, sah menurut Agama (istri pertama, lama pernikahan

   3 Tahun)

g. Agama : Islam

h. Pendidikan : SMA

i. Alamat :  : Nabang Baru No 13. Metro Timur

j. Diagnosa : Mola Hidatidosa

 

2. RIWAYAT KEPERAWATAN/KESEHATAN

a. Keluhan Utama :

Klien merasakan keluar darah sedikit-sedikit, klien merasa pusing penglihatannya kunang-kunang, sering muntah-muntah yang berlebihan dan sering gelisah.

b. Riwayat keperawatan/kesehatan sekarang : klien mengatakan keluar darah sedikit-sedikit selama 1 minggu dang anti pembalut 2-3 kali sehari.

c.Riwayat keperawatan/kesehatan masa lalu :

  • Penyakit Jantung : tidak ada
  • Penyakit Hipertensi : tidak ada
  • Penyakit Hepar : tidak ada
  • Penyakit DM : tidak ada
  • Penyakit Anemia : tidak ada
  • Penyakit PMS, HIV, AIDS : tidak ada
  • Penyakit Campak : tidak ada
  • Tuberculosis : tidak ada 
  • Operasi : tidak ada
  1. Riwayat keperawatan/kesehatan keluarga : keluarga klien tidak memiliki penyakit keturunan.
  2. Riwayat keperawatan/kesehatan lingkungan :  lingkungan tempat tinggal klien baik dan bersih, klien rajin membersihkan rumah, sehingga sedikit sekali ada dampak yang berpengaruh buruk terhadap kesehatannya.
  3. Riwayat psikososial : Dalam menghadapi kehamilan ini klien merasa senang karena kehamilan yang kedua ini memang sudah direncanakan dan mendapat dukungan dari suami dan keluarga
  4. Latar belakang budaya : budaya klien tidak mempengaruhi kesehatan dari klien, klien tidak ada pantangan mengkonsumsi makanan apa pun
  5. Dukungan Keluarga :keluarga mendukung kehamilan kedua klien
  6. Riwayat Kebidanan

1) riwayat haid :

ü  Menarche : 14 tahun

ü  Siklus haid : teratur 28-30 hari

ü  Keluhan selama haid : Tidak ada keluhan selama haid

ü  Hari pertama haid terakhir (HPHT) :  HPHT 29 Oktober 2006

ü  Tafsiran persalinan : 5 Agustus 2007

2) Riwayat perkawinan:sah menurut agama dan negara

3) Riwayat kehamilan dan persalinan

G2P10001

KEHAMILAN

PERSALINAN

NIFAS

ANAK

KB

No

Suami ke

Keluhan

Usia kehamilan

Penolong

Cara persalinan

Penyulit

 

Sex

BBL

Usia

 

1

1

Mual, pusing

38 mggu

Bidan

Pervaginam

Tidak

Ada

Baik

Lk

3200 gr

1 thn

suntik

2

HAMIL INI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Riwayat kehamilan sekarang:

–          Pemeriksaan kehamilan sebelumnya: 1x

–          Terapi yang diterima: tidak ada

–          HE yang sudah didapat:-manfaat pemberian asi esklusif

                                             -pemberian pola diet pada ibu hamil

                                             -perawatan payudara

3. POLA-POLA FUNGSI KESEHATAN:

a. Pola persepsi-pemeliharaan kesehatan

 Sebelum Hamil : mandi dan ganti pakaian 2x sehari hygiene terjaga

 Saat Hamil :mandi dan ganti pakaian 2x sehari hygiene terjaga

b. Pola aktivitas_latihan

 Sebelum Hamil: klien dapat melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasa

Saat Hamil : klien mengatakan masih bisa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasa

c. Pola nutrisi-metabolisme

Sebelum hamil : klien mengatakan biasanya makan 2-3 kali sehari dengan nasi,sayur,ikan/tempe, minum 7-8 gelas/hari

Saat hamil : klien tidak mengalami perubahan, makan 2-3 kali sehari, minum 7-8 gelas/hari. Disertai mual dan muntah yang sering

d. Pola eliminasi

Sebelum hamil: BAK 10x sehari, BAB 1x sehari

Saat hamil: BAK 10x sehari, BAB 1x sehari

e. Pola tidur-istirahat

Sebelum hamil: klien mengatakan tidur siang 2 jam dan malam 9 jam dengan nyenyak

Saat hamil: klien mengatakan pola istirahatnya sama seperti sebelum hamil

f. Pola kognitif-perseptual

Sebelum hamil: klien menjaga kesehatan diri sendiri dan keluarganya

Saat hamil:klien mengerti tentang kehamilannya dan memahami kehamilannya sehingga klien berusaha untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan janinnya

g. Pola toleransi-koping stress

Sebelum hamil: klien mengatakan saat ada masalah, klien menggunakan mekanisme koping yang baik

Saat hamil: klien mengatakan saat ada masalah, klien menggunakan mekanisme koping yang baik

 

h. Pola persepsi diri-konsep diri

Sebelum hamil: konsep diri klien baik

Saat hamil: setelah mengetahui kehamilannya dengan molla hidatidosa, klien merasa cemas,gelisah

  1. Pola seksual-reproduksi

Sebelum hamil : hubungan seksual dilakukan 3 x 1 minggu

Saat hamil : hubungan seksual dilakukan 1x 1 minggu

j. Pola hubungan dan peran

Sebelum hamil: klien menjalankan perannya sebagai ibu dengan baik

Saat hamil: klien menjalankan perannya sebagai ibu dengan baik

k. Pola nilai dan keyakinan

Sebelum hamil : taat menjalankankan ibadah

Saat hamil : taat menjalankan ibadah

II. DATA OBJEKTIF

  1. Tanda-tanda vital:
    1. Tekanan darah:110/80  mmhg
    2. Nadi: 80x/menit
    3. Suhu tubuh: 37,5 C
    4. Pernapasan: 22x/menit
    5. Tinggi badan:164 cm
    6. Berat badan:54 kg
    7. Pemeriksaan fisik (head to toe):
      1. Kepala:

1)      Rambut: hitam, rapi, bersih, tidak ada ketombe,tidak rontok

2)      Muka: simetris, tidak ada edema

3)      Mata: konjungtiva pucat, sclera tidak ikterus

4)      Hidung: paten, tidak ada sinusitis, bentuk simetris

5)      Gigi dan mulut: tidak ada karies, tidak  stomatitis, bersih

6)      Telinga: bersih, pendengaran baik, simetris kanan/kiri

  1. Leher

1)      Kelenjar tiroid:tidak ada pembesaran

2)      Vena jugularis: tidak ada pembesaran

  1. Dada

1)      Jantung: terdapat Lup dup teratur

2)      Paru:tidak ada bunyi ronchi dan wheezing , suara nafas vesikuler

3)      Payudara: bentuk simetris, membesar, bentuk puting susu menonjol, tidak ada hiperpigmentasi, tidak ada massa, tidak ada pengeluaran, bersih

  1. Abdomen

1)      Bentuk: uterus lebih besar dari usia kehamilan

2)      Strie: terlihat sedikit

3)      Linea: terlihat linea alba

4)      Bising usus: 15x/mnt

5)      Palpasi Leopold: TFU 3 jari dibawah pusat

6)      DJJ: tidak terdengar denyut jantung janin

  1. Genetalia: bersih, tidak ada penyakit kelamin, ada pengeluaran darah pervaginam dan terlihat gelembung-gelembung mola seperti anggur
  2. Ekstrimitas:tidak ada  edema, tidak ada varises, reflek patella (+) kanan kiri
  3. Pemeriksaan panggul luar:tidak dilakukan
  4. Tafsiran berat janin: –
  5. Pemeriksaan penunjang:
    1) Laboratorium
         HB : 9 gr%
         Protein urine : tidak dilakukan
    2) Pemeriksaan kadar Beta HCG darah : –
    3) Foto toraks : tidak ada gambaran emboli udara
    4) USG : tidak terlihat rangka janin, terlihat gelembung-gelembung mola seperti buah anggur          gambaran seperti sarang tawon, seperti badai salju.

 

Analisa Data

 

Data

Etiologi

Masalah Keperawatan

DS :

–            Mengeluh  perdarahan sudah 6 hari, badan lemah.

DO :

–            Perdarahan pervaginal bergumpal.

–            Hb. 9 mg%

–            Kulit agak pucat

–            Turgor kulit jelek

–            TD:110/80, nadi:80x/menit, suhu: 37C, rr: 20x/menit.

 

DS:

–          Klien menyatakan badannya lemah,dan mengeluh perdarahan selama 6hari

DO:  a) akral dingin

         b) turgor kulit buruk,

              agak pucat.

         c) CRT 3 detik

         d) TD:110/80, nadi

              80x/menit, suhu

            37C.

        e) Hb: 9 gr%

        f) perdarahan 100cc,

            warna merah segar

            bergumpal.

 

 

DS :

–          Klien menyatakan tidak tahu kalau dirinya hamil gelembung-gelembung anggur.

–          Klien menyatakan bingung apa yang harus dilakukan.

 

DO: klien terlihat gelisah.

 

 

 

DS:- klien mengeluh per

         darahan selama 6 hari

DO: – Keadaan vulva

           lembab dan kotor

           akibat perdarahan.

–          Td: 110/80, nadi:

80x/menit, suhu:37C, rr:22x/menit.

 

 

DS :

–          Menyatakan dirinya sering mual dan muntah

DO :             

-Klien tampak lemah, pucat

-Mual dan muntah 2 kali

 sehari

-BB:54kg, TB:164cm

-perdarahan 100cc warna

  merah segar bergumpa

-Albumin: 3,8 gr/dl

 

 

Perdarahan pervaginam akibat kerusakan jaringan intra uterus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penurunan komponen seluler yang dibutuhkan untuk pengiriman nutrien sel akibat perdarahan pervaginam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kurang pengetahuan tentang kondisi penyakitnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perdarahan yang mengakibat         

kan kondisi vulva hygiene menjadi berkurang dan selalu lembab.

 

 

 

 

 

 

 

 

Mual dan muntah yang berlebihan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Devisit Volume Cairan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perubahan perfusi jaringan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

          Cemas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Resiko tinggi infeksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Resiko kurangnya kebutuhan nutrisi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.2 Diagnosa Keperawatan :

  1. Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
  2. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang dibutuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel akibat pendarahan.
  3. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi penyakitnya.
  4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab.
  5. Resiko kurangnya kebutuhan nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah yang berlebihan.

 

5.3  Intervensi Keperawatan :

Dx 1 : Devisit Volume Cairan berhubungan dengan Perdarahan pervaginam

ü  Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, maka tidak terjadi devisit volume cairan, antara intake dan output jumlah maupun kualitasnya baik.

ü  Kriteria hasil: TTV stabil, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik.

ü  Intervensi :

  1. Kaji kondisi status hemodinamika

Rasional : Pengeluaran cairan pervaginam memiliki karakteristik bervariasi.

  1. Observasi Nadi dan Tensi

Rasional : Mengetahui tanda hipovolemik (perdarahan).

  1. Ukur intake dan output harian

Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginam

  1. Anjurkan klien memenuhi kebutuhan cairan

Rasional : Motivasi untuk memenuhi kebutuhan cairan hariannya.

  1. Berikan sejumlah cairan IV sesuai indikasi

Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif

 

 Dx 2: Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan Penurunan komponen   seluler yang di butuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrien ke sel.

Tujuan      :Tidak terjadi Perubahan perfusi jaringan selama perawatan perdarahan      

kriteria hasil:-Hb dalam batas normal

                      -turgor kulit baik,vital sign dalam batas normal

                      -tidak ada mual muntah

                      -tidak ada perdarahan

                       

Intervensi :

  1. Kaji tanda vital, warna kulit, ujung jari

Rasional : Memberikan informasi mengenai perfusi

  1. Pertahankan suhu lingkungan dan tubuh.

Rasional : Memperlancar vaskularisasi kejaringan perifer.

  1. Nilai hasil lab.HB/HT dan jumlah SDM GDA.

Rasional : Mengidentifikasi/memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan.

  1. Berikan sel darah merah seuai program terapi.

Rasional : Memaksimalkan transportasi oksigen kejaringan

 

Dx 3 : Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi penyakitnya.

ü  Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien tidak merasa cemas, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat

ü  Kriteria hasil: – klien menjadi tenang

                      -klien dapat memahami informasi tentang penyakitnya

                      -klien  dapat menerima kondisinya.

ü  Intervensi :

  1. Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit

Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas

  1. Kaji derajat kecemasan yang dialami klien

Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penilaian objektif klien tentang penyakit

  1. Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan

Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien

  1. Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama

Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan

  1. Terangkan hal-hal seputar Molahidatidosa yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga

  Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.

 

Dx 4 : Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab.

ü  Tujuan      :Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan

ü  kriteria hasil: TTV dalam batas normal, Ekspresi tenang, Hasil laboraturium dalam batas normal.

ü  Intervensi :

a.Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau

Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi

b. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan

Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar.

c .Lakukan perawatan vulva

Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.

d. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda infeksi

Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi

e .Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama selama masa perdarahan

Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

  1. Batasi pengunjung dan ajari pengunjung untuk mencuci tangan yang baik.

Rasional : Mencegah cross infeksi.

  1. Observasi suhu tubuh.

Rasional : Mengetahui infeksi lanjut.

 

 

 

Dx 5 : Resiko kurangnya kebutuhan nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah yang berlebihan.

ü  Tujuan :
Nutrisi kebutuhan harian klien akan terpenuhi.

ü  Kriteria hasil:- Nafsu makan meningkat
                       –  Porsi makan dihabiskan

ü  Intervensi :
a. Kaji status nutrisi klien
   Rasional :
   Sebagai awal untuk menetapkan rencana pemberian nutrisi

b. Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering
    Rasional :
    Makan sedikit demi sedikit tapi sering, dapat membantu untuk                    meminimalkan anoreksia
c. Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi
Rasional :
Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien
d. Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional :
Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi
e. Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan, anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien
Rasional :
Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan

5.4  Implementasi

Dx 1 : Devisit Volume Cairan berhubungan dengan Perdarahan

 

Waktu

Implementasi

Hasil

08.00

 

 

08.15

 

 

08.20

 

 

 

08.30

  1. Mengkaji kondisi status hemodinamika klien.
  2. Mengobservasi Nadi dan Tensi Klien.
  3. Mengukur jumlah intake dan output, menerangkan bahaya pengeluaran cairan yang berlebihan.
  4.  Menganjurkan klien cukup banyak minum dan makan,   mengajarkan cara menentukan jumlah minum yang diperlukan selama perdarahan.
  5. Memberikan sejumlah cairan IV sesuai indikasi dokter

.

  1. Perdarahan merah segar bergumpal :100cc
  2. TD:110/80, nadi:80x/menit
  3. Intake:1200cc, output: 1300cc, dan pasien telah memahami bahaya dari pengeluaran cairan yang berlebihan.
  4. Pasien menyatakan diri akan banyak minum dan makan.
  5. Memberikan cairan Nacl o,9% ,1000 ml/hari

 

Dx 2: Perubahan perfusi jaringan berhubungan penurunan komponen seluler yang dibutuhkan untuk pengiriman oksigen/ nutrien ke sel akibat perdarahan

Waktu

implementasi

Hasil

08.30

  1. Mengaji tanda-tanda vital, warna kulit, ujung jari
  2. Mempertahankan suhu lingkungan dan tubuh
  3. Menilai hasil lab. HB/HT dan jumlah SDM GDA
  4. Memberikan tablet Fe 500 mg/hari sesuai advise dokter
  1. TD: 110/80, nadi: 80x/menit, RR: 20x/menit, suhu: 37C
  2. Pasien agak pucat, CRT: 3 detik
  3. Hb: 10 gr%

 

 

Dx 3 : Cemas berhubungan dengan  kurang pengetahuan

Waktu

Implementasi

Hasil

09.00

1.      Mengkaji tingkat pengetahuan atau persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit

  1. Mengkaji derajat kecemasan yang dialami klien
  2. Bantu Klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
  3. Menerapkan bahwa ibu saat ini sebenarnya hamil gelembung-gelembung anggur.
  4. Menerangkan agar ibu banyak istirahat

 

 

 

  1. Pasien dan keluarga belum mengetahui bahwa ibu hamil gelembung-gelembung mola.
  2. Setelah diberikan penjelasan tentang penyakitnya ibu memahami kondisi penyakitnya.
  3. Ibu menyatakan mau banyak istirahat.

 

 

 

 

 

 

 

Dx 4: Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab

waktu

Implementasi

Hasil

09.30

  1. Mengkaji kondisi keluaran/dishart yang keluar; jumlah, warna dan bau
  2. Meneranakan kepada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan
  3. Melakukan  perawatan vulva
  4. Menerangkan kepada klien cara mengidentifikasi tanda infeksi
  5. Menganjurkan pada suami untuk tidak melaukan hubungan senggama selama masa perdarahan
  6. Membatasi klien dan mengajari klien untuk mencuci tangan yang baik

1.      Perdarahan pervaginam warna merah segar bergumpal, peradarahan pervaginam 100cc.

  1. Setelah diberikan penjelasan, klien mengetahui tentang penting perawatan vulva hygiene.
  2. Setelah diberikan penjelasan, klien mengetahui tentang cara mengidentifikasi tanda-tanda infeka dan harus segera lapor ke dokter/perawat.
  3. Setelah dilakukan tindakan vulva hygiene, vulva klien bersih
  4. Suhu 37C

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dx 5 : Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah berlebihan

Waktu

implementasi

Hasil

10.00

1.      Mengkaji status nutrisi klien.

  1. Menganjurkan klien makan sedikit demi sedikit tapi sering
  2. Menganjurkan klien untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi
  3. Menimbang berat badan klien sesuai indikasi
  4. Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan, anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien

 

1.BB: 55 kg, TB: 164 cm, albumin: 4 gr/dl, Hb: 10 %

2.klien menyatakan mau makan sedikit dan sering dan juga bervariasi jenis makanan

3.keluarga klien membawakan makanan kesukaan klien yang memenuhi standar nutrisi dan zat gizi.

 

 

5.5  Evaluasi

Dx 1 : Devisit Volume Cairan berhubungan dengan Perdarahan pervaginam.

                 S

             O

A

P

Klien menyatakan banyak minum

-Vol darah + 100cc keluar, warna merah segar

bergumpal

-TTV: TD:110/80

          Nadi:80x/menit

Suhu: 37C

Rr:20x/menit

–          Mukosa:agak lembab

–          Turgor kulit:membaik

Masalah teratasi sebagian

Lanjutkan intervensi 2, 3, 4,5

 

 

 

 

Dx 2: Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang dibutuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel akibat perdarahan.

S

O

A

P

–          Klien mengatakan badannya tidak lemah lagi

–          Hb:10gr%

–          Turgor kulit:membaik

–          TTV: Td: 110/80, nadi: 80x/menit, suhu: 37C, rr:20x/menit

–          Mual muntah: 1x/hari

–          Perdarahan:100cc/hari

Masalah teratasi sebagian

Lanjutkan intervensi

 

      Dx 3 :Cemas berhubungan dengan  kurang pengetahuan.

S

O

A

P

–          Klien megerti bahwa dirinya hamil gelembung-gelembung anggur dan harus dikuret

–          Klien menyatakan bahwa ia banyak istirahat

–          Klien tampak tenang

–          Klien menerima kondisinya

Masalah teratasi

Intervensi dihentikan

 

 

 

 

 

Dx 4: Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab.

S

O

A

P

–          Klien menyatakan jumlah perdarahannya berkurang dan rajin melakukan perawatan vulva hygiene sendiri

–          TTV: Td:110/80, nadi: 80x/menit, suhu: 37C, rr: 20x/menit

–          Ekspresi wajah: pasien tampak tenang

–          Tidak ada tanda-tanda infeksi (tidak demam, vulva tidak merah, tidak bengkak, tidak keluar nanah)

Masalah teratasi

Intervensi dihentikan

 

Dx 5: Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah berlebihan.

S

O

A

P

–          klien menyatakan nafsu makan meningkat

–          klien menyatakan porsi makan dihabiskan (porsi sedikit tapi sering)

–          BB: 55kg

–          TB:164cm

–          Albumin: 4gr/dl

–          Hb: 10gr%

Masalah teratasi

Intervensi dihentikan

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB iV

                          Kesenjangan Teori dan Kasus

 

4.1 pembahasan kesenjangan teori dan kasus

Teori pada Pasien dengan Diagnosa Mola Hidatidosa, salah satu gejalanya pasien akan mengatakan nyeri. Tetapi pada Ny. N tidak timbul gejala nyeri pada kehamilan mola hidatidosa karena memang persepsi dan toleransi terhadap nyeri pada pasien satu dan pasien yang lain sangat berbeda.

Nyeri merupakan suatu perasaan tidak nyaman yang betul-betul subyektif dan hanya orang yang menderinya yang dapat menjelaskan serta mengevaluasinya. Nyeri dapat timbul oleh beberapa stimulasi tetapi reaksi terhadap nyeri tidak dapat diukur dengan obyektif. Dan respon seseorang terhadap nyeri dipengaruhi oleh emosi, tingkat kesadaran, latar belakang budaya, pengalaman masa lalu tentang nyeri dan pengertian nyeri, sehingga dapat menganggu kemampuan seseorang untuk beristirahat, konsentrasi serta kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan (Barbara Engram, 1999).

Intensitas nyeri dapat ditemukan dengan berbagai cara salah satunya adalah bertanya kepada klien tentang nyeri atau ketidaknyamanan. Metode lain adalah bertanya kepada klien untuk mengurangi bagaimana gawatnya nyeri yang mendatangkan ketidaknyamanan dengan menggunakan skala 0 sampai 10. dimana skala 0-3 ringan, skala 4-6 nyeri sedang, skala 7-10 nyeri berat (Barbara C. Long, 1996).

Teori pada Pasien dengan Diagnosa Mola Hidatidosa, salah satu gejalanya pasien akan mengatakan nyeri, dan masalah nyeri ini dikaji dengan menggunakan pendekatan P, Q, R, S, T. Dimana P : nyeri meningkat ketika darah keluar pervaginam, Q : frekuensi nyeri sering, berlangsung sebentar dan terasa seperti diremas-remas, R : nyeri terjadi pada abdomen bagian bawah, S : skala nyeri 4 – 5 (sedang), T : nyeri berlangsung sebentar tapi sering ketika darah keluar pervaginam. Serta klien tampak menahan sakit ketika perutnya dipalpasi. Kondisi ini akan menyebabkan masalah keperawatan gangguan rasa nyaman nyeri.

Untuk mengatasi masalah nyeri ini pada klien dengan Mola Hidatidosa, intervensi dapat dibuat dengan tujuan agar nyeri berkurang atau hilang dengan jangka waktu 2 x 24 jam dengan kriteria hasil ekspresi wajah tenang, rileks, pasien tidak mengeluh nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan. Adapun perencanaan yang dibuat adalah sebagai berikut :

  

a.       tentukan sifat, lokasi dan Durasi nyeri, hal ini dilakukan untuk membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapi

b.       kaji stress psikologis klien / pasangan dan respon emosional terhadap kejadian, hal tersebut dilakukan karena ansietas sebagai respon terhadap situasi darurat dapat memperberat derajat ketidaknyamanan

c.        ajarkan tehnik relaksasi dan nafas dalam hal tersebut dilakukan untuk memfokuskan kepada perhatian tertentu atau menurunkan ketegangan otot

d.      berikan lingkungan yang tenang dan aktivitas untuk mengalihkan rasa nyeri rasionalnya dengan lingkungan tenang maka dapat membantu dalam menurunkan tingkat ansietas dan karenanya mereduksi ketidaknyamanank

e.       kolaborasi untuk menghilangkan nyeri.

 

Dalam pelaksanaannya, perawat dapat melakukan semua perencanaan yang telah dibuat, hal ini didukung dengan adanya peran aktif pasien dan keluarga mengikuti proses keperawatan dan keinginan yang besar untuk segera sembuh dari penyakitnya.

Pada Ny. N tidak timbul gejala nyeri pada kehamilan mola hidatidosa karena memang persepsi dan toleransi terhadap nyeri pada pasien satu dan pasien yang lain sangat berbeda. Inilah salah satu alasan respon nyeri perlu dikaji dengan teliti. Penyebab spesifik mungkin sulit ditemukan, namun umumnya sifat dan letak lesi yang mendatangkan nyeri dapat ditentukan dari data-data klinis. Dua macam serabut saraf meneruskan rangsangan nyeri : pada kulit dan otot. Serabut A meneruskan rasa nyeri tajam setempat dan serabut C dari visceral uterus dan otot-otot kurang meneruskan rasa nyeri tumpul setempat. Serabut-serabut aferen ini mempunyai badan-badan sel disebelah dorsal akar ganglion, beberapa akson menyilang garis tengah dan naik ke medulla, otak tengah dan tallamus. Rasa nyeri dirasakan di korteks girus post sentralis, yang dapat menerima impuls yang datang dari dua sisi tubuh. Rasa tidak nyeri pada pasien karena impuls tida dapat diteruskan ke medulla, otak tengah dan tallamus.

     Rangsangan yang biasanya mendatangkan rasa nyeri pada uterus adalah ketegangan dan kerengangan. Usia kehamilan pada Ny. N 15 minggu, 1 hari dan TFU 3 jari dibawah pusat. Memang TFU lebih besar dari usia kehamilan normal yang seharusnya pada usia 16 minggu TFU berada pada setengah pusat dan sympisis pubis. Tapi otot-otot abdomen Ny. N tidak terlalu meregang sehinnga Ny. N tidak merasakan nyeri. Factor psikologis Pasien juga sangat penting menentukan rasa nyeri.

4.2 Kesimpulan

     Mola Hidatidosa ditandai oleh kelainan vili korialis, yang terdiri dari proliferasi trofoblastik dangan derajat yang bervariasi dan edema sroma vilus. Mola biasanya menempati kavum uteri, tetapi kadang-kadang tumor ini ditemukan dalam tuba falopii dan bahkan dalam ovarium. Perkembangan penyakit trofoblastik ini amat menarik, dan ada tidaknya jaringan janin telah digunakan untuk menggolongkannya menjadi bentuk mola yang komplet (klasik) dan parsial (inkomplet).

      Kehamilan mola hidatidosa merupakan kelainan kehamilan yang banyak terjadi pada multipara yang berumur 35-45 tahun.Mengingat banyaknya kasus mola hidatidosa pada wanita umur 35-45 tahun sangat diperlukan suatu penanggulangan secara tepat dan cepat dengan penanganan tingkat kegawatdaruratan obstetric. Observasi dini sangat diperlukan untuk memberikan pertolongan penanganan pertama sehingga tidak memperburuk keadaan pasien. Penerapan asuhan keperawatan sangat membantu dalam perawatan kehamilan mola hidatidosa karena kehamilan ini memerlukan perawatan dan pengobatan secara kontinyu sehingga keluarga perlu dilibatkan agar mampu memberikan perawatan secara mandiri.Pendidikan kesehatan sangat diperlukan mengingat masih banyaknya wanita-wanita khususnya yang berumur 35-45 tahun yang kurang mengerti tentang kehamilan mola hidatidosa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTar Pustaka

 

Bagian obstetric & ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.  1984.  Obstetri Patologi.  Bandung :  Elstar Offset

Bobak, dkk. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4. Jakarta : EGC

Cunningham, F Garry, dkk. 1995. Obstetri Williams. Jakarta : EGC

Johnson & Taylor. 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta : EGC

Mochtar, Rustam . 1998. Sinopsis Obstetri, Jilid I. Jakarta : EGC

Taber Ben-Zion. 1994. Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC

 

 KATA PENGANTA…

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur atas karunia yang Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kami, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Makalah yang kami susun ini mengenai Keperawatan Maternitas yang berjudul Kehamilan Ektopik. Salah satu tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk pengembangan daya penalaran untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi dalam suatu pembelajaran.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Kami juga mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan makalah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,

 

 

 

 

 

Surabaya,             Februari 2012

 

 

 

 

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar ……………………………………………………………….         i

Daftar Isi …………………………………………………………………….           ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang ………………………………………………………… 1

1.2  Rumusan Masalah ……………………………………………………..  2

1.3  Tujuan …………………………………………………………………. 2

1.4  Manfaat ………………………………………………………………..3

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Teori ………………………………………………….   4

2.1.1 Pengertian ………………………………………………………  4

2.1.2 Etiologi …………………………………………………………. 4

2.1.3 Patofisiologi ……………………………………………………. 5         

2.1.4 Manifestasi Klinis ………………………………………………  6

2.1.5 Komplikasi……………………………………………… ……… 6         

2.1.6  Diagnosis ………………………………………………………. 7

2.1.7 Penatalaksanaan Medis ………………………………………..   8

2.2 Konsep Dasar Keperawatan

2.2.1 Pengkajian Keperawatan……………………………………….   10

2.2.2 Analisa Data ……………………………………………………  15

2.2.3 Diagnosa Keperawatan ………………………………………..   15       

2.2.4 Intervensi Keperawatan …………………………………            ………18

BAB III Tinjauan Kasus

3.1 Pengkajian Keperawatan ……………………………………………. 19

3.2 Analisa Data ………………………………………………………… 20

3.3 Diagnosa Keperawatan ……………………………………………..   25

3.4 Intervensi Keperawatan …………………………………………….   27

3.5 Implementasi Keperawatan …………………………………………  27

3.6 Evaluasi Keperawatan ……………………………………………..    30

BAB IV Kesenjangan Teori dan Kasus

4.1 Pembahasan …………………………………………………………32

4.2 Kesimpulan ………………………………………………………….35

Daftar Pustaka …………………………………………………………………….  . iii

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

            Plasenta merupakan suatu organ penting pada ibu hamil yang mulai terbentuk lengkap pada kehamilan ± 16 minggu. Plasenta dikatakan organ penting karena sebagai alat yang memberi makan pada  janin, sebagai alat ekskresi yang mengeluarkan sisa metabolisme sebagai alat respirasi,  sebagai alat menyalurkan pelbagai antibody  ke janin, sebagai pembentuk hormon sehingga bila terjadi gangguan pada plasenta maka akan berakibat fatal pada janin.

            Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.

            Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

            Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.

 

            Solusio plasenta merupakan penyakit kehamilan yang relatif umum dan dapat secara serius membahayakan keadaan ibu. Seorang ibu yang pernah mengalami solusio plasenta, mempunyai resiko yang lebih tinggi mengalami kekambuhan pada kehamilan berikutnya. Solusio plasenta juga cenderung menjadikan morbiditas dan bahkan mortabilitas pada janin dan bayi baru lahir.

1.2              Rumusan Masalah

  1. Apa definisi solusio plasenta ?
  2. Apa etiologi solusio plasenta?
  3.  Bagaimana patofisiologi dari solusio plasenta ?
  4.  Apa saja klasifikasi dari solusio plasenta ?
  5.  Apa saja manifestasi klinis dari solusio plasenta ?
  6.  Apa saja pemeriksaan penunjang untuk pasien dengan solusio plasenta ?
  7.  Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan solusio plasenta ?

1.3              Tujuan

  1. Tujuan umum.

Tujuan umum penulisan makalah ini adalah setelah mengikuti mata kuliah ini  mahasiswa diharapkan dapat memberikan Askep pada pasien dengan Solusio Plasenta dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan

  1. Tujuan Khusus.
  • Menyebutkan pengertian, etiologi dan patofisiologi solusio plasenta
  • Mengidentifikasi jenis dan manifestasi klinik solusio plasenta
  • Membuat diagnosa keperawatan berdasarkan DS dan DO yang berhubungan dengan solusio plasenta
  • Membuat rencana Askep berdasarkan masalah yang ditemukan
  • Melaksanakan rencana keperawatan dengan menerapkan tindakan keperawatan yang tepat.

1.4              Manfaat

Manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu memberikan sidikit informasi kepada mahasiswa tentang solusio plasenta sampai asuhan keperawatan pasien dengan solusio plasenta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1       KONSEP DASAR TEORI

2.1.1    Pengertian

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebelum janin lahir, dengan masa kehamilan 22 minggu / berat janin di atas 500 gr.
Biasanya terjadi dalam triwulan ketiga, walaupun dapat pula terjadi setiap saat dalam kehamilan. Apabila terjadi sebelum kehamilan 20 minggu, mungkin akan dibuat diagnosis abortus imminens. Plasenta dapat terlerpas seluruhnya : solusio plasenta totalis atau sebagian, solusio plasenta parsialis atau hanya sebagian kecil pinggir plasenta yang sering disebut ruptura sinus marginalis. Perdarahan yang terjadi karena terlepasnya plasenta dapat menyelundup keluar dibawah selaput ketuban yaitu pada solusio plasenta dengan perdarahan keluar atau tersembunyi dibelakang plasenta yaitu pada solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi atau kedua-duanya atau perdarahannya menembus selaput ketuban masuk kedalam kantong ketuban.

 

2.1.2        Klasifikasi Solusio Plasenta

  1. 1.            Klasifikasi solusio plasenta secara klinis,

v   Solusio plasenta ringan

Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak akan menyebabkan perdarahan pervaginan berwarna kehitaman dan sedikit. Perut terasa agak sakit atau terus menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah diraba.

v   Solusio plasenta sedang

Plasenta telah terlepas lebih dari seperempat, tanda dan gejala dapat timbul perlahan atau mendadak dengan gejala sakit terus menerus lalu perdarahan pervaginan. Dinding uterus teraba tegang.

 

 

v   Solusio plasenta berat

Plasenta telah terlepas lebih dari dua per tiga permukaannnya. Terjadi sangat tiba-tiba. Biasanya ibu telah jatuh dalam keadaan syok dan janinnya telah meninggal. Uterusnya sangat tegang seperti papan dan sangat nyeri. Perdarahan pervaginam tampak tidak sesuai dengan keadaan syok ibu, terkadang perdarahan pervaginam mungkin saja belum sempat terjadi. Pada keadaan-keadaan di atas besar kemungkinan telah terjadi kelainan pada pembekuan darah dan kelainan/gangguan fungsi ginjal

  1. 2.            Klasifikai solusio plasenta  sesuai dengan derajat terlepasnya plasenta

v  Solusio plasenta partsialis

Bila hanya sebagaian plasenta terlepas dari tepat pelekatnya.

v  Solusio plasenta totalis

Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat pelekatnya.

v  Prolapsus plasenta

Bila plasenta turun kebawah dan dapat teraba pada pemeriksaan dalam.

2.1.3        Etiologi

Hingga kini penyebabnya belum diketahui dengan jelas. Namun keadaan berikut ini dikemukakan sebagai faktor – faktor etiologi nya :

v  Trauma.

v  Tali pusat yang terlalu pendek.

v  Hipertensi kronik.

v  Tekanan pada vena kava inferior akibat uterus membesar.

v  Defisiensi gizi.

v  Pre – eklampsia.

v  Multiparitas.

 

 

2.1.4    Patofisiologi

Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.

Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban.

2.1.5    Manifestasi klinik

  1. Solusio Plasenta Ringan.

v  Ibu maupun janin tidak apa – apa.

v  Perut mungkin terasa agak sakit.

v  Terjadi perdarahan pervaginam, warnanya kehitam – hitaman dan sedikit sekali (< 100 ml).

v  Bagian-bagian janin masih teraba.

  1. Solusio Plasenta Sedang.

v  Tanda dan gejalanya dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta    ringan, kemudian mendadak dengan gejala sakit perut yang terus menerus dan disusul dengan perdarahan pervaginam.

v  Perdarahan (> 100ml, < 500ml).

v  Ibunya syok.

v  Janinnya dalam keadaan gawat.

v  Janin sukar teraba

v  Tanda-tanda persalinan telah ada.

 

 

  1. Solusio Plasenta Berat.

v  Ibunya syok hipovolemik.

v  Janinnya telah meninggal.

v  Uterus sangat tegang seperti papan dan sangat nyeri.

v  Kelainan pembekuan darah.

 

2.1.6     Komplikasi

Komplikasi pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung.

Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:

  1. Perdarahan

Perdarahan pada solusio plasenta dapat terjadi karena kontraksi uterus tidak kuat lagi sehingga perdarahan hampir tidak dapat dicegah. Kontraksi uterus tidak kuat itu disebabkan oleh karena ekstravasasi darah diantara otot – otot miomemetrium

  1. Kelainan pembekuan darah.

Kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hiperfibrinogenemi. Terjadinya hiperfibrinogenemi diterangkan oleh Page (1951) dan Schneider (1955) bahwa dengan masuknya tromboplastin kedalam peredaran darah ibu akibat terjadinya pembekuan darah retroplasenter, sehingga terjadi pembekuan darah intravaskuler dimana-mana yang akan menghabiskan factor – faktor pembekuan darah lainnya terutama fibrinogen. Kadar fibrinogen plasma normal ibu hamil cukup bulan: 450 %, berkisar antara 300-700 mg %.

  1. Oliguria.

Terjadinya oliguria belum diterangkan dengan jelas. Sangat mungkin berhubungan dengan hipovolemi dan penyempitan darah ginjal akibat perdarahan yang banyak. Ada pula yang menerangkan bahwa tekanan intrauterine  yang meninggi karena solusio plasenta menimbulkan refleks penyempitan pembuluh darah ginjal. Kelainan pembekuan darah berperan pula dalam terjadinya kelainan fungsi ginjal ini.

  1. Gawat janin.

Jarang kasus solusio plasenta yang datang ke RS dengan janin yang masih hidup. Kalaupun didapatkan janin masih hidup, biasanya keadaannya sudah sedemikian gawat, kecuali pada kasus solusio plasenta ringan.

2.1.7    Diagnosis

Keluhan dan gejala pada solusio plasenta dapat bervariasi cukup luas. Sebagai contoh, perdarahan eksternal dapat banyak sekali meskipun pelepasan plasenta belum begitu luas sehingga menimbulkan efek langsung pada janin, atau dapat juga terjadi perdarahan eksternal tidak ada, tetapi plasenta sudah terlepas seluruhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung dari keadaan ini. Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi mengandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar bagi ibu, hal ini bukan saja terjadi akibat kemungkinan koagulopati yang lebih tinggi, namun juga akibat intensitas perdarahan yang tidak diketahui sehingga pemberian transfusi sering tidak memadai atau terlambat.

Berdasarkan kepada gejala dan tanda yang terdapat pada solusio plasenta klasik umumnya tidak sulit menegakkan diagnosis, tapi tidak demikian halnya pada bentuk solusio plasenta sedang dan ringan. Solusio plasenta klasik mempunyai ciri-ciri nyeri yang hebat pada perut yang datangnya cepat disertai uterus yang tegang terus menerus seperti papan, penderita menjadi anemia dan syok, denyut jantung janin tidak terdengar dan pada pemeriksaan palpasi perut ditemui kesulitan dalam meraba bagian-bagian janin.

 

2.1.8        Penatalaksanaan

v   Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi .

v   Sebelum dirujuk , anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri , tidak melakukan senggama , menghindari peningkatan tekanan rongga perut

v   Pasang infus cairan Nacl fisiologi . Bila tidak memungkinkan . berikan cairan peroral .

v   Pantau tekanan darah & frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi / syok akibat perdarahan . pantau pula  DJJ &  pergerakan janin .

v   Bila terdapat renjatan , segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah , bila tidak teratasi , upayakan penyelamatan optimal . bila teratsi perhatikan keadaan janin .

v    Setelah renjatan diatasi pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama . bila renjatan tidak dapat diatasi , upayakan tindakan penyelamatan optimal .

v   Setelah syok teratasi dan janin mati , lihat pembukaan . bila lebih dari 6 cm pecahkan ketuban lalu infus oksitosin . bila kurang dari 6 cm lakukan seksio sesarea

v   Bila tidak terdapat renjatan dan usia gestasi kurang dari 37 minggu / taksiran berat janin kurang dari 2.500 gr, lakukan persalinan pervaginam, jika diperkirakan berlangsung lama, maka lakukan partus perabdominam.

Penganganan berdasarkan berat / ringannya penyakit yaitu :

a)            Solusi plasenta ringan .

–          Ekspektatif , bila ada perbaikan ( perdarahan berhenti , kontraksi uterus tidak ada , janin hidup ) dengan tirah baring atasi anemia , USG & KTG serial , lalu tunggu persalinan spontan.

–          Aktif , bila ada perburukan ( perdarahan berlangsung terus , uterus berkontraksi , dapat mengancam ibu / janin ) usahakan partus pervaginam dengan amnintomi / infus oksitosin bila memungkinan . jika terus perdarahan skor pelvik kurang dari 5 / ersalinan masih lama , lakukan seksi sesarea .

b)           Slusio plasenta sedang / berat .

–          Resusitasi cairan .

–          Atasi anemia dengan pemberian tranfusi darah .

–          Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berkurang dalam 6 jam perabdominam bila tidak dapat renjatan , usia gestasi 37 minggu / lebih / taksiran berat janin 2.500 gr / lebih , pikirkan partus perabdominam bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama .

 

2.2      KONSEP DASAR KEPERAWATAN

2.2.1        Pengkajian
a.     Biodata

  Pada biodata yang perlu dikaji berhubungan dengan solusio plasenta antara lain

1)      Nama
Nama dikaji karena nama digunakan untuk mengenal dan merupakan identitas untuk membedakan dengan pasien lain dan menghindari kemungkinan tertukar nama dan diagnosa penyakitnya.

2)      Jenis kelamin

Pada solusio plasenta diderita oleh wanita yang sudah menikah dan mengalami kehamilan.

3)      Umur

Solusio plasenta cenderung terjadi pada usia lanjut (> 45 tahun) karena terjadi penurunan kontraksi akibat menurunnya fungsi hormon (estrogen) pada masa menopause.

4)      Pendidikan

Solusio plasenta terjadi pada golongan pendidikan rendah karena mereka tidak mengetahui cara perawatan kehamilan dan penyebab gangguan kehamilan.

5)      Alamat

Solusio plasenta terjadi di lingkungan yang jauh dan pelayanan kesehatan, karena mereka tidak pernah dapat pelayanan kesehatan dan pemeriksaan untuk kehamilan.

6)      Riwayat persalinan

Riwayat persalinan pada solusio plasenta biasanya pernah mengalami pelepasan plasenta.

7)       Status perkawinan

Dengan status perkawinan apakah pasien mengalami kehamilan (KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan.

 

 

8)      Agama

Untuk mengetahui gambaran dan spiritual pasien sebagai memudahkan dalam memberikan bimbingan kegamaan.

9)      Nama suami.

Agar diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam pembiayaan dan memberi persetujuan dalam perawatan.

10)  Pekerjaan

Untuk mengetahui kemampuan ekonomi pasien dalam pembinaan selama istrinya dirawat.

  1. Keluhan utama

–                                  Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri

–       Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga rahim tegang.

–                                  Perdarahan yang berulang-ulang.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darh, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya, pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.

  1. Riwayat penyakit masa lalu

Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi / pre eklampsi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim feulidli.

  1. Riwayat psikologis

Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.

  1. Pemeriksaan fisik

1)                              Keadaan umum

  • Kesadaran : composmetis s/d coma
  • Postur tubuh : biasanya gemuk
  • Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa
  • Raut wajah : biasanya pucat

2)      Tanda-tanda vital

  • Tensi : normal sampai turun (syok)
  • Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)
  • Suhu : normal / meningkat (> 37o c)
  • RR : normal / meningkat (> 24x/menit)

3)                                          Pemeriksaan Kepala

  • kulit kepala biasanya normal / tidak mudah mengelupas rambut biasanya rontok / tidak rontok.,
  • Muka : biasanya pucat, tidak oedema ada cloasma,
  • Hidung : biasanya ada pernafasan cuping hidung,
  • Mata : conjunctiva anemis

4)      Pemeriksaan  Dada

 Bentuk dada normal, RR meningkat, nafas cepat da dangkal, hiperpegmentasi aerola.

5)      Pemeriksaan  Abdomen

  • Inspeksi : perut besar (buncit), terlihat etrio pada area perut, terlihat linea alba dan ligra
  • Palpasi: rahim keras, fundus uteri naik
  • Auskultasi : tidak terdengar DJJ, tidak terdengar gerakan janin.

6)                                          Pemeriksaan Genetalia

Hiperpregmentasi pada vagina, vagina berdarah / keluar darah yang merah kehitaman, terdapat farises pada kedua paha / femur.

7)      Pemeriksaan ekstimitas

Akral dingin, tonus otot menurun.

  1. Pemeriksaan laboratorium

Darah perifer lengkap, fungsi hemostasis, fungsi hati, atau fungsi ginjal (disesuaikan dengan beratnya penyulit atau keadaan pasien). Lakukan pemeriksaan dasar : hemoglobin, hematokrit, trombosit, waktu pembekuan darah, waktu protrombin, waktu tromboplastin parsial, dan elektrolit plasma.

  1. Pemeriksaan penunjang

–             Darah : Hb, hemotokrit, trombosit, fibrinogen, elektrolit.

–             USG untuk mengetahui letak plasenta,usia gestasi, keadaan janin, dan menilai implantasi plasenta dan seberapa luas terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya, biometri janin, indeks cairan amnion, kelainan bawaan dan derajat maturasi plasenta.

–             Kardiotokografi : pada kehamilan di atas 28 minggu.

 

2.2.2        Diagnosa Keperawatan

  1.  Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan conjungtiva anemis , acral dingin , Hb turun , muka pucat & lemas .
  2. Resiko tinggi terjadinya letal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang .
  3.  Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus di tandai terjadi distress / pengerasan uterus , nyeri tekan uterus .
  4.  Gangguan psikologi ( cemas ) berhubungan dengan keadaan yang dialami .
  5. Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan .
  6.  Kurang pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi .

2.2.3        Intervensi Keperawatan dan implementasi

Rencana keperawatan tidak hanya terdiri dari tindakan yang dilakukan karena pesanan/ketentuan medis, tetapi juga koordinasi tertulis dari perawatan yang diberikan oleh semua disiplin pelayanan kesehatan yang berhubungan. Tindakan keperawatan mandiri adalah bagian integral dari proses ini. Tindakan kolaboratif didasarkan pada aturan medis sertan anjuran atau pesanan dari disiplin lain yang terlibat dengan asuhan terhadap klien. Pada bagian ini, mengkomunikasikan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai hasil klien yang diinginkan. Rasional untuk intervensi perlu logis dan dapat dikerjakan dengan tujuan memberikan perawatan individual. Tindakan mungkin mandiri atau kolaboratif dan mencakup pesanan dari keperawatan, kedokteran, dan disiplin lain (Doenges, 2001).

Dx I :   Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai  dengan conjunctiva anemis, acrar dingin, Hb turun, muka pucat, lemas.

–          Tujuan : suplai / kebutuhan darah kejaringan terpenuhi

–          Kriteria hasil : Conjunctiva tidak anemis, acral hangat, Hb normal, muka tidak pucat, tidak lemas.

Intervensi :

  1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien

R/: pasien percaya tindakan yang dilakukan

  1. Jelaskan penyebab terjadi perdarahan

R/ : pasien paham tentang kondisi yang dialami

  1. Monitor tanda-tanda vital

R/ : tensi, nadi yang rendah, RR dan suhu tubuh yang tinggi menunjukkan gangguan sirkulasi darah.

  1. Kaji tingkat perdarahan setiap 15 – 30 menit

R/ : mengantisipasi terjadinya syok

  1. Catat intake dan output

R/ : produsi urin yang kurang dari 30 ml/jam menunjukkan penurunan fungsi ginjal.

  1. Kolaborasi pemberian cairan infus isotonic

R/: cairan infus isotonik dapat mengganti volume darah yang hilang akiba perdarahan.

  1. Kolaborasi pemberian tranfusi darah bila Hb rendah

R/ : tranfusi darah mengganti komponen darah yang hilang akibat perdarahan.

Dx II : Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan dengan perfusi darah ke placenta berkurang.

–          Tujuan : tidak terjadi fetal distress

–          Kriteria hasil : DJJ normal / terdengar, bisa berkoordinasi, adanya pergerakan bayi, bayi lahir selamat.

 

 

 Intervensi

  1. Jelaskan resiko terjadinya dister janin / kematian janin pada ibu

R/ : kooperatif pada tindakan

  1. Hindari tidur terlentang dan anjurkan tidur ke posisi kiri

R/ : tekanan uterus pada vena cava, menyebabkan  aliran darah kejantung menurun sehingga terjadi gangguan perfusi jaringan.

  1. Observasi tekanan darah dan nadi klien

R/ : penurunan dan peningkatan denyut nadi terjadi pad sindroma vena cava sehingga klien harus di monitor secara teliti.

  1. Oservasi perubahan frekuensi dan pola DJ janin

R/ : penurunan frekuensi plasenta mengurangi kadar oksigen dalam janin sehingga menyebabkan perubahan frekuensi jantung janin.

  1. Berikan O2 10 – 12 liter dengan masker jika terjadi tanda-tanda fetal distress

R/ : meningkat oksigen pada janin

 

Dx III : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uteres ditandai terjadi distrensi uterus, nyeri tekan uterus.

–          Tujuan : klien dapat beradaptasi dengan nyeri

–          Kriteria hasil :

  • Klien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri.
  • Klien kooperatif dengan tindakan yang dilakukan.

Intervensi

  1. Jelaskan penyebab nyeri pada klien

R/: dengan mengetahui penyebab nyeri, klien kooperatif terhadap tindakan

  1.  Kaji tingkat

R/ : menentukan tindakan keperawatan selanjutnya.

  1. Bantu dan ajarkan tindakan untuk mengurangi rasa nyeri.
    (Tarik nafas panjang (dalam) melalui hidung dan meng-hembuskan pelan-pelan melalui mulut.)
    R/
    : dapat mengalihkan perhatian klien pada nyeri yang dirasakan.
  2. Memberikan posisi yang nyaman (miring kekiri / kanan)

R/ : posisi miring mencegah penekanan pada vena cava.

  1. Berikan masage pada perut dan penekanan pada punggung

R/ : memberi dukungan mental.

  1. Libatkan suami dan keluarga

R/ : memberi dukungan mental.

Dx IV : Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan keadaan yang dialami

–          Tujuan : klien tidak cemas dan dapat mengerti tentang keadaannya.

–          Kriteria hasil : penderita tidak cemas, penderita tenang, klie tidak gelisah.

 Intervensi

  1. Anjurkan klilen untuk mengemukakan hal-hal yang dicemaskan.

R/ : dengan mengungkapkan perasaannyaaka mengurangi beban pikiran.

  1. Ajak klien mendengarkan denyut jantung janin

R/ : mengurangi kecemasan klien tentag kondisi janin.

  1.  Beri penjelasan tentang kondisi janin

R/ : mengurangi kecemasan tentang kondisi / keadaan janin.

  1. Beri informasi tentang kondisi klien

R/ : mengembalikan kepercayaan dan klien.

  1. Anjurkan untuk manghadirkan orang-orang terdekat

R/: dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi klien

  1. Anjurkan klien untuk berdo’a kepada tuhan

R/ : dapat meningkatkan keyakinan kepada Tuhan tentang kondisi yang dilami.

  1. Menjelaskan tujuan dan tindakan yang akan diberikan

R/ : penderita kooperatif

 

 

Dx V: Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan

–          Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi

–          Kriteria hasil :

  • Perdarahan berkurang
  • Tanda-tanda vital normal
  • Kesadaran kompos metit

 Intervensi

  1.  Kaji perdarahan setiap 15 – 30 menit

R/: mengetahui adanya gejala syok sedini mungkin.

  1. Monitor tekanan darah, nadi, pernafasan setiap 15 menit, bila normal observasi dilakukan setiap 30 menit.

R/: mengetahui keadaan pasien

  1.  Awasi adanya tanda-tanda syok, pucat, menguap terus keringat dingin, kepala pusing.

R/ : menentkan intervensi selanjutnya dan mencegah syok sedini mungkin

  1.  Kaji konsistensi abdomen dan tinggi fundur uteri.

R/ : mengetahui perdarahan yang tersembunyi

  1.  Catat intake dan output

R/ : produksi urine yang kurang dari 30 ml/jam merupakan penurunan fungsi ginjal.

  1.  Berikan cairan sesuai dengan program terapi

R/ : mempertahanka volume cairan sehingga sirkulasi bisa adekuat dan sebagian persiapan bila diperlukan transfusi darah.

  1.  Pemeriksaan laboratorium hematkrit dan hemoglobin

R/ : menentukan intervensi selanjutnya.

Dx VI :     Kurangnya pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi

–          Tujuan : penderita dapat mengerti tentang penyakitnya.

–          Kriteria hasil : dapat menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan penyakitnya.

 

Intervensi

  1. Kaji tingkat pengetahuan penderita tentang keadaanya

R/ : menentukan intervensi keperawatan selanjutnya.

  1. Berikan penjelasan tentang kehamilan dan tindakan yang akan dilakukan.
    1. Pengetahua tentang perdarahan antepartum.
    2. Penyebab
    3. Tanda dan gejala
    4. Akibat perdarahan terhadap ibu dan janin
    5. Tindakan yang mungkin dilakukan

R/ : penderita mengerti dan menerima keadaannya serta pederita menjadi kooperatif.

 

2.2.5     Evaluasi

  • Ttv dalam batas normal.
  • Mukosa membran lembab.
  • Pasien tidak mengalami syok.
  • Tidak ada tanda-tanda perdarahan lagi.

 

2.2.6     Pendidikan kesehatan (HE)

  1. Ajarkan pada klien untuk melaporkan perdarahan yang tidak biasanya dan segera berobat ke Rumah Sakit.
  2. Berikan informasi untuk pertahankan posisi terlentang karena posisi ini mengurangi kompusi pada vena kava yang akan meningkatkan perfusi  pada fetal.
  3. Anjurkan pada klien agar jangan sampai terjadi trauma pada kehamilan seperti jatuh.
  4. Anjurkan klien untuk selalu memeriksa  kehamilan.

 

 

 

 

 

BAB III

TINJAUAN  KASUS

3.1       Contoh Kasus                                                   

Ny.M (45 tahun) datang ke RSIA bersama suaminya dengan membawa surat rujukan dari bidan. Tertulis disurat status obstetri G6P4A1H37 mg dengan susp.solusio plasenta. Saat wawancara, klien mengeluh mengalami perdarahan melalui vagina berwarna kehitaman sejak tadi malam, disertai nyeri dan kram pada perut yang terus menerus serta janin bergerak aktif. Klien berfikir akan segera melahirkan dan datang ke bidan dekat rumah keesokan paginya, tapi klien justru dirujuk ke RS

Klien menceritakan selama kehamilan ini baru memeriksakan kehamilannya sekali, yaitu pada saat dinyatakan (+) hamil 12 mg oleh bidan. Setelah itu tidak pernah lagi memeriksakan kehamilan karena ini bukan kehamilan yang pertama. Sebelum kehamilan ini, klien mempunyai riwayat perdarahan dan mengalami keguguran pada usia kehamilan 16 mg.

Selama pemeriksaan fisik perawat mencatat TTV sebagai berikut : TD=80/55 mmHg, N=110x/Mnt, P= 28x/Mnt, S= 36, uterus keras , tegang, seperti papan, nyeri tekan (+), TFU=36 cm, His (-), DJJ dan palpasi janin sulit. Klien terlihat pucat, lemah, tampak kesakitan, kulit teraba dingin, konjungtiva anemis, pembalut penuh dengan darah berwarna kehitaman.

 Klien kemudian melakukan pemeriksaan USG dan terlihat solusio plasenta partialis dengan hematoma, DJJ 82x/Mnt, aktifitas janin lemah, perdarahan aktif (+). Tertulis di surat status obstetric G6P4A1H37 minggu (gestasi ke 6, pastus 4 kali, abortus 1 kali dan sekarang usia kehamilan 37 minggu) dengan suspect solusio plasenta

 

 

 

3.2       PENGKAJIAN

            Tanggal masuk            : 11 juni 2009                          jam                  : 10 WIB

            Ruang                          : Antepartum                                       No. reg Med    :           –

Pengkajian                   : 11 juni 2009

  1.          I.            DATA SUBYEKTIF :
  2. 1.         BIODATA
    1. Nama         :Ny. M
    2. Umur         : 31 tahun
    3. Nama suami : Tn. H         
    4. Agama       : islam 
    5. Suku/bangsa : jawa /Indonesia       
    6. Pendidikan            : SMP
    7. Alamat      : Surabaya
    8. Diagnose   : susp.solusio plasenta
    9. 2.         RIWAYAT KEPERAWATAN/KESEHATAN
      1. Keluhan Utama:

Klien mengeluh mengalami perdarahan melalui vagina berwarna kehitaman ,sejak tadi malam, disertai nyeri dan kram pada perut yang terus menerus serta janin bergerak aktif.

  1. Riwayat keperawatan/ kesehatan sekarang:

Darah terlihat merah kehitaman ,yang keluar secar terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat.

  1. Riwayat keperawatan/ kesehatan masa lalu:

Sebelum kehamilan ini, klien mempunyai riwayat perdarahan dan mengalami keguguran pada usia kehamilan 16 mg, pada kehamilan yang ke- 4.

  1. Riwayat keperawatan/ kesehatan keluarga:

 Didalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit keturunan dan tidak ada yang menderita penyakit kronis yang menular termasuk PMS serta tidak ada yang melahirkan kembar.

  1. Riwayat keperawatan/ kesehatan lingkungan:

Lingkungan Sangat Mendukung, dengan kehamilan ibu.

  1. Riwayat psikososial:

–          Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan tetangga baik

–          Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.

  1. Latar belakang budaya:

Selama  hamil ibu tidak pernah minum jamu, ibu tidak pantang makan, tidak mengadakan acara tradisi budaya.

  1. Dukungan keluarga:

Ibu mendapat dukungan dari keluarga, terutama dari suami, sehingga ibu menjalakan masa kehamilannya dengan baik

  1. Riwayat kebidanan:

1)      Riwayat haid:

  • Menarche    :           ± 13 thn
  • Siklus          :           28 hari
  • Lamanya haid         :           3 – 4hari
  • Nyeri haid   :           tidak ada
  • Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT):        4 – 11 – 2008
  • Tafsiran Persalinan (TP):    11 – 8 – 2009 

2)      Riwayat perkawinan:  Menikah

3)      Riwayat kehamilan dan persalinan:

 

 

 

 

KEHAMILAN

PERSALINAN

NIFAS

ANAK

KB

NO

Suami ke

Keluhan

Usia kehamilan

Penolong

Cara persalinan

penyulit

 

sex

BBL

usia

 

1

Ke-1

 

16 minggu

 

Abortus

 

 

 

 

 

 

2

  Ke-1

Nyeri. Kram pd perut

37 minggu

bidan

_

Pendarahan dari vagina, warna hitam

 

 

 

 

 

                         

 

4)      Riwayat kehamilan sekarang:

–          Pemeriksaan kehamilan sebelumnya:

Ibu mengatakan ,hanya  sekali memeriksa kehamilannya, yaitu pada saat dinyatakan (+) hamil 12 mg oleh bidan. Setelah itu tidak pernah lagi memeriksakan kehamilan karena ini bukan kehamilan yang pertama.

–          Terapi yang diterima:                    –

–          HE yang sudah didapat:               –

 

  1. 3.   POLA-POLA FUNGSI KESEHATAN:
    1. Pola persepsi-pemeliharaan kesehatan:
  • Sebelum hamil : pemeliharaan kesehatan sebelum hamil baik
  • Saat  hamil                  : pemeliharaan kesehatan saat hamil lebih baik.
  1. Pola aktifitas-latihan
  • Sebelum hamil : ibu melakukan pekerjaan rumah tangga  setiap hari.
  • Saat  hamil      :
  1. Pola nutrisa-metabolisme

Jenis makanan : Nasi, sayuran, Ikan, daging, buah-buahan

Frekuensi makan   : Sebelum hamil : 3x/hari,                    selama hamil : 3-4 x/hari

Frekuensi minum   : Sebelum hamil : 6-7 gelas/hari          selama hamil : 7-8 gelas/hari  

  1. Pola eliminasi
  • BAK   : Sebelum hamil : 3-4 x/hari,   selama hamil : 4-5 x/hari
  • BAB    : Selama hamil maupun sebelum hamil : 2x/hari
  1. Pola tidur-istirahat
  • Tidur siang      : Sebelum hamil : ± 1jam/hr, selama hamil 1: ± 2 jam/hari
  • Tidur malam    : Sebelum hamil : ± 6-7 jam/hari, selama hamil : ± 7-8 jam/hari
  • Keluhan           : Tidak ada
  1. Pola kognitif-perseptual
  • Sebelum hamil :           _
  • Saat  hamil                  :           _
  1. Pola toleransi-koping stres
  • Sebelum hamil :           –
  • Saat hamil                   :           _
  1. Pola persepsi diri-konsep diri
  • Sebelum hamil
  • Saat hamil
  1. Pola seksual-reproduksi:

Ibu mengatakan jarang melakukan hubungan seksual karena takut keguguran seperti pada kehamilan sebelumnya.

  1. Pola hubungan dan peran
  • Sebelum hamil : aktif
  • Saat hamil                   :aktif
  1. Pola nilai dan keyakinan
  • Sebelum hamil: Mejalankan ibadah secara teratur
  • Saat hamil:      Menjalankan ibadah secara teratur

 

 

 

 

 II.               DATA OBYEKTIF:

  1. Tanda-tanda vital
    1. Tekanan darah          : 80/55 mmHg
    2. Nadi                         : 110x/Mnt,
    3. Suhu tubuh               :36
    4. Pernafasan                :28x/Mnt
    5. Pemeriksaan fisik (Head to too)

Keadaan umum                 : klien terlihat pucat, lemah, tampak kesakitan. Dan kulit teraba dingin.

  1. Kepala        :

1)      Rambut             : kerapian, kebersihan, ketombe.

2)      Muka                : cloasma gravidarum, kesimetrisan, edema.

3)      Mata                 : Konjugtiva anemis, Sclera, ikteris.

4)      Hidung             : kepatenan, sinusitis, bentuk.

5)      Gigi dan mulut : caries, stomatitis, kebersihan

6)      Telinga              : kebersihan, pendengaran

  1. Leher

1)      Kelenjar tyroid             :           tidak ada pembesaran

2)      Vena jugularis               :           baik

  1. Dada :

1)      Jantung :           Normal

2)      Paru:                 Normal

3)      Payudara : Kesimetrisan, pembesaran, bentuk puting, hiperpigmentasi, massa pengeluaran, kebersihan.

  1. Abdomen :

1)      Bentuk              :           perut membesar kedepan

2)      Strie                  :           –

3)      Linea                 :           –

4)      Bising  usus      :           –

5)      Uterus keras, tegang seperti papan

Nyeri takan (+)

6)      Palpasi LEOPOLD

LEOPOLD I    : TFU 36 cm

LEOPOLD II   : Tidak dilakukan karena, palpasi janin sulit

LEOPOLD III :           –

LEOPOLD IV :           –

7)      DJJ        :           28x/mnt

Aktifitas janin lemah

  1. Genetalia    : keluar cairan: darah berwarna kehitaman

Perdarahan aktif (+)

  1. Ekstermitas : Edema, varises.
  2. Pemeriksaan penunjang:  .
  • Hb (6,8 g/dL)
  •  turunnya kadar fibrinogen (106 mg/L), dan meningkatnya kadar D-dimer (2,0 mg/L).
  • Dari inspekulo, tampak darah mengalir dari ostium berwarna merah kehitaman.

 

3.3              ANALISA DATA

Data

Masalah

Etiologi

Data subyektif

 Klien mengeluh mengalami perdarahan melalui vagina berwarna kehitaman sejak tadi malam

Data obyektif

1. TTV : TD= 80/55 mmHg

Nadi : 110x/menit

RR : 28x/menit

Suhu: 36 oC

2. Klien terlihat pucat, lemah  Kulit klien teraba dingin, konjungtiva anemis

3. TFU = 36 cm

4. Hasil pemeriksaan USG terlihat solusio plasenta parsialis dengan hematoma

8. Perdarahan aktif (+)

Data tambahan

1. Dari inspekulo, tampak darah mengalir dari ostium berwarna merah kehitaman

2. Hb (6,8 g/dL)

3. turunnya kadar fibrinogen (106 mg/L), dan meningkatnya kadar D-dimer (2,0 mg/L).

Kekurangan volume cairan

Perdarahan terus menerus

Data Subjektif

1. Klien mengeluh nyeri dan keram pada perut yang terus-menerus

Data Objektif

1. TTV : nadi = 110 x/menit

RR = 28x/menit

2. Uterus keras dan  Tegang seperti papan

3. Nyeri tekan +

4.USG: terlihat solusio plasenta parsialis dg hematoma

Gangguan Rasa nyaman : nyeri (akut)

Trauma jaringan

Data Subjektif

1. Klien mengeluh janin yang ada didalam kandungannya bergerak aktif

Data Objektif

1.Dari hasil pemeriksaan fisik : His (- ), DJJ dan palpasi janin sulit

2.USG : DJJ = 82 x /menit ,   Aktivitas janin lemah

Resiko gawat janin

Solusio plasenta

 

3.4              Diagnosa Keperawatan

  1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan terus menerus
  2. Gangguan Rasa nyaman : nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan
  3. Resiko gawat janin berhubungan dengan solusio plasenta

 

3.5              Intervensi

Dx. I: kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan terus menerus

–          Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 1 x 24  jam kekurangan volume cairan teratasi

–          Kriteria Hasil :

  1. Keadaan umum baik
  2.  Perdarahan yang keluar 200 ml
  3. Tinggi fundus uteri sesuai dengan tuanya kehamilan

 

 

Intervensi

  1. Monitor intake dan output setiap 5-10 menit

R/: Perubahan output merupakan tanda adanya gangguan fungsi ginjal

  1. Monitor tanda vital TD 120/80 mmHg, nadi: 88 x/menit, RR 22 – 24 x/menit, suhu 36-37° C)

R/: Perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin hebat

  1. Lakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas simpisis.

R/: Merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan placenta, satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri

  1. Batasi pemeriksaan vagina dan rectum

R/: Trauma meningkat terjadi perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks / perineum atau terdapat hematom

  1. Kolaborasi
    1. Berikan Infus atau cairan intravena

R/: Merangsang kontraksi uterus dan mengontrol perdarahan

  1. Antibiotik

R/: Mencegah infeksi yang mungkin terjadi

  1.  Transfusi whole blood ( bila perlu )

R/: Membantu menormalkan volume cairan tubuh.

Dx II:  Gangguan Rasa nyaman : nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan.

–          Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 2×24 jam nyeri berkurang

–          Kriteria Hasil :

  1. klien akan mengungkapkan penatalaksanaan atau reduksi nyeri
  2.  Uterus tidak Tegang seperti papan
  3. Nyeri tekan (-)
  4. Klien tidak terlihat kesakitan

 

Intervensi

  1. Bantu dengan penggunaan tekhnik pernafasan

R/: mendorong relaksasi dan memberikan klien cara mengatasi dan mengontrol tingkat nyeri.

  1.  Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi. Berikan instruksi bila perlu.

R/: relaksasi dapat membantu menurunkan tegangan dan rasa takut, yang memperberat nyeri.          

  1. Berikan tindakan kenyamanan (pijatan, gosokan punggung, sandaran bantal, pemebrian kompres)

R/: meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kooping dan kontrol klien.

  1. Kolaborasi memberikan sedatif sesuai dosis

R/: meningkatkan kenyamanan dengan memblok impuls nyeri.

 

Dx III:  Resiko gawat janin berhubungan dengan solusio plasenta

–          Tujuan :  Setelah dilakukan perawatan 3- 4 jam tidak terjadi kondisi gawat janin

–          Kriteria Hasil :

1. DJJ dalam batas normal (120-160 x /menit)

2. His +

3. Bayi lahir dengan selamat

4. gerakan janin normal

Intervensi :

  1. beri waktu istirahat untuk ibu

R/: Dengan memberi waktu istirahat yang cukup kepada ibu ,diharapkan metabolisme tubuh menurun dan peredaran darah ke placenta menjadi adekuat, sehingga kebutuhan O2 untuk janin dapat dipenuhi

 

  1. Anjurkan ibu agar tidur miring ke kiri

R/: dengan tidur miring ke kiri diharapkan vena cava dibagian kanan tidak tertekan oleh uterus yang membesar sehingga aliran darah ke placenta menjadi lancar

  1. Pantau tekanan darah ibu

R/: untuk mengetahui keadaan aliran darah ke placenta seperti tekanan darah tinggi, aliran darah ke placenta berkurang, sehingga suplai oksigen ke janin berkurang.

  1. Memantau bunyi jantung ibu.

R/: dapat mengetahui keadaan jantung janin lemah atau menurukan menandakan suplai O2 ke placenta berkurang sehingga dapat direncanakan tindakan selanjutnya.

 

3.6              Implementasi

  1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan terus menerus
  2. Memonitor intake dan output setiap 5-10 menit karena perubahan output merupakan tanda adanya gangguan fungsi ginjal
  3. Memonitor tanda vital karena perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin hebat
  4. Melakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas simpisis untuk Merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan placenta, satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri
  5. Membatasi pemeriksaan vagina dan rectum karena trauma meningkat terjadi perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks / perineum atau terdapat hematom
  6. Kolaborasi
    1.  Berkolaborasi dalam pemberian Infus atau cairan intravena karena merangsang kontraksi uterus dan mengontrol perdarahan
    2. Memberikan antibiotik untuk mencegah infeksi yang mungkin terjadi
    3. Transfusi whole blood (bila perlu) karena Membantu menormalkan volume cairan

 

 

3.7      evaluasi

S

O

A

P

klien mengatakan perdarahan yang keluar dari vagina sudah berkurang.

TTV dalam batas normal

 

masalah kekurangan volume cairan teratasi sebagian

 

Pertahankan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1              KESENJANGAN ANTARA TEORI  DAN KASUS

Dalam bab ini penulis akan membahas tentang asuhan keperawatan pada Ny M dengan solusio plasenta parsialis dirawat di RSIA dengan memperhatikan tahapan proses keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan tindakan, pelaksanaan dan evaluasi. Rumusan pembahasan yang penulis buat dengan bertitik tolak dari masalah keperawatan pada Ny. M serta tinjauan teori yang penulis gunakan. Penulis dalam menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan hierarki kebutuhan dasar Maslow. Lima dari tingkat tersebut adalah kebutuhan fisiologis, keselamatan dan keamanan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri.

Adapun masalah keperawatan yang muncul pada Ny. M dengan solusio plasenta parsialisadalah sebagai berikut :

  1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan terus menerus

Kekurangan volume cairan adalah keadaan dimana seseorang individu yang tidak menjalani puasa mengalami atau beresiko dehidrasi vaskuler, interstitial atau intravaskules. (Carpenito, 2000). Penulis merumuskan diagnosa ini karena pada pengkajian pada Ny. M diperoleh data klien mengeluh mengalami perdarahan melalui vagina berwarna kehitaman sejak tadi malam, mengatakan mempunyai riwayat perdarahan pada kehamilan sebelumnya. Hasil pemeriksaan fisik yaitu : TTV : TD= 80/55 mmHg, Nadi : 110x/menit , RR : 28x/menit, Suhu: 36 oC, Klien terlihat pucat, lemah, kulit klien teraba dingin, TFU = 36 cm, konjungtiva anemis, pembalut penuh dengan darah berwarna kehitaman, hasil pemeriksaan USG terlihat solusio plasenta parsialis dengan hematoma, perdarahan aktif (+).

Data tambahan yang bisa mendukung diagnosa ini adalah dari inspekulo, tampak darah mengalir dari ostium berwarna merah kehitaman, Hb (6,8 g/dL) , turunnya kadar fibrinogen (106 mg/L), dan meningkatnya, kadar D-dimer (2,0 mg/L). Dari data inilah memunculkan diagnosa Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan terus menerus. Yang mana sebenarnya diagnosa ini tidak sesuai dengan teori.

Intervensi yang sudah ditetapkan penulis adalah untuk mengatasi kekurangan volume cairan, penulis mengambil perencanaan yang lebih spesifik ke arah kekurangan volume cairan. Tujuannya yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan. Adapun intervensi yang penulis tetapkan adalah Monitor intake dan output setiap 5-10 menit, Monitor tanda vital TD 120/80 mmHg, nadi: 88 x/menit, RR 22 – 24 x/menit, suhu 36-37° C), Lakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas simpisis, Batasi pemeriksaan vagina dan rectum sedangkan kolaborasi Infus atau cairan intravena, Antibiotik, Transfusi whole blood ( bila perlu ), rasionalnya adalah Perubahan output merupakan tanda adanya gangguan fungsi ginjal, Perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin hebat, Merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan placenta, satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri, Trauma meningkat terjadi perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks / perineum atau terdapat hematom, Merangsang kontraksi uterus dan mengontrol perdarahan, mencegah infeksi yang mungkin terjadi, membantu menormalkan volume cairan tubuh.

Diagnosa ini kami angkat menjadi diagnosa utama karena, jika kekurangan volume cairan tidak segera diatasi maka akan terjadi shock dan mengakibatkan resiko kematian ibu dan janin

  1.  Gangguan Rasa nyaman : nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan

Nyeri adalah keadaan, individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam berespon terhadap suatu rangsangan yang berbahaya dengan batasan karakteristik individu melihatkan dan melaporkan ketidak nyamanan, tekanan darah meningkat, nadi meningkat, respiratori meningkat, posisi berhati-hati, raut wajah kesakitan, merintih. (Carpenito, 2000:52).

Nyeri merupakan suatu mekanisme proteksi bagi tubuh, timbul pada jaringan yang  rusak dan menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rangsang  nyeri tersebut dan nyeri merupakan suatu pengalaman pribadi yang unik dan kompleks. (Long, 1996: 301).

Pada Bab III, penulis merumuskan diagnosa keperawatan gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan. Setelah penulis menganalisa, nyeri bukan disebabkan karena kontraksi janin melainkan karena adanya distensi uterus akibat dari hematoma, hematoma karena rupture pembuluh darah arteri spinalis. Didukung oleh data subyektif klien mengeluh nyeri apalagi dipalpasi. Data obyektif. Karena pada saat pengkajian didapatkan data klien mengeluh nyeri apalagi, saat perut ditekan. TTV : nadi = 110 x/menit, RR = 28x/menit, Uterus keras, Uterus Tegang seperti papan , Nyeri tekan +, Klien tampak kesakitan, Hasil pemeriksaan USG terlihat solusio plasenta parsialis dengan hematoma

Tujuannya yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam nyeri hilang. Adapun intervensi yang akan dilakukan adalah mengkaji tingkat dan karakteristik nyeri rasionalnya untuk membantu mengevaluasi derajat nyeri dan untuk melakukan tehnik relaksasi nafas dalam rasionalnya untuk meningkatkan relaksasi ketegangan otot dan untuk mengalihkan rasa nyeri agar intensitas nyeri dapat menurun. Menciptakan lingkungan yang nyaman rasionalnya dapat menurunkan ketidaknyamanan fisik dan emosional klien. Memonitor tanda-tanda vital rasionalnya untuk mengetahui respon autonomik dari nyeri yaitu perubahan pada tekanan darah, peningkatan denyut nadi dan pernafasan serta perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan keluhan atau penghilangan nyeri.

  1. Resiko gawat janin berhubungan dengan solusio plasenta

Resiko gawat janin adalah suatu keadaan dimana janin mengalami asfiksia, Karena uterus tetap teregang akibat adanya hasil pembuahan, organ ini tidak mampu mengadakan kontraksi yang memadai guna menekan pembuluh darah yang ruptur yang menyuplai kebutuhan nutrisi dan oksigen bagi plasenta tersebut. Dengan adanya tanda Klien mengeluh janin yang ada didalam kandungannya bergerak aktif. Dari hasil pemeriksaan fisik : His (- ), DJJ dan palpasi janin sulit. Dari hasil pemeriksaan USG : DJJ = 82 x /menit , Aktivitas janin lemah.

Secara teori resiko gawat janin tidak ada namun sesuai dengan data diatas kami mengangkat diagnosa keperawatan resiko gawat janin berhubungan dengan solusio plasenta

4.2              KESIMPULAN

Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.

Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.

Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam, sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian terjadi gawat janin, perdarahan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

 

1.1 Latar Belakang

Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala – gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60 – 80% primi gravida dan 40 – 60% multi gravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala – gejala ini menjadi lebih berat.

Perasaan mual ini desebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG (Human Chorionic Gonadrotropin) dalam serum. Pengaruh Fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari – hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat ringannya penyakit. (Prawirohardjo, 2002).

Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering kita jumpai pada kehamilan muda dan dikemukakan oleh 50 – 70% wanita hamil dalam 16 minggu pertama. Kurang lebih 66% wanita hamil trimester pertama mengalami mual- mual dan 44% mengalami muntah – muntah. Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuri, keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Perbandingan insidensi hiperemesis gravidarum
4 : 1000 kehamilan. (Sastrawinata, 2004).

Diduga 50% sampai 80% ibu hamil mengalami mual dan muntah dan kira – kira 5% dari ibu hamil membutuhkan penanganan untuk penggantian cairan dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit. Mual dan muntah khas kehamilan terjadi selama trimester pertama dan paling mudah disebabkan oleh peningkatan jumlah HCG. Mual juga dihubungkan dengan perubahan dalam indra penciuman dan perasaan pada awal kehamilan. (Walsh, 2007).

Hiperemesis gravidarum didefinisikan sebagai vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atu defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan. Insiden kondisi ini sekitar 3,5 per 1000 kelahiran. Walaupun kebanyakan kasus hilang dan hilang seiring perjalanan waktu, satu dari setiap 1000 wanita hamil akanmenjalani rawat inap. Hiperemesis gravidarum umumnya hilang dengan sendirinya (self-limiting), tetapi penyembuhan berjalan lambat dan relaps sering umum terjadi. Kondisi sering terjadi diantara wanita primigravida dan cenderung terjadi lagi pada kehamilan berikutnya. (Lowdermilk, 2004)

1.2 Rumusan Masalah

1.Definisi Hyperemesis Gravidarum

2.Etiologi Hyperemesis Gravidarum

3.Pathofisiologi Hyperemesis Gravidarum

4.Manifestasi Klinis Hyperemesis Gravidarum

5.Pemeriksaan Diagnostik Hyperemesis Gravidarum

6.Penatalaksanaan Hyperemesis Gravidarum

7.Komplikasi Hyperemesis Gravidarum

8.Woc Hyperemesis Gravidarum

1.3 Tujuan

1)      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Maternitas.

2)      Sebagai bahan diskusi Mahasiswa pada kuliah ‘’Keperawatan Maternitas’’dan Sebagai bahan bacaan Mahasiswa Perawat dan Masyarakat umum.

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi

Hyperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada ibu hamil sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk (Mansjoer, A dkk, 2001).

Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu hamil menjadi buruk. (Sarwono Prawirohardjo, Ilmu Kebidanan, 1999).

Hiperemesis gravidarum adalah vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atau defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan. (Lowdermilk, 2004).

2.2 Etiologi

1) Tingginya tingkat estrogen dan hypertyroidisme karena meningkatnya HCG

2)  Faktor psikologis.

3)  Ambivalence dan konflik menjadi ibu, perubahaan body image.

Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin.

Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan :

1) Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.

2) Faktor organik: karena masuknya vili khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu

3) Faktor organik: Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan.ibu terhadap anak.

4) Faktor psikologi, keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan, rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut memikul tanggung jawab, dan sebagainya.

5) Faktor endokrin lainnya, hipertiroid, diabetes dan lain-lain

2.3 Patofisiologi

Perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen yang biasa terjadi pada trimester I. Bila terjadi terus-menerus dapat mengakibatkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik.
Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena okisidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseto-asetik, asam hidroksida butirik, dan aseton dalam darah. Muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun. Selain itu, dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Di samping dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung ( sindroma mollary-weiss ), dengan akibat perdarahan gastrointestinal.

Masuknya bagian fillus ke peredaran darah ibu

Perubahan endokrin

Perubahan metabolik, pergerakan lambung

Muntah yang berlebihan

Dehidrasi

 – penurunan berat badan

hipoproteinemia, < nutrisi

Ketidakseimbangan elektrolit dan cairan

Hypovolemia : hypotensi, tachycardia

Asidosis Metabolik

2.4 Manifestasi Klinis

1) Muntah yang hebat

2) Haus

3) Dehidrasi

4) BB menurun (>1/10 normal)

5) Keadaan umum menurun

6) Peningkatan suhu tubuh

7) Ikterik

8) Gangguan kesadaran,delirium

9) Lab : proteinurine, ketonuria, urobilinogen Biasanya terjadi pada minggu ke 6-12.

 

Tingkatan atau klasifikasi hiperemesis gravidarum :

a)      Tingkatan I :

Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit, tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang, lidah mengering dan mata cekung.

b)      Tingkatan II :

Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih berkurang, lidah mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. Berat badan menurun dan mata menjadi cekung, tensi rendah, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi.

Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.

c)      Tingkatan III:

Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu badan meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke, dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik

a) USG (dengan menggunakan waktu yang tepat) : mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multipel, mendeteksi abnormalitas janin, melokalisasi plasenta.

b) Urinalisis : kultur, mendeteksi bakteri, BUN.

c) Pemeriksaan fungsi hepar: AST, ALT dan kadar LDH.

2.6 Penatalaksanaan

Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin.

Obat-obatan

Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin

Isolasi

Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Tidak diberikan makan/minuman selama 24 -28 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.

Terapi psikologik

Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

Cairan parenteral

Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena.

Penghentian kehamilan

Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, tachikardi, ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital.

Diet

a) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III.

Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari.

b) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang.

Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi linggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan . Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D.

c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan.
Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium.

Prognosis
        Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin.

2.7 Komplikasi

a)Dehidrasi

b)Ikterik

c)Takikardi

d)Alkalosis

e)Kelaparan

f)Menarik diri, depresi

g)Ensefalopati wernicke yang ditandai oleh adanya nistagmus, diplopia, perubahan mental

h)Suhu tubuh meningkat

i)Gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.8 WOC

Faktor predisposisi,organik dan psikologik estrogen meningkat

Perangsangan pada hipotalamus

Aktivasi dan stimulasi CT2

Mual Muntah

           B1                                          B2                                                                 B3                                       B4

Cadangan lemak             TD dan pusing (hipo ortostatik)               Mual dan muntah berlebih                  Vomitus berlebih

Karbohidrat habis            Renin-anggro II Adosteon stimulasi               Dehidrasi                                Dehidrasi

Simpatik aktivitas saraf                          Hipovelemia                               Hipovolemia

MK:Defisit vol cairan dan elek trolit

Vaskontriksi ginjal                                 Hipotensi

MK:Penurunan perfusi

Vaskontriksi perfusi                              penurunan kesadaran

MK:G.resiko cedera

Oksidasi lemak tak sempurna

Penimbunan aseton dlm drah                                             Penurunan

Nafas bau ketan

asidosis metabolik

MK:gangguan pertukaran gas

 

B5                                                                                     B6

Mual muntah berlebih       Iritasi asam mukosa lambung   Mual muntah berlebih

Na dan cl hlng saat muntah   Nafsu makan menurun      Bedrest kelemahan

Mk:G.pola aktivitas

MK:G.Kebutuhan nutrisi:kurang dari kebutuhan tubuh

Dehidrasi

Mk:Defisit volume cairan dan elektrolit

 

BAB III

CONTOH KASUS

 

Tanggal Masuk                 :18-02-2012

Ruang / Kelas                   : Semeru/1

Pengkajian tanggal           :  18-02-12

Jam Masuk                  : 15.20 WIB

Kamar No.                  : 3

Jam                              :14.00 WIB

 

A. IDENTITAS

 

Nama Pasien   : Ny.S

Umur               : 27 tahun

Suku / Bangsa : Jawa/Indonesia

Agama             : Islam

Pendidikan      : SMA

Pekerjaan         : Ibu Rumah Tangga

Alamat                        : JL. Bratang binangun VB/26

Status Perkawinan : Menikah

Nama Suami    :  Tn.N

Umur               : 30 th

Suku / Bangsa : Jawa/Indonesia

Agama             : Islam

Pendidikan      : Sma

Pekerjaan         : Buruh

Alamat                        : JL. Bratang binangun VB/26

Lama Menikah :2 th

 

 

B. STATUS KESEHATAN SAAT INI :

1        Alasan kunjungan ke rumah sakit       :  Karena mual-muntah berlebih sejak 3hr(dlm kondisi hamil)

2        Keluhan Utama saat ini                       : Mual Muntah,Dehidrasi sejak 3hari (Dalam Kondisi Hamil)

3        Timbulnya Keluhan                             :  bertahap

4        Faktor yang memperberat                   : Badan menjadi lemas

5        Upaya yang dilakukan untuk mengatasi : Minum obat anti metik

6        Diagnosa Medik                                  : Hiperemesis Gravidarum

 

 

C. RIWAYAT KEPERAWATAN

1        Riwayat Obstetri:

  1. Riwayat Menstruasi :

 

  • Menarche         : umur 13th
  • Banyaknya      : 3 kali ganti balutan (hari pertama danke dua1000 cc)
  • Siklus               : teratur
  • Lamanya          : 7-10 hari
  • Keluhan           :tdk ada

 

  1. Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas yang lalu : tdk Ada masalah

Anak Ke

Kehamilan

Persalinan

Komplikasi Nifas

Anak

No.

Th

Umur Kehamilan

Penyulit

Jenis

Penolong

Penyulit

Laserasi

Infeksi

Pendarahan

Jenis

BB

PL

 1  2011  42 mg  tdk              P  2,7kg  50cm
         pr Dktr  tdk  Tdk  tdk tdk      
                         
                         
                         

 

 

2        Riwayat Keluarga Berencana :

  • Melaksanakan KB :  tidak
  • Bila ya jenis kontrasepsi apa yang pernah atau sedang digunakan : tidak ada
  • Sejak kapan menggunakan kontrasepsi : tidak ada
  • Masalah yang terjadi :tidak ada

 

 

3        Riwayat Kesehatan :

  • Penyakit yang pernah dialami ibu : tdk ada
  • Pengobatan yang didapat :tidak
  • Riwayat penyakit kadaeluarga : KeluargaMenurut penuturan klien dan suaminya bahwa diantara keluarga klien tidak mempunyai penyakit menular ataupun penyakit keturunan.

( –  ) Penyakit diabetes melitus

( –  ) Penyakit jantung

( –  ) Penyakit hipertensi

( –  ) Penyakit lainnya : sebutkan

4        Riwayat Lingkungan :

  • Kebersihan           : Cukup Bersih
  • Bahaya                 : Tidak ada
  • Lainnya sebutkan : tidak ada

5        Aspek Psikososial

a)      Bagaimana pendapat ibu tentang penyakit saat ini : ibu mengatakan bahwa cemas dengan penyakit ini.

b)      Apakah keadaan ini menimbulkan perubahan terhadap kehidupan sehari-hari?  ya. Bagaimana? Ibu merasa cemas,takut anak dalam rahimnya kenapa-kenapa

c)      Bagaimana dukungan pasangan terhadap keadaan saat ini : cukup siaga

d)     Bagaimana, sikap anggota keluarga lainnya terhadap keadaan saat ini : Berdoa n Pasrah

e)      Lainnya sebutkan : tidak ada

6        Kebutuhan Dasar Khusus :

  1. Pola nutrisi

a)      Frekwensi makan : 3 x/hari

b)      Nafsu makan :  tidak nafsu, alasan : karena mual dan muntah

c)      Jenis makanan rumah : Nasi

d)     Makanan yang tidak disukai / alergi / pantangan : Tidak ada

  1. Pola eliminasi

BAB

a)      Frekwensi             :  1kali

b)      Warna                   : coklat

c)      Bau                       : khas

d)     Konsistensi           : lunak

e)      Keluhan                : tidak ada

  1. Pola personal hygiens

a)      Mandi

  • Frekwensi : 2x/hari
  • Sabun        :  ya

b)      Oral hygiene

  • Frekwensi : 2x/hari
  • Waktu       :  pagi

c)      Cuci rambut

  • Frekwensi : 2x/mg
  • Shampo     :  ya
  1. Pola istirahat dan tidur
  • Lama tidur    :  1-3jam/hari
  • Kebiasaan sebelum tidur       : berdoa

Keluhan         : susah tidur

  1. Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan

v  Merokok                    : tidak

v  Minuman Keras         : tidak

v  Ketergatungan obat  : tidak

 

7        Pemeriksaan Fisik

 

  • Keadaan Umum   : menurun
  • Tekanan Darah     : 110/60 mmHg
  • Respirasi               : 18/mnt
  • Berat Badan         :   68kg

Kesadaran                 : composmetis

Nadi                          : 110 x/menit

Suhu                          :  37

Tinggi Badan            : 160 cm


 

Kepala,mata,kuping,hidung,dan tenggorokan:

Kepala:Bentuk : Normal

Keluhan: Tidak ada

Mata :

  • Kelopak mata              :Normal (coklat)
  • Gerakan mata              : Normal (kanan-kiri)
  • Konjungtiva                : Normal (merah)
  • Sklera                          : Normal (putih)
  • Pupil                            : Normal
  • Akomodasi                  : Normal
  • Lainnya disebutkan     : tidak ada

Hidung

  • Reaksi alergi                : tidak
  • Sinus                           : tidak
  • Lainnya sebutkan        : tidak ada

Mulut dan Tenggorokan

  • Kesulitan menelan       :tidak
  • Lainnya sebutkan        :tidak ada
  • Papila mammae           : tidak
  • Colostrum                   : tidak

Pernafasan

  • Jalan nafas             : teratur
  • Suara nafas            : vesiculer
  • Menggunakan otot-otot bantu pernafasan                        : tidak
  • Lainnya disebutkan           :tidak ada

Sirkulasi Jantung

  • Kecepatan denyut apical         :           110      x/mnt
  • Irama                                       : tidak teratur
  • Kelainan denyut jantung         : tidak
  • Sakit dada                               : tidak
  • Timbul                                     :tidak
  • Lainnya disebutkan                 : tidak ada

Abdomen

  • Mengecil                                 : tidak
  • Linea dan striae                       : tidak
  • Luka bekas operasi                  :tidak ada
  • Lainnya disebutkan                 : tidak ada

Genitourinary

  • Perineum/vulva                       : tidak
  • Vesika urinaria                        : tidak
  • Lainnya disebutkan                 :tidak ada

Ekstremitas(Integumen/Muskuluskletal)

  • Turgor kulit                       : menurun/sedang
  • Warna kulit                       : ikterik
  • Kesulitan dalam pergerakan          :  ya
  • Lainnya disebutkan           tidak ada

D.Data Penunjang

  1. Laboratorium   :  1)Hb: 14 (Laki2:14-18,perempuan:12-16)

2)Eritrosit:5jt(pr: : 4,5 – 5 juta, Lk : 5-6 jt)

3) Leukosit: 8000(4.000-10000)

4) Trombosit:160.000(150.000-450.000)

5) Hematokrit: 45%(35%-52%)

  1. USG                :  Tidak ada
  2. Terapi yg didapat        : 20-02-2012

Terapi oral: Bufantacyd syr 3 x 1½ cth (½ jam sebelum makan)Caviplex 1 x 1 tab (sesudah makan)Sanmol 3 x 1 tabTherapi Parenteral: Sotatic Inj 2 x1Vit C inj 2 x 1Infus: RL + Neurobin 20 gtt/menit

21 – 0 2– 2012

Terapi Oral: Bufantacyd syr 3 x 1½ cth (½ jam sebelum makan)Caviplex 1 x 1 tab (sesudah makan)Sanmol 3 x 1 tabVoldiamer 3 x 1 tabTherapi Parenteral: Sotatic Inj 2 x1Vit C inj 2 x 1Infus : RL + Neurobin 20 gtt/menit

 

E.Data tambahan

Tidak ada

ANALISA DATA

DATA

ETIOLOGI

MASALAH KEPERAWATAN

Ds: Pasien Mengatakan Mual Dan muntah berlebih 3 hr yang lalu

Do: TTV

TD: 110/60 mmHg

N  :110x/mnt

S   : 37 Derajat Celcius

#BB Sebelum sakit:68

#BB Saat Sakit      :65

#Mukosa bibir:kering

#badan klien lemas

#Turgor:menurun

#mata:tampak cowong

# Intake cairan : 1200 ml/hr

# outputcairan : 900 ml hari

Hasil lab:

Na: 140MEG/ltr

Cl: 120 MEG/ltr

 

Mual muntah berlebih

Na dan Cl hilang melalui muntah

Dehidrasi

Defisit volume cairan dan elektrolit

Defisit volume cairan dan elektrolit

Ds: Pasien Mengatakan Mual Dan muntah,tidak nafsu makan3hr yg lalu

Do: TTV

TD: 110/60 mmHg

N  :110x/mnt

S   : 37 Derajat Celcius

#BB Sebelum sakit:68

#BB Saat Sakit      :65

#Porsi Makan: tidak habis/3 sendok

Hasil lab:

Hb:14   Glukosa:120 gr/dl

Albumin:4 gr/dl

Iritasi Asam Pd selaput lendir

Nafsu Makan menurun

          Gangguan nutrisi

Gangguan Kebutuhan Nutrisi:Kurang dari kebutuhan tubuh

Ds: Pasien Mengatakan cemas karena takut keadaan janinnya

Do: TTV

TD: 110/60 mmHg

N  :110x/mnt

S   : 37 Derajat Celcius

#ekspresi klien tampak cemas

#klien tdk bisa tdr

#kelopak mata hitam

Mual muntah berlebih

 

Takut akan janin dlm kandungan

cemas

 Cemas

DAFTAR PRIORITAS DIAGNOSA

1.Defisit Volume cairan dan Elektrolit b/d Intake cairan tidak adekuat

2.Gangguan kebutuhan nutrisi: kurang dr kebutuhan b/d nafsu makan menurun

3.cemas b/d takut keadaan janin terganggu

 

TANGGAL DAN WAKTU

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

INTERVENSI

18/02 2012

Jm15.00

Defisit Volume cairan dan Elektrolit b/d Intake cairan tidak adekuat

 

TU:Dengan dilakukannya Askep

Dalam waktu 1×24 jam kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi

KH:TTV

TD:120/80

N:80x/mnt

S:37

Hasil Lab:

Na : 140 MEG/ltr

Cl: 120 MEG/ltr

#mukosa bibir :lembab

#turgor:baik

#badan klien tampak segar

#kelopak mata :tidak tampak hitam

1.Lakukan transfusi cairan

R:agar cairan klien terpenuhi

2. Kaji suhu badan dan turgor kulit, membran mukosa, TD, input/output dan berat jenis urine. Timbang BB klien dan bandingkan dengan standar

R: Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi tingkat atau kebutuhan hidrasi

3. Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat, makan sesering mungkin dengan jumlah sedikit. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur.

R: Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan keasaman lambung.

 

 

18/02 2012

Jm 15.00

 

 

2.Gangguan kebutuhan nutrisi: kurang dr kebutuhan b/d nafsu makan menurun

 

 

 

TU:Dengan dilakukannya Askep Dalam waktu 2×24 jam kebutuhan nutrisi terpenuhi

KH:TTV

TD:120/80

N:80x/mnt

S:37

TU: dlm wktu 2×24 jm keadaan umum membaik

#nafsu makan meningkat

BB stabil/(68 kg) naik

Hasil lab:

Hb : 14   Glukosa:120 gr/dl

Albumin: 4 gr/dl

#Porsi makan:habis

#nafsu makan meningkat

 

 

 

1. Berikan obat anti emetik yang diprogramkan dengan dosis rendah, misalnya Phenergan 10-20mg/i.v.

R: Mencegah muntah serta memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit

2. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering

R: Dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh

3. Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak

R: dapat menstimulus mual dan muntah

4. anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit, roti dan the (panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur

R: Makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari rangsang mual muntah yang berlebih

5.berikan multivitamin/suplemen

R:u/ meningktkn stamina

 

18/02 2012

Jm 15.00

 

3.cemas b/d takut keadaan janin terganggu

 

TU:Dengan dilakukannya Askep Dalam waktu 2×24 jam cemas hilang

KH:TTV

TD:120/80

N:80x/mnt

S:37

#Ekspresi wajah klien ceria

#klien dapat istirahat/tidur

#kelopak mata tidak menghitam

 

 

1. Kontrol lingkungan klien dan batasi pengunjung

R: Untuk mencegah dan mengurangi kecemasan

2. Kaji tingkat fungsi psikologis klien

R: Untuk menjaga intergritas psikologis

3. Berikan support psikologis

R: Untuk menurunkan kecemasan dan membina rasa saling percaya

4. Berikan penguatan positif

R: Untuk meringankan pengaruh psikologis akibat kehamilan

 

 

WAKTU

DIAGNOSA KEPERAWATAN

IMPLEMENTASI

EVALUASI

15.00 Defisit Volume cairan dan Elektrolit b/d Intake cairan tidak adekuat

 

1. Melakukan transfusi cairan

2.. Mengkaji suhu badan dan turgor kulit, membran mukosa, TD, input/output dan berat jenis urine. Timbang BB klien dan bandingkan dengan standar

3. Menganjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat, makan sesering mungkin dengan jumlah sedikit. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur.

 

 

S: Pasien Mengatakan Mual Dan muntah berlebih Berkurang

O: TTV

TD:120/80

N:80x/mnt

S:37

Hasil Lab:

Na : 140 MEG/ltr

Cl:120 MEG/ltr

A:Masalah teratasi sebagian

P:Intervensi dilanjutkan

 

15.00

 

2.Gangguan kebutuhan nutrisi: kurang dr kebutuhan b/d nafsu makan menurun

 

 

1. Memerikan obat anti emetikyang diprogramkan dengan dosis rendah, misalnya Phenergan 10-20mg/i.v.

2. Menganjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering

3. Menganjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak

4. Menganjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit, roti dan teh (panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur

5.memberikan multivitamin dan suplemen

 

 

S:Pasien mengatakan mual muntah berkurang dan nafsu makan agak lebih baik

O: TTV

TD:120/80

N:80x/mnt

S:37

#keadaan umum membaik

#nafsu makan meningkat

BB stabil/(68 kg) naik

Hasil lab:

Hb : 14   Glukosa:120 gr/dl

Albumin: 4 gr/dl

A:Masalah teratasi sebagian

P: Intervensi dilanjutkan

 

15.00 3.cemas b/d takut

 

1. Mengontrol lingkungan klien dan batasi pengunjung

2. MengKaji tingkat fungsi psikologis klien

3. Memberikan support psikologis

4. Memberikan penguatan positif

 

S:Pasien Mengatakan rasa cemasnya hilang

O: TTV

TD:120/80

N:80x/mnt

S:37

A:Masalah teratasi

P:Intervensi dihentikan

 

BAB IV

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan pada ibu hamil yang ditandai dengan muntah-muntah yang berlebihan (muntah berat) dan terus-menerus pada minggu kelima sampai dengan minggu kedua belas (Penyuluhan Gizi Rumah Sakit A. Wahab Sjahranie Samarinda.)

Tanda dan gejala yaitu: Muntah yang hebat,Haus, Dehidrasi, BB menurun (>1/10 normal) Keadaan umum menurun,Peningkatan suhu tubuh, Ikterik,Gangguan kesadaran,delirium

3.2 Saran

Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis agar tidak terjadi hiperemesis gravidarum dengan cara :
1. Memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik
2. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang – kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.
3. Menganjurkan mengubah makan sehari – hari dengan makanan dalam jumlah kecil tapi sering
4. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, erlebih dahulu makan roti kering atau biskuit dengan dengan teh hangat.
5. makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan
6. Makanan seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin
7. Defekasi teratur
8. Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan faktor penting, dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Mansjoer, A, dkk, (2001), Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, Jakarta : Penerbit Media Aesculapius FKUI.

Mochtar, R, (1998), Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi, edisi 2, Jilid 1, Jakarta : EGC.

Taber, B, (1994), Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, cetakan 1 Jakarta : EGC.

 

BEDAH JANTUNG

Pengertian

Bedah jantung adalah : Usaha atau operasi yang dikerjakan untuk melakukan koreksi kelainan anatomi atau fungsi jantung.

Operasi Jantung Dibagi Atas :

  1. Operasi jantung terbuka, yaitu operasi yang dijalankan dengan membuka rongga jantung dengan memakai bantuan mesin jantung paru (mesin extra corporal).
  2. Operasi jantung tertutup, yaitu setiap operasi yang dijalankan tanpa membuka rongga jantung misalnya ligasi PDA, Shunting aortopulmonal.

Tujuan Operasi Jantung

Operasi jantung dikerjakan dengan tujuan baermacam-macam antara lain :

  1. Koreksi total dari kelainan anatomi yang ada, misalnya penutupan ASD, Pateh VSD, Koreksi Tetralogi Fallot, Koreksi Transposition Of Great Arteri (TGA). Umumnya tindakan ini dikerjakan terutama pada anak-anak (pediatrik) yang mempunyai kelainan bawaan.
  2. Operasi paliatif yaitu melakukan operasi sementara untuk tujuan mempersiapkan operasi yang definitif/total koreksi karena operasi total belum dapat dikerjakan saat itu, misalnya shunt aortopulmonal pada TOF, Pulmonal atresia.
  3. Repair yaitu operasi yang dikerjakan pada katub jantung yang mengalami insufisiensi.
  4. Replacement katup yaitu operasi penggantian katup yang mengalami kerusakan.
  5. Bypass koroner yaitu operasi yang dikerjakan untuk mengatasi stenosis/sumbatan arteri koroner.
  6. Pemasangan inplant seperti kawat ‘pace maker’ permanen pada anak-anak dengan blok total atrioventrikel.
  7. Transplantasi jantung yaitu mengganti jantung seseorang yang tidak mungkin diperbaiki lagi dengan jantung donor dari penderita yang meninggal karena sebab lain.

Diagnosis Penderita Penyakit Jantung

Untuk menetapkan suatu penyakit jantung sampai kepada suatu diagnosis maka diperlukan tindakan investigasi yang cukup. Mulai dari anamnesa, pemeriksaan fisik/jasmani, laboratorium, maka untuk jantung diperlukan pemeriksaan tambahan sebagai berikut :

Elektrokardiografi (EKG) yaitu penyadapan hantaran listrik dari jantung memakai alat elektrokardiografi.

  1. Foto polos thorak PA dan kadang-kadang perlu foto oesophagogram untuk melihat pembesaran atrium kiri (foto lateral).
  2. Fonokardiografi
  3. Ekhocardiografi yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai gelombang pendek dan pantulan dari bermacam-macam lapisan di tangkap kembali. Pemeriksaan ini terdiri dari M. mode dan 2 Dimentional, sehingga terlihat gambaran rongga jantung dan pergerakan katup jantung. Selain itu sekarang ada lagi Dopler Echocardiografi dengan warna, dimana dari gambaran warna yang terlihat bisa dilihat shunt, kebocoran katup atau kolateral.
  4. Nuklir kardiologi yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai isotop intra vena kemudian dengan “scanner” ditangkap pengumpulan isotop pada jantung.

Dapat dibagi :

1. Perfusi myocardial dengan memakai Talium 201.

2. Melihat daerah infark dengan memakai Technetium pyrophospate 99.

3. Blood pool scanning.

  1. Kateterisasi jantung yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai kateter yang dimasukan ke pembuluh darah dan didorong ke rongga jantung. Kateterisasi jantung kanan melalui vena femoralis, kateterisasi jantung kiri melalui arteri femoralis.

Pemeriksaan kateterisasi bertujuan :

a)      Pemeriksaan tekanan dan saturasi oksigen rongga  jantung, sehingga diketahui adanya peningkatan saturasi pada rongga jantung kanan akibat suatu shunt dan  adanya hypoxamia pada jantung bagian kiri.

b)      Angiografi untuk melihat rongga jantung atau pembuluh darah tertentu misalnya LV grafi, aortografi, angiografi koroner dll.

c)      Pemeriksaan curah jantung pada keadaan tertentu.

Pemeriksaan enzym khusus, yaitu pemeriksaan enzym creati kinase dan fraksi CKMB untuk penentuan adanya infark pada keadaan “ unstable angin pectoris”.

Indikasi Operasi

  1. “Left to rigth shunt” sama atau lebih dari 1,5 (aliran paru dibandingkan aliran ke sistemik ³ 1,5).
  2. “Cyanotic heart disease “.
  3. Kelainan anatomi pembuluh darah besar dan koroner
  4. Stenosis katub yang berat (symtomatik).
  5. Regurgitasi katub yang berat (symtomatik)
  6. Angina pektoris kelas III dan IV menurut Canadian Cardiology Society (CCS).
  7. “Unstable angina pectoris”.
  8. Aneurisma dinding ventrikel kiri akibat suatu infark miokardium akut.
  9. Komplikasi akibat infark miokardium akut seperti VSD dan mitral regurgitasi yang berat karena ruptur otot papilaris.
  10. “Arrhytmia” jantung misalnya WPW syndrom.
  11. Endokarditis/infeksi katub jantung.
  12. Tumor dalam rongga jantung yang menyebabkan obstruksi pada katub misalnya myxoma.
  13. Trauma jantung dengan tamponade atau perdarahan.

Toleransi dan perkiraan resiko operasi

Toleransi terhadap operasi diperkirakan berdasarkan keadaan umum penderita yang biasanya ditentukan dengan klasifikasi fungsional dari New York Heart Association.

Klas   I    : Keluhan dirasakan bila bekerja sangat berat misalnya berlari.

Klas  II    : Keluhan dirasakan bila aktifitas cukup berat misalnya berjalan cepat.

Klas III   : Keluhan dirasakan bila aktifitas lebih berat dari pekerjaan sehari-hari.

Klas IV    : Keluhan sudah dirasakan pada aktifitas primer seperti untuk makan dan lain-lain sehingga penderita harus tetap berbaring ditempat tidur.

Waktu Terbaik (Timing) Untuk Operasi

Hal ini ditentukan berdasarkan resiko yang paling kecil. Misalnya umur yang tepat untuk melakukan total koreksi Tetralogi Fallot adalah pada umur 3 – 4 tahun.

Hal ini yaitu berdasarkan klasifikasi fungsional di mana operasi katub aorta karena suatu insufisiensi pada klas IV adalah lebih tinggi dibandingkan pada klas III. Hal ini adalah saat operasi dilakukan. Operasi pintas koroner misalnya bila dilakukan secara darurat resikonya 2 X lebih tinggi bila dilakukan elektif.

Pembagian Waktu dibagi atas :

  1. Emergensi yaitu operasi yang sifatnya sangat perlu untuk menyelamatkan jiwa penderita. Untuk bypass coroner hal ini dilakukan kapan saja tergantung persiapan yang diperlukan.
  2. Semi Elektif yaitu operasi yang bisa ditunda 2 – 3 hari atau untuk koroner dilakukan 3 X 24 jam setelah dilakukan kateterisasi jantung.
  3. Elektif yaitu operasi yang direncanakan dengan matang atas indikasi tertentu, waktunya lebih dari 3 hari.

Pemilihan Tehnik Operasi

Pertimbangan yang perlu diperhatikan adalah :

  1. Apakah bisa dilakukan koreksi total
  2. Kalau tidak bisa dilakukan koreksi total karena keterbatasan umur dan anatomi/kelainan yang didapat maka harus dipilih tehnik operasi untuk membantu operasi definitif misalnya “ shunt “ pada Tetralogi Fallot.
  3. Apabila tidak bisa dilakukan koreksi total atau operasi definitif dengan resiko yang tinggi maka harus dipilih operasi untuk memperbaiki kwalitas hidup penderita tersebut misalnya “shunt” saja.
  4. “Repair” katub lebih diutamakan/dianjurkan dari pada “replacement”/penggantian katub yang rusak.
  5. Hasil-hasil dari kasus-kasus yang sudah dikerjakan orang lain.

Sayatan Operasi

  1. Mid Sternotomi

Posisi klien terlentang, kepala ekstensi dan daerah vertebra antara skapula kanan dan kiri diganjal secukupnya sehingga insisi cukup leluasa. Harus diperhatikan dalam setiap posisi :

a)      Seluruh daerah yang mengalami tekananan harus dilindungi dengan bantal atau karet busa misalnya kepala, daerah sakrum dan tumit.

Tidak boleh ada barang-barang logam yang keras, kontak langsung dengan penderita sehingga dapat terjadi dekubitus.

b)      Pemasangan “lead EKG “, kateter urin, slang infus tidak boleh “kinking” dan melewati bawah kulit klien sehingga menimbulkan bekas.

c)      Pemasangan “plate kauterisasi” pada otot pinggul dan hati-hati terhadap N. ischiadicus yang berjalan di daerah sakrum dan penderita harus dihubungkan dengan kabel yang ke bumi.

d)     Posisi penderita harus difiksasi dengan stabil sehingga tidak mudah meluncur kalau meja operasi diputar atau tidak bergerak kalu dilakukan shock listrik.

Insisi kulit pada daerah median mulai dari atas suprasternal notch vertikal sampai 3 cm di bawah prosesus xyphoideus dengan pisau No. 24 bila klien dewasa, untuk bayi dan anak-anak dengan pisau No. 15.

Hemostasis dengan kauterisasi fasia sampai ligamen subra sternal dipotong, begitu juga prosesus xyphoideus ibelah dengan gunting kasar. Hemostasis dari vena yang melintang di atas prosesus xyphoideus harus baik.

Tulang sternum dibelah dengan gergaji listrik biasanya dari arah prosesus xypoideus ke atas dan saat itu paru-paru dikolapskan beberapa detik untuk menghindari terbukanya pleura.

Hemastasis pinggir sternum dengan kauter dan bila perlu gunakan bone wak.

Selanjutnya sisa-sisa kelenjar timus, didiseksi sampai vena inominata kelihatan bebas. Perikardium dibuka di tengah  atau agak ke kanan apabila akan digunakan untuk “patch” dan dilebarkan sedikit kearah lateral dibagian proksimal dan diafragma. Perikardium difixir ke pinggir luka sehingga jantung agak terangkat.

Apabila prosedur utama telah selesai dan dinding dada akan ditutup maka harus diyakini benar bahwa hemostasis terhadap semua bekas insisi dan jahitan telah aman, perikardium kalau perlu tidak usah ditutup rapat, dipasang drain untuk mengeluarkan sisa darah, sternum diikat dengan kawat. Harus diingat saat menutup sternum apakah ada pengaruh terhadap tekanan darah terutama kalau tekanan darah turun. Jahitan kulit subkutikuler/kutikuler dengan dexon.

  1. Torakotomi posterolateral

Sayatan ini biasanya untuk klien koarktasio aorta, PDA, shunt atau aneurisma aorta desenden. Posisi klien miring ke kanan dengan syarat-syarat seperti di atas.

Insisi kulit mulai dari garis aksila tengah ke posterior kira-kira 2 cm di bawah angulus inferior skapula dan prosesus spinosus vertebra. Kulit, subkutis, otot latisimus dorsi dipotong dengan hemostasis yang baik dengan kauter dan otot seratus anterios hanya dibelah dan dipotong pada insertionya.

Rongga toraks dibuka pada sela iga ke 4 dengan diseksi di bagian atas iga ke V untuk menghindari pembuluh darah. Setelah selesai rongga toraks ditutup dengan mengikat iga dengan jahitan absorbable dan selanjutnya otot diapraksimasi kembali seperti aslinya dan kulit dijahit subkutikuler.

  1. Torakotomi Anterolateral

Posisi penderita terlentang dan bagian kiri diganjal sedikit sehingga lebih tinggi / miring 45 °. Insisi pada sela iga ke V. Pendekatan ini untuk emergensi karena luka tusuk jantung dengan tamponade atau hanya perikardiotomi banding pulmonalis.

Persiapan penderita prabedah.

Setelah penderita diputuskan untuk operasi maka perlu dipersiapkan agar operasi dapat berlangsung sukses. Persiapan terdiri dari  :

a)      Persiapan mental

Menyiapkan klien secara mental siap menjalani operasi, menghilangkan kegelisahan menghadapi operasi. Hal ini ditempuh dengan cara wawancara dengan dokter bedah dan kardiolog tentang indikasi operasi, keuntungan operasi, komplikasi operasi dan resiko operasi. Diterangkan juga hal-hal yang akan dialami/akan dikerjakan di kamar operasi dan ICU dan alat yang akan dipasang, juga termasuk puasa, rasa sakit pada daerah operasi dan kapan drain dicabut.

b)     Persiapan medikal

  1. Obat-obatan
  • Semua obat-obatan antikoagulan harus dihentikan 1 minggu sebelum operasi (minimal 3 hari sebelum operasi).
  • Aspirin dan obat sejenis dihentikan 1 minggu sebelum operasi.
  • Digitalis dan diuretik dihentikan 1 hari sebelum operasi.
  • Antidiabetik diteruskan dan bila perlu dikonversi dengan insulin injeksi selama operasi.
  • Obat-obat jantung diteruskan sampai hari operasi.
  • Antibiotika hanya diberikan untuk propilaksis dan diberikan waktu induksi anestesi di kamar operasi, hanya diperlukan test kulit sebelum operasi apakah ada alergi.
  1. Laboratorium 1 hari sebelum operasi antara lain  :
  • Hematologi lengkap + hemostasis.
  • LFT.
  • Ureum, Creatinin.
  • Gula darah.
  • Urine lengkap.
  • Enzim CK dan CKMB untuk CABG.
  • Hb  S Ag.
  • Gas darah.

Bila ada kelainan hemostasis atau faktor pembekuan harus diselidiki penyebabnya dan bila perlu operasi ditunda sampai ada kepastian bahwa kelainan tersebut tidak akan menyebabkan perdarahan pasca bedah.

  1. Persiapan darah untuk operasi.

Permintaan darah ke PMI terdiri dari  :

Packad cell                    :  750 cc

Frash Frozen Plasma     :  1000 cc

Trombosit                     :   3 unit.

Permintaan darah ke PMI minimal 24 jam sebelum operasi elektif dan tentu tergantung persediaan darah yang ada di PMI saat itu.

  1. Mencari infeksi fokal.

Biasanya dicari gigi berlobang atau tonsilitis kronis dan ini konsultasikan ke bagian THT dan gigi. Kelainan kulit seperti dermatitis dan furunkolosis/bisul harus diobati dan juga tidak dalam masa inkubasi/infeksi penyakit menular.

  1. Fisioterapi dada.

Untuk melatih dan meningkatkan fungsi paru selama di ICU dan untuk mengajarkan bagaimana caranya mengeluarkan sputum setelah operasi untuk mencegah retensi sputum. Bila penderita diketahui menderita asthma dan penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) maka fisioterapi harus lebih intensif dikerjakan dan kadang-kadang spirometri juga membantu untuk melihat kelainan yang dihadapi. Bila perlu konsultasi ke dokter ahli paru untuk problem yang dihadapi.

  1. Perawatan sebelum operasi.

Saat ini perawatan sebelum operasi dengan persiapan yang matang dari poliklinik maka perawatan sebelum operasi dapat diperpendek misalnya 1 – 2 hari sebelum operasi. Hal ini untuk mempersiapkan mental klien dan juga supaya tidak bosan di Rumah Sakit.

Perawatan pasca bedah

Perawatan pasca bedah dimulai sejak penderita masuk ke ICU. Untuk mengetahui problem pasca bedah dianjurkan untuk mengetahui problem penderita pra bedah sehingga dapat diantisipasi dengan baik.

Misalnya problem pernapasan, diabetes dan lain-lain.

Perawatan pasca bedah dibagi atas  :

  1. 1.      Perawatan di ICU.

a)      Monitoring Hermodinamik.

Setelah penderita pindah di ICU maka timbang terima antara perawat yang mengantar ke ICU dan petugas/perawat ICU yang bertanggung jawab terhadap penderita tersebut : Dianjurkan setiap penderita satu perawat yang bertanggung jawab menanganinya selama 24 jam. Pemantauan yang dikerjakan harus secara sistematis dan mudah :

  • CVP,  RAP,  LAP,
  • Denyut jantung.
  • “Wedge presure” dan PAP.
  • Tekanan darah.
  • Curah jantung.
  • Obat-obat inotropik yang digunakan untuk support fungsi jantung dosisnya, rutenya dan lain-lain.
  • Alat lain yang dipakai untuk membantu seperti IABP, pach jantung dll.

b)      EKG

Pemantauan EKG setiap saat harus dikerjakan dan dilihat irama dasar jantung dan adanya kelainan irama jantung seperti AF, VES, blok atrioventrikel dll.  Rekording/pencatatan EKG lengkap minimal 1 kali dalam sehari dan tergantung dari problem yang dihadapi terutama bila ada perubahan irama dasar jantung yang membahayakan.

c)      Sistem pernapasan

Biasanya penderita dari kamar operasi masih belum sadar dan malahan diberikan sedasi sebelum ditransper ke ICU. Sampai di ICU segera respirator dipasang dan dilihat :

  • Tube dan ukuran yang diapakai, melalui mulut / hidung.
  • Tidak volume dan minut volume, RR, Fi O 2, PEEP.
  • Dilihat aspirat yang keluar dari bronkhus / tube, apakah lendirnya normal, kehijauan, kental atau berbusa kemerahan sebagai tanda edema paru ; bila perlu dibuat kultur.

d)     Sistem neurologis

Kesadaran dilihat dari/waktu penderita mulai bangun atau masih diberikan obat-obatan sedatif pelumpuh otot.  Bila penderita mulai bangun maka disuruh menggerakkan ke 4 ektremitasnya.

e)      Sistem ginjal

Dilihat produksi urine tiap jam dan perubahan warna yang terjadi akibat hemolisis  dan lain-lain. Pemerikasaan ureum / kreatinin bila fasilitas memungkinkan harus dikerjakan.

f)       Gula darah

Bila penderita adalah dabet maka kadar gula darah harus dikerjakan tiap 6 jam dan bila tinggi mungkin memerlukan infus insulin.

g)      Laboratorium  :

Setelah sampai di ICU perlu diperiksa   :

  • HB, HT, trombosit.
  • ACT.
  • Analisa gas darah.
  • LFT / Albumin.
  • Ureum, kreatinin, gula darah.
  • Enzim CK dan CKMB untuk penderita bintas koroner.

h)      Drain

Drain yang dipasang harus diketahui sehingga perdarahan dari mana mungkin bisa diketahui. Jumlah drain tiap satuan waktu biasanya tiap jam tetapi bila ada perdarahan maka observasi dikerjakan tiap ½ jam. Atau tiap ¼ jam. Perdarahan yang terjadi lebih dari 200 cc untuk penderita dewasa tiap jam dianggap sebagai perdarahan pasca bedah dan muingkin memerlukan  retorakotomi untuk menghentikan perdarahan.

i)        Foto thoraks

Pemerikasaan foto thoraks di ICU segera setelah sampai di ICU untuk melihat ke CVP, Kateter Swan Ganz. Perawatan pasca bedah di ICU harus disesuaikan dengan problem yang dihadapi seperti komplikasi yang dijumpai. Umumnya bila fungsi jantung normal, penyapihan terhadap respirator segera dimulai dan begitu juga ekstratubasi beberapa jam setelah pasca bedah.

j)        Fisioterapi.

Fisioterapi harus segera mungkin dikerjakan termasuk penderita dengan ventilator. Bila sudah ekstubasi fisioterapi penting untuk mencegah retensi sputum (napas dalam, vibrilasi, postural drinase).

2.    Perawatan setelah di ICU / di Ruangan.

Setelah klien keluar dari ICU maka pemantauan terhadap fungsi semua organ terus dilanjutkan. Biasanya pindah dari ICU adalah pada hari ke dua pasca bedah. Umumnya pemeriksaan hematologi rutin dan thoraks foto telah dikerjakan termasuk laboratorium LFT, Enzim CK dan CKMB.

Hari ke 3 lihat keadaan dan diperiksa antara lain :

  • Elektrolit thrombosis.
  • Ureum
  • Gula darah.
  • Thoraks foto
  • EKG  12 lead.

Hari ke 4  : lihat keadaan, pemeriksaan atas indikasi.

Hari ke 5 : Hematologi, LFT, Ureum dan bila perlu elektrolit, foto thoraks tegak.

Hari ke 6  –  10 pemerikasaan atas indikasi, misalnya thrombosis.

Obat – obatan  : Biasanya diberikan analgetik karena rasa sakit daerah dada waktu batuk akan mengganggu pernapasan klien.  Obat-obat lain seperti anti hipertensi, anti diabet, dan vitamin harus sudah dimulai, expectoransia, bronchodilator, juga diperlukan untuk mengeluarkan sputum yang banyak sampai hari ke 7 atau sampai klien pulang.

Perawatan luka, dapat tertutup atau terbuka.  Bila ada tanda-tanda infeksi seperti kemerahan dan bengkak pada luka apalagi dengan tanda-tanda panas, lekositosis, maka luka harus dibuka jahitannya sehuingga nanah yang ada bisa bebas keluar. Kadang-kadang perlu di kompres dengan antiseptik supaya nanah cepat kering. Bila luka sembuh dengan baik jahitan sudah dapat di buka pada hari ke delapan atau sembilan pasca bedah. Untuk klien yang gemuk, diabet kadang-kadang jahitan dipertahankan lebih lama untuk mencegah luka terbuka.

Fisioterapi, setelah klien exstubasi maka fisioterapi harus segera dikerjakan untuk mencegah retensi sputum yang akan menyebabkan problem pernapasan. Mobilisasi di ruangan mulai dengan duduk di tempat tidur, turun dari tempat tidur, berjalan disekitar tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, dan keluar dari ruangan dengan dibimbing oleh fisioterapis atau oleh perawat.