HAMIL ANGGUR(MOLA HIDATIDOSA)

                              

 

     KATA PENGANTAR

                                                           

                                                           

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Alhamdulilaahirabbi’alaamin,puji syukur senangtiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat limpahan rahmat, karunianya dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah

”Asuhan Keperawatan  pada Ibu dengan kehamilan Mola  Hidatidosa”

ini.Selain bertujuan untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah maternitas II

makalah ini juga disusundengan maksud agar pembaca dapat memperluas ilmu dan pengetahuan tentang bagaiamana teori tentang Mola Hidatidosa serta asuhan keperawatannya .

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca dan dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

                                                                                                     

 

 

 

 

 

 

 

                                                                             Surabaya,20Februari 2012

                                                                                         

                                                                                    Penyusun                                                                                         

 

 

 

 

                                              DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1  LataBelakang……………………………………………………………………………..1

1.2  RumusaMasalah…………………………………………………………………………1

1.3  Tujua………………………………………………………………………………………..2

1.4  Manfaat……………………………………………………………………………………..2

BAB II TINJAUAN TEORI

            2.1. KONSEP DASAR TEORI

                   2.1.1 Pengertian Mola Hidatidosa…………………………………………………3

                   2.1.2 Etiologi Mola Hidatidosa…………………………………………………….5

                   2.1.3 patofisiologi Mola Hidatidosa………………………………………………6

                   2.1.4 Tanda dan Gejala ……………………………………………………………….8

                   2.1.5Komplikasi…………………………………………………………………………8

                   2.1.6 Gambarandiagnostik…………………………………………………………..8

                  2..1.7Penatalaksanaan………………………………………………………………..10

            2.2.KONSEP DASAR KEPERAWATAN

                 2.2.1Pengkajian.………………………………………………………12

                  2.2.2 DiagnosaKeperawatan………………………………………….16

                  2.2.3IntervensiKeperawatan………………………………………….16

BAB III  CONTOH KASUS

3.1 Pengkajian kehamilan……………………………………………………22  3.2 Diagnosa………………………………………………………………………………………..28 3.3 Intervensi………………………………………………………………..28 3.4 Implementasi…………………………………………………………….30  3.5 Evaluasi………………………………………………………………………….31

BAB IV KESENJANGAN KASUS DAN TEORI

   4.1Kesenjangan……………………………………………………………………………………….33

4.2Kesimpulan…………………………………………………………………………………………34

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 1

Pendahuluan

 

1.1  Latar Belakang

Mola Hidatidosa ialah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri tumor jinak (benigna) dari chorion penyebab embrio mati dalam uterus tetapi plasenta melanjutkan sel-sel trophoblastik terus tumbuh menjadi agresif dan membentuk tumor yang invasif, kemudian edema dan membentuk seperti buah anggur, karakteristik mola hidatiosa bentuk komplet dan bentuk parsial, yaitu tidak ada jaringan embrio dan ada jaringan embrio.

Sebagian dari villi berubah menjadi gelembung-gelembung berisi cairan jernih. Biasanya tidak ada janin, hanya pada mola parsialis kadang-kadang ada janin. Gelembung itu sebesar butir kacang hijau sampai sebesar buah anggur. Gelembung ini dapat mengisi seluruh cavum uteri. Di bawah mikroskop nampak degenerasi hydrotopik dari stoma jonjot, tidak adanya pembuluh darah dan proliferasi trofoblast. Pada bagian pemeriksaan kromosom didapatkan poliploidi dan hampir pada semua kasus mola susunan sex chromatin adalah wanita.

Pada mola hidatidosa, ovaria dapat mengandung kista lutein kadang-kadang hanya pada satu ovarium, kadang-kadang pada kedua-duanya. Kista ini berdinding tipis dan berisi cairan kekuning-kuningan dan dapat mencapai ukuran sebesar sarung tinju atau kepala bayi. Kista lutein terjadi karena perangsangan ovarium oleh kadar gonadotropin chorion yang tinggi, kista ini hilang sendiri setelah mola dilahirkan.

                                     

 

 

1.2  Rumusan Masalah

  • apa definisi dari mola hidatidosa ?
  • apakah etiologi dari mola hidatidosa ?
  • bagaimana patofisiologi dari mola hidatidosa ?
  • bagaimana tanda dan gejala dari mola hidatidosa ?
  • bagaimana gambaran diagnostik dari mola hidatidosa ?
  • bagaimana penatalaksanaan pada klien dengan mola hidatidosa ?
  • bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan mola hidatidosa ?

 

1.3Tujuan

 

  • Agar mahasiswa mengetahui  dan memahami pengertian dari mola hidatidosa
  • Agar mahasiswa mengetahui dan memahami etiologi dari mola hidatidosa
  • Agar mahasiswa mengetahui dan memahami tanda dan gejala dari mola hidatidosa
  • Agar mahasiswa mengetahui komplikasi dari mola hidatidosa
  • Agar mahasiswa mengetahui gambaran diagnostik dari mola hidatidosa
  • Agar mahasiswa mengetahui penatalaksanaan dari mola hidatidosa
  • Agar  mahasiswa  mampu  memberikan  asuhan  keperawatan  pada 

Klien dengan  mola hidatidosa

 

1.3  Manfaat

Setelah membuat makalah mola hidatidosa ini, mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami pengertian mola hidatidosa, etiologi mola hidatidosa, patofisiologi mola hidatidosa, tanda dan gejala mola hidatidosa, komplikasi mola hidatidosa, gambaran diagnostic mola hidatidosa, penatalaksanaan mola hidatidosa, serta  membuat dan mengaplikasikan  asuhan keperawatan pada klien dengan mola hidatidosa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Tinjauan Teori

 

2.1 Konsep Dasar Teori

2.1.1 Pengertian

Mola Hidatidosa ditandai oleh kelainan vili korialis, yang terdiri dari proliferasi trofoblastik dangan derajat yang bervariasi dan edema sroma vilus. Mola biasanya menempati kavum uteri, tetapi kadang-kadang tumor ini ditemukan dalam tuba falopii dan bahkan dalam ovarium. Perkembangan penyakit trofoblastik ini amat menarik, dan ada tidaknya jaringan janin telah digunakan untuk menggolongkannya menjadi bentuk mola yang komplet (klasik)

dan parsial (inkomplet)

 

.

 

 

Karakteristik Mola Hidatidosa bentuk komplet dan parsial :

Gambaran

Mola parsial (inkomplet)

Mola Komplet (klasik)

Jaringan embrio atau janin

Ada

Tidak ada

Pembengkakan hidatidosa pada vili

Fokal

Difus

Hyperplasia                       

Fokal

Difus

Inklusi stroma

Ada

Tidak ada

Lekukan vilosa

Ada

Tidak ada

 

 

           

 

  1. Mola Hidatidosa Komplet (klasik)

Vili korialis berubah menjadi kumpulan gelembung yang jernih. Gelembung-gelembung atau vesikula ini bervariasi ukurannya mulai dari yang mudah terlihat sampai beberapa cm, dan bergantung dalam beberapa kelompok dari tangkai yang tipis. Massa tersebut dapat tumbuh cukup besar sehingga memenuhi uterus, yang besarnya bisa mencapai ukuran uterus kehamilan normal lanjut. Berbagai penelitian sitogenetik terhadap kehamilan mola komplet, menemukan komposisi kromosom yang paling sering (tidak selalu) 46XX, dengan kromosom sepenuhnya berasal dari ayah.

 Fenomena ini disebut sebagai androgenesis yang khas ovum dibuahi oleh sebuah sperma haploid yang kemudian mengadakan duplikasi kromosomnya sendiri setelah miosis. Kromosom ovum bias tidak terlihat atau tampak tidak aktif. Tetapi semua mola hidatidosa komplet tidak begitu khas dan kadang-kadang pola kromosom pada mola komplet biSA 46XY. Dalam keadaan ini dua sperma membuahi satu ovum yang tidak mengandung kromosom. Variasi lainnya juga pernah dikemukakan misalnya 45X. jadi mola hidatidosa yang secara morfologis komplet dapat terjadi akibat beberapa pola kromosom.

 

 

  1. Mola Hidatidosa Parsial (inkomplet)

Kalau perubahan hidatidosa bersifat fokal serta belum begitu jauh dan masih terdapat janin atau sedikitnya kantong amnion, keadaan ini digolongkan sebagai mola hidatidosa parsial. Pada sebagian vili yang biasanya avaskuler terjadi pembengkakan hidatidisa yang berjalan lambat, sementara vili lainnya yang vaskular dengan sirkulasi darah fetus plasenta yang masih berfungsi tidak mengalami perubahan. Hyperplasia trofoblastik yang terjadi, lebih bersifat fokal dari pada generalisata. Katiotipe secara khas berupa triploid, yang bias 69XXY atau 69XYY dengan satu komplemen maternal tapi biasanya dengan dua komplemen haploid paternal. Janin secara khas menunjukkan stigmata triploidi yang mencakup malformasi congenital multiple dan retardasi pertumbuhan.

 

 

 

 

 

 

2.1.2 Etiologi

Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor penyebabnya adalah  :

  1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan
  2. Imunoselektif dari tropoblast: yaitu dengan kematian fetus,pembuluh darah pada stroma villi menjadi jarang dan stroma villi menjadi sembab dan akhirnya terjadi hyperplasia.
  3. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah: keadaan sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap pemenuhan gizi ibu yang pada akhirnya akan mempengaruhin pembentukan ovum abnormal yang mengarah pada terbentuknya mola hidatidosa.
  4. Paritas tinggi: ibu dengan paritas tinggi, memiliki kemungkinan terjadinya abnormalitas pada kehamilan berikutnya,sehingga ada kemungkinan kehamilan berkembang menjadi mola hidatidosa.
  5. Kekurangan protein:sesuai dengan fungsi protein untuk pembentukan jaringan atau fetus sehingga apabila terjadi kekurangan protein saat hamil menyebabkan gangguan pembentukan fetus secara sempurna yang menimbulkan jonjot-jonjot korion.
  6. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas

 

2.1.3 Patofisiologi

Jonjot-jonjot korion tumbuh  berganda dan mengandung cairan merupakan kista-kista kecil seperti anggur. Biasanya didalamnya tidak berisi embrio. Secara histopatologik kadang-kadang ditemukan jaringan mola pada plasenta dengan bayi normal. Bisa juga terjadi kehamilan ganda mola adalah satu janin tumbuh dan yang satu lagi menjadi mola hidatidosa. Gelembung mola besarnya bervariasi, mulai dari yang kecil sampai berdiameter lebih dari satu cm. mola parsialis adalah bila dijumpai janin dan gelembung-gelembung mola.

ü  Secara mikroskopik terlihat trias :

1)      Proliferasi dari trofoblast

2)      Degenerasi hidropik dari stroma vili dan kesembaban

3)      Terlambat atau hilangnya pembuluh darah dan stroma.

Sel-sel langhans tampak seperti sel polidral dengan inti terang dan adanya sel sinsisial giantik (syncytial giant cell). Pada kasus mola banyaak kita jumpai ovarium dengan kista lutein ganda berdiameter 10 cm atau lebih. Kista lutein akan berangsur-angsur mengecil dan hilang setelah mola hidatidosa sembuh.

 

 

2.1.4 Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah :

a.Amenore dan tanda-tanda kehamilan

b.Perdarahan pervaginam berulang. Darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola.

c.Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.                                                      

d.Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya DJJ sekalipun

   uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih.

e.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu.

f. hiperemesis lebih sering terjadi, lebih keras dan lebih lama.

g. mungkin timbul preeklampsia dan eklampsia. Terjadinya preeclampsia dan

   eklampsia sebelum minggu kedau empat menuju kearah mola hidatidosa.

h.kadar gonadotropin tinggi dalam darah serum pada hari ke 100 atau lebih sesudah

   periode menstruasi terakhir.

 

2.1.5 Komplikasi

  • Perdarahan yang hebat sampai syok, kalau tidak segera ditolong dapat berakibat fatal.
  • Perdarahan berulang-ulang yang dapat menyebabkan anemia.
  • Infeksi sekunder.
  • Perforasi karena kegananasan dan Karena tindakan.
  • Menjadi ganas (PTG) pada kira-kira 18%-20% kasus akan menjadi mola destruens atau koriokarsinoma.

 

2.1.6 Gambaran Diagnostik

Kita harus mempertimbangkan kemungkinan data-data tentang menstruasi atau uterus hamil yang lebih lanjut membesar akibat mioma, hidramnion, atau terutama akibat janin lebih dari satu.

ü  Ultrasonografi

Ketapatan diagnostic yang terbesar diperoleh dari gambaran USG yang khas pada mola hidatidosa keamanan dan ketepatan pada pemeriksaan sonografi membuat pemeriksaan ini menjadi prosedur pilihan. Tetapi kita harus ingat bahwa beberapa stuktur lainnya dapat memperlihatkan gambaran yang serupa dengan gambaran mola hidatidosa, termasuk mioma uteri dengan kehamilan dini dan kehamilan dengan janin lebih dari satu. Tinjauan cermat mengenai riwayat penyakit bersama hasil evaluasi pemeriksaan USG yang cermat dan kalau perlu diulang satu atau dua minggu kemudian, harus bias menghindari diagnose mola hidatidosa lewat USG yang keliru ketika kehamilan sebenarnya normal.

                                 

ü  Amniografi

Penggunaan bahan radiopak yang dimasukkan kedalam uterus secara transabdominal akan memberikan gambaran radiografik khas pada mola hidatidosa. Cavum uteri ditembus dengan jarum untuk amniosintesis. 20ml hypaque disuntikkan segera dan 5 hingga 10 menit kemudian difoto anteroposterior. Pola sinar x seperti sarang tawon, khas ditimbulkan oleh bahan kontraks yang mengelilingi gelembung-gelembung corion. Pada kehamilan normal terdapat sedikit resiko abortus akibat penyuntikan bahan kontraks hipertonik intra amnion. Dengan semakin banyaknya sarana USG yang tersedia, teknik pemeriksaan amniografi sudah jarang dipakai lagi.

ü  Pengukuran kadar corionic gonadotropin

           Pengukuran kadar corionic gonadotropin kadang-kadang digunakan untuk membuat diagnose jika metode pengukuran secara kuantitatif yang andal telah tersedia, dan variasinya cukup besar pada sekresi gonadotropin dalam kehamilan normal sudah dipahami khusus kenaikan kadar gonadotropin yang kadang-kadang menyertai kehamilan dengan janin lebih dari satu.

ü  Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola (cara Acosta-Sison)

ü  2.1.7 Penatalaksanaan

  • Kuretase isap (suction curettage)

Apabila pasien menginginkan keturunan di kemudian hari, penanganan yang dipilih adalah evakuasi jaringan mola dengan kuretase isap. Dua sampai empat unit darah harus tersedia karena evakuasi dapat disertai dengan kehilangan darah yang banyak.setelah evakuasi awal, kontraksi uterus dirangsang dengan oksitosin intravena untuk mengurangi kehilangan darah.jaringan-jaringan sisa dibersikan dengan kuretase tajam.spesimennya dikirim secara terpisah ke laboratorium patologi.

 

 

  • Histerektomi abdominal

Pada mola ini merupakan suatu alternatif lain bagi pasien yang tidak lagi menginginkan kehamilan di kemudian hari.Histerektomi menyingkirkan kemungkinan berfungsinya sel-sel trofoblastik yang tertinggal di dalam uterus setelah kuretase isap dan mengurai resiko penyakit trofoblastik residual sampai 3-5%.keputusan mengenai salpingo-ooforektomi adalah tersendiri.setelah pengeluaran mola dan pengurangan stimulas chorionic gonadotropin,kista teka-lutein ovarium mengalami regresi secara spontan. Pengangkatan dengan pembedahan hanya diperlukan bila ada kaitan dengan

torsi atau perdarahan.

  • Program lanjut

Setelah evakuasi suatu kehamilan mola pasien diamati dengan seksama terhadap serangkaian titer chorionic gonadotropin (HCG), menggunakan  radioimmunoassay untuk submit beta, setiap satu atau dua minggu sampai negative. Hilangnya HCG secara sempurna diperkirakan terjadi dalam 9-15 minggu setelah pengosongan uterus. Pasien disarankan untuk menghindari kehamilan sampai titer chorionic gonadotropin negative selama satu tahun. Biasanya diberikan kontrasepsi oral estrogen-progestin. Pelvis diperiksa secara berkala untuk menilai ukuran uterus, adneksa untuk kista teka-lutein, dan traktus genitalis bagian bawah untuk metastase.

Apabila 2 titer  chorionic gonadotropin yang berurutan stabil (plateu) atau meningkat atau apabila tampak adanya metastase, pasien harus dievaluasi terhadap keganasan neoplasia tropoblastik gestasional dan kemoterapi. Hamper 15-20% pasien dengan Mola Hidatidosa berkembang gejala keganasan ssetetal kuretase isap. Dari kelompok ini hamper 80% menderita penyakit trofoblastik non metastatic sedangkan yang 20% menderita metastase keluar batas uterus, paling sering ke paru-paru atau vagina. Selain titer  chorionic gonadotropin yang persisten atau meningkat, gejala keganasan neoplsia trofoblastik gestasional meliputi perdarahan pervaginam yang persisten, pendarahan intra abdominal dan lesi perdarahan di paru-paru, hepar, otak, atau ogan-organ lainnya.

 

 

 

 

2.2 Konsep Dasar Keperawatan

2.2.1 PENGKAJIAN

  1. a.      Biodata

1)      Nama

Sebagai identitas bagi pelayanan kesehatan/Rumah Sakit/ Klinik atau catat apakah klien pernah dirawat disini atau tidak.

2)      Umur

Digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan terapi dan tindakan, juga sebagai acuan pada umur berapa penyakit/kelainan tersebut terjadi. Pada keterangan sering terjadi pada usia produktif 25 – 45 tahun.

3)      Alamat

Sebagai gambaran tentang lingkungan tempat tinggal klien apakah dekat atau jauh dari pelayanan kesehatan khususnya dalam pemeriksaan kehamilan.

4)      Pendidikan

Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien sehingga akan memudahkan dalam pemberian penjelasan dan pengetahuan tentang gejala / keluhan selama di rumah atau Rumah Sakit.

5)      Status Perkawinan

Dengan status perkawinan mengetahui berapa kali klien mengalami kehamilan Mola Hidatidosa atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan.

6)      Agama

Untuk mengetahui gambaran dan spiritual klien sehingga memudahkan dalam memberikan bimbingan keagamaan.

7)      Nama Suami

Agar diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam pembiayaan dan pemberian persetujuan dalam perawatan.

8)      Pekerjaan

Untuk mengetahui keadaan aktivitas sehari-hari dari klien, sehingga memungkinkan menjadi faktor resiko terjadinya kehamilan Mola Hidatidosa.

b. Keluhan utama            
Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang.

c. Riwayat kesehatan                      

  • Riwayat kesehatan sekarang : Yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
  • Riwayat penyakit masa lalu : Mengkaji riwayat penyakit pada masa lalu yang pernah diderita oleh klien misalnya Diabetes Mellitus, penyakit jantung, hipertensi, masalah ginekologi/urinary, penyakit endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.
  • Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan, kapan, oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.
  • Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
  • Riwayat kesehatan reproduksi :
    Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluhan yang menyertainya.

 

d. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas

Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.

Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluhan yang menyertainya.

 

 

e. Riwayat pemakaian obat

Kaji riwayat pemakaian obat-obatan kontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

  1. g.    Pola aktivitas sehari-hari

Kaji mengenai aktivitas, sirkulasi, pernapasan, cairan, eliminasi, kenyamanan/nyeri, keamanan, baik sebelum dan saat sakit.

  • Aktivitas : kelemahan, kesulitan ambulasi.
  • Sirkulasi : Takikardia, berkeringat, pucat, hipotensi (tanda syok) dan edema jaringan.
  • Pernapasan : pernapasan dangkal, takipnea.
  • Cairan :

v  Anoreksia, mual/muntah; haus.

v  Muntah proyektil.

v  Membran mukosa kering, lidah bengkak, turgor kulit buruk.

  • Eliminasi :

v  Ketidakmampuan defekasi dan flatus.

v  Diare (kadang-kadang).

v  Cegukan; distensi abdomen.

v  Penurunan haluaran urine, warna gelap.

v  Penurunan/tak ada bising usus (ileus); bunyi keras hilang timbul, bising usus kasar (obstruksi); kekakuan abdomen, nyeri tekan. Hiperesonan/timpani (ileus); hilang suara pekak diatas hati (udara bebas dalam abdomen).

  • Kenyamanan/ nyeri : Nyeri abdomen, Distensi, kaku, nyeri tekan.
  • Keamanan : Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis); infeksi pasca-melahirkan, abses retroperitoneal.

g. Data psikososial
Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan.

h. Status sosio-ekonomi
Kaji masalah finansial klien

i. Data spiritual
Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.

j. Pemeriksaan fisik

  • Inspeksi : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fisik, dan seterusnya.
  • Palpasi : merasakan suatu edema, mengevaluasi edema, menentukan karakter nadi, mencatat suhu, derajat kelembaban, mencubit kulit untuk mengamati turgor dan tekstur kulit, menentukan tegangan/tonus otot, menentukan kekuatan kontraksi uterus atau respon nyeri yang abnormal,
    memperhatikan posisi janin.
  • Perkusi : menggunakan jari, ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan, massa atau konsolidasi. Kemudian menggunakan palu perkusi, ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak
  • Auskultasi : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.

k. Pemeriksaan laboratorium : darah dan urine serta pemeriksaan penunjang rontgen, USG, biopsi, pap smear

 

2.2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Resiko tinggi terhadap devisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan.
  2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder.
  3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan Penurunan komponen seluler yang di butuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrien ke sel.
  4. Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
  5. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan intrauteri.
  6. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.

                                                        

2.2.3        INTERVENSI KEPERAWATAN :

  1. Resiko tinggi terhadap devisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan

Tujuan      :

Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output jumlah maupun kualitas baik.

Kriteria hasil: TTV stabil, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik.

Intervensi :

  1. Kaji kondisi status hemodinamika

Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi

  1. Ukur pengeluaran harian

Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal

  1. Catat haluaran dan pemasukan

Rasional : Mengetahuai penurunanan sirkulasi terhadap destruksi sel darah merah.

  1. Observasi Nadi dan Tensi

Rasional : Mengetahui tanda hipovolume (perdarahan).

  1. Berikan diet halus

Rasional : Memudahkan penyerapan diet

  1. Nilai hasil lab. HB/HT

Rasional : Menghindari perdarahan spontan karena proliferasi sel darah merah.

  1. Berikan sejumlah cairan IV sesuai indikasi

Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif

  1. Evaluasi status hemodinamika.

Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik.

 

  1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab.

Tujuan      :

Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan

kriteria hasil: TTV dalam batas normal, Ekspresi tenang, Hasil laboraturium dalam batas normal.

Intervensi :

  1. Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau

Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi

  1. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan

Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar.

  1. Lakukan perawatan vulva

Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.

  1. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda infeksi

Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi

  1. Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama selama masa perdarahan

Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

  1. Batasi pengunjung dan ajari pengunjung untuk mencuci tangan yang baik.

Rasional : Mencegah cross infeksi.

  1. Observasi suhu tubuh.

Rasional : Mengetahui infeksi lanjut.

 

  1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan Penurunan komponen seluler yang di butuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrien ke sel.

Tujuan      :

Tidak terjadi Perubahan perfusi jaringan selama perawatan perdarahan                  

kriteria hasil:-Hb dalam batas normal

                      -turgor kulit baik,vital sign dalam batas normal

                      -tidak ada mual muntah

                      -tidak ada perdarahan

                       

Intervensi :

  1. Kaji tanda vital, warna kulit, ujung jari

Rasional : Memberikan informasi mengenai perfusi

  1. Pertahankan suhu lingkungan dan tubuh.

Rasional : Memperlancar vaskularisasi kejaringan perifer.

  1. Nilai hasil lab.HB/HT dan jumlah SDM GDA.

Rasional : Mengidentifikasi/memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan.

  1. Berikan sel darah merah seuai program terapi.

Rasional : Memaksimalkan transportasi oksigen kejaringan.

 

  1. Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi

Tujuan :

Klien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi

Kriteria hasil: klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan, melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur

Intervensi :             

  1. Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas

Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk mencegah kondisi klien lebih buruk

  1. Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan

Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi

  1. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari

Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal

  1. Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien

Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien, pada Mola Hidatidosa, istirahat mutlak sangat diperlukan

  1. Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas

Rasional : Menilai kondisi umum klien

 

  1. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan  kerusakan jaringan intrauteri

Tujuan      :

Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami

Kriteria hasil:- klien mengungkapkan nyeri hilang/berkurang

                      -tampak rileks

                      -mampu beristirahat dengan tepat

Intervensi :

  1. Kaji kondisi nyeri yang dialami klien

Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun diskripsi.

  1. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya

Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri

  1. Kolaborasi pemberian analgetika

Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik

  1. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.

Tujuan      :

Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat

Kriteria hasil:-klien tenang

                      -klien dapat memahami informasi tentang penyakitnya

                             -klien  dapat menerima kondisinya

Intervensi :

  1. Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit.

Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas.

  1. Kaji derajat kecemasan yang dialami klien.

Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit.

  1. Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan.

Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien.

  1. Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama.

Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan.

  1. Terangkan hal-hal seputar Mola Hidatidosa yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga.

Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

TINJAUAN KASUS

                                                                                      

3.1 Pengkajian Kehamilan :

       Contoh Kasus:

    Ny.N datAng ke RS Bersalin Kasih Ibu pada tanggal 11 februari 2007,pukul 08.00 dengan keluhan keluar darah sedikit-sedikit pada vaginanya,klien merasa pusing,penglihatan berkunang-kunang,sering muntah-muntah yang berlebihan sering gelisah.
I. DATA SUBYEKTIF

1. BIODATA                                                                                                              

a. Nama : Ny. N

b. Umur : 25 tahun

c. Nama suami : Tn. A

d. Umur : 26 tahun

e. Suku/bangsa : Jawa/Indonesia

f. Status Perkawinan : Menikah, sah menurut Agama (istri pertama, lama pernikahan

   3 Tahun)

g. Agama : Islam

h. Pendidikan : SMA

i. Alamat :  : Nabang Baru No 13. Metro Timur

j. Diagnosa : Mola Hidatidosa

 

2. RIWAYAT KEPERAWATAN/KESEHATAN

a. Keluhan Utama :

Klien merasakan keluar darah sedikit-sedikit, klien merasa pusing penglihatannya kunang-kunang, sering muntah-muntah yang berlebihan dan sering gelisah.

b. Riwayat keperawatan/kesehatan sekarang : klien mengatakan keluar darah sedikit-sedikit selama 1 minggu dang anti pembalut 2-3 kali sehari.

c.Riwayat keperawatan/kesehatan masa lalu :

  • Penyakit Jantung : tidak ada
  • Penyakit Hipertensi : tidak ada
  • Penyakit Hepar : tidak ada
  • Penyakit DM : tidak ada
  • Penyakit Anemia : tidak ada
  • Penyakit PMS, HIV, AIDS : tidak ada
  • Penyakit Campak : tidak ada
  • Tuberculosis : tidak ada 
  • Operasi : tidak ada
  1. Riwayat keperawatan/kesehatan keluarga : keluarga klien tidak memiliki penyakit keturunan.
  2. Riwayat keperawatan/kesehatan lingkungan :  lingkungan tempat tinggal klien baik dan bersih, klien rajin membersihkan rumah, sehingga sedikit sekali ada dampak yang berpengaruh buruk terhadap kesehatannya.
  3. Riwayat psikososial : Dalam menghadapi kehamilan ini klien merasa senang karena kehamilan yang kedua ini memang sudah direncanakan dan mendapat dukungan dari suami dan keluarga
  4. Latar belakang budaya : budaya klien tidak mempengaruhi kesehatan dari klien, klien tidak ada pantangan mengkonsumsi makanan apa pun
  5. Dukungan Keluarga :keluarga mendukung kehamilan kedua klien
  6. Riwayat Kebidanan

1) riwayat haid :

ü  Menarche : 14 tahun

ü  Siklus haid : teratur 28-30 hari

ü  Keluhan selama haid : Tidak ada keluhan selama haid

ü  Hari pertama haid terakhir (HPHT) :  HPHT 29 Oktober 2006

ü  Tafsiran persalinan : 5 Agustus 2007

2) Riwayat perkawinan:sah menurut agama dan negara

3) Riwayat kehamilan dan persalinan

G2P10001

KEHAMILAN

PERSALINAN

NIFAS

ANAK

KB

No

Suami ke

Keluhan

Usia kehamilan

Penolong

Cara persalinan

Penyulit

 

Sex

BBL

Usia

 

1

1

Mual, pusing

38 mggu

Bidan

Pervaginam

Tidak

Ada

Baik

Lk

3200 gr

1 thn

suntik

2

HAMIL INI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Riwayat kehamilan sekarang:

–          Pemeriksaan kehamilan sebelumnya: 1x

–          Terapi yang diterima: tidak ada

–          HE yang sudah didapat:-manfaat pemberian asi esklusif

                                             -pemberian pola diet pada ibu hamil

                                             -perawatan payudara

3. POLA-POLA FUNGSI KESEHATAN:

a. Pola persepsi-pemeliharaan kesehatan

 Sebelum Hamil : mandi dan ganti pakaian 2x sehari hygiene terjaga

 Saat Hamil :mandi dan ganti pakaian 2x sehari hygiene terjaga

b. Pola aktivitas_latihan

 Sebelum Hamil: klien dapat melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasa

Saat Hamil : klien mengatakan masih bisa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasa

c. Pola nutrisi-metabolisme

Sebelum hamil : klien mengatakan biasanya makan 2-3 kali sehari dengan nasi,sayur,ikan/tempe, minum 7-8 gelas/hari

Saat hamil : klien tidak mengalami perubahan, makan 2-3 kali sehari, minum 7-8 gelas/hari. Disertai mual dan muntah yang sering

d. Pola eliminasi

Sebelum hamil: BAK 10x sehari, BAB 1x sehari

Saat hamil: BAK 10x sehari, BAB 1x sehari

e. Pola tidur-istirahat

Sebelum hamil: klien mengatakan tidur siang 2 jam dan malam 9 jam dengan nyenyak

Saat hamil: klien mengatakan pola istirahatnya sama seperti sebelum hamil

f. Pola kognitif-perseptual

Sebelum hamil: klien menjaga kesehatan diri sendiri dan keluarganya

Saat hamil:klien mengerti tentang kehamilannya dan memahami kehamilannya sehingga klien berusaha untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan janinnya

g. Pola toleransi-koping stress

Sebelum hamil: klien mengatakan saat ada masalah, klien menggunakan mekanisme koping yang baik

Saat hamil: klien mengatakan saat ada masalah, klien menggunakan mekanisme koping yang baik

 

h. Pola persepsi diri-konsep diri

Sebelum hamil: konsep diri klien baik

Saat hamil: setelah mengetahui kehamilannya dengan molla hidatidosa, klien merasa cemas,gelisah

  1. Pola seksual-reproduksi

Sebelum hamil : hubungan seksual dilakukan 3 x 1 minggu

Saat hamil : hubungan seksual dilakukan 1x 1 minggu

j. Pola hubungan dan peran

Sebelum hamil: klien menjalankan perannya sebagai ibu dengan baik

Saat hamil: klien menjalankan perannya sebagai ibu dengan baik

k. Pola nilai dan keyakinan

Sebelum hamil : taat menjalankankan ibadah

Saat hamil : taat menjalankan ibadah

II. DATA OBJEKTIF

  1. Tanda-tanda vital:
    1. Tekanan darah:110/80  mmhg
    2. Nadi: 80x/menit
    3. Suhu tubuh: 37,5 C
    4. Pernapasan: 22x/menit
    5. Tinggi badan:164 cm
    6. Berat badan:54 kg
    7. Pemeriksaan fisik (head to toe):
      1. Kepala:

1)      Rambut: hitam, rapi, bersih, tidak ada ketombe,tidak rontok

2)      Muka: simetris, tidak ada edema

3)      Mata: konjungtiva pucat, sclera tidak ikterus

4)      Hidung: paten, tidak ada sinusitis, bentuk simetris

5)      Gigi dan mulut: tidak ada karies, tidak  stomatitis, bersih

6)      Telinga: bersih, pendengaran baik, simetris kanan/kiri

  1. Leher

1)      Kelenjar tiroid:tidak ada pembesaran

2)      Vena jugularis: tidak ada pembesaran

  1. Dada

1)      Jantung: terdapat Lup dup teratur

2)      Paru:tidak ada bunyi ronchi dan wheezing , suara nafas vesikuler

3)      Payudara: bentuk simetris, membesar, bentuk puting susu menonjol, tidak ada hiperpigmentasi, tidak ada massa, tidak ada pengeluaran, bersih

  1. Abdomen

1)      Bentuk: uterus lebih besar dari usia kehamilan

2)      Strie: terlihat sedikit

3)      Linea: terlihat linea alba

4)      Bising usus: 15x/mnt

5)      Palpasi Leopold: TFU 3 jari dibawah pusat

6)      DJJ: tidak terdengar denyut jantung janin

  1. Genetalia: bersih, tidak ada penyakit kelamin, ada pengeluaran darah pervaginam dan terlihat gelembung-gelembung mola seperti anggur
  2. Ekstrimitas:tidak ada  edema, tidak ada varises, reflek patella (+) kanan kiri
  3. Pemeriksaan panggul luar:tidak dilakukan
  4. Tafsiran berat janin: –
  5. Pemeriksaan penunjang:
    1) Laboratorium
         HB : 9 gr%
         Protein urine : tidak dilakukan
    2) Pemeriksaan kadar Beta HCG darah : –
    3) Foto toraks : tidak ada gambaran emboli udara
    4) USG : tidak terlihat rangka janin, terlihat gelembung-gelembung mola seperti buah anggur          gambaran seperti sarang tawon, seperti badai salju.

 

Analisa Data

 

Data

Etiologi

Masalah Keperawatan

DS :

–            Mengeluh  perdarahan sudah 6 hari, badan lemah.

DO :

–            Perdarahan pervaginal bergumpal.

–            Hb. 9 mg%

–            Kulit agak pucat

–            Turgor kulit jelek

–            TD:110/80, nadi:80x/menit, suhu: 37C, rr: 20x/menit.

 

DS:

–          Klien menyatakan badannya lemah,dan mengeluh perdarahan selama 6hari

DO:  a) akral dingin

         b) turgor kulit buruk,

              agak pucat.

         c) CRT 3 detik

         d) TD:110/80, nadi

              80x/menit, suhu

            37C.

        e) Hb: 9 gr%

        f) perdarahan 100cc,

            warna merah segar

            bergumpal.

 

 

DS :

–          Klien menyatakan tidak tahu kalau dirinya hamil gelembung-gelembung anggur.

–          Klien menyatakan bingung apa yang harus dilakukan.

 

DO: klien terlihat gelisah.

 

 

 

DS:- klien mengeluh per

         darahan selama 6 hari

DO: – Keadaan vulva

           lembab dan kotor

           akibat perdarahan.

–          Td: 110/80, nadi:

80x/menit, suhu:37C, rr:22x/menit.

 

 

DS :

–          Menyatakan dirinya sering mual dan muntah

DO :             

-Klien tampak lemah, pucat

-Mual dan muntah 2 kali

 sehari

-BB:54kg, TB:164cm

-perdarahan 100cc warna

  merah segar bergumpa

-Albumin: 3,8 gr/dl

 

 

Perdarahan pervaginam akibat kerusakan jaringan intra uterus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penurunan komponen seluler yang dibutuhkan untuk pengiriman nutrien sel akibat perdarahan pervaginam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kurang pengetahuan tentang kondisi penyakitnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perdarahan yang mengakibat         

kan kondisi vulva hygiene menjadi berkurang dan selalu lembab.

 

 

 

 

 

 

 

 

Mual dan muntah yang berlebihan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Devisit Volume Cairan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perubahan perfusi jaringan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

          Cemas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Resiko tinggi infeksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Resiko kurangnya kebutuhan nutrisi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.2 Diagnosa Keperawatan :

  1. Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
  2. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang dibutuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel akibat pendarahan.
  3. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi penyakitnya.
  4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab.
  5. Resiko kurangnya kebutuhan nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah yang berlebihan.

 

5.3  Intervensi Keperawatan :

Dx 1 : Devisit Volume Cairan berhubungan dengan Perdarahan pervaginam

ü  Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, maka tidak terjadi devisit volume cairan, antara intake dan output jumlah maupun kualitasnya baik.

ü  Kriteria hasil: TTV stabil, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik.

ü  Intervensi :

  1. Kaji kondisi status hemodinamika

Rasional : Pengeluaran cairan pervaginam memiliki karakteristik bervariasi.

  1. Observasi Nadi dan Tensi

Rasional : Mengetahui tanda hipovolemik (perdarahan).

  1. Ukur intake dan output harian

Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginam

  1. Anjurkan klien memenuhi kebutuhan cairan

Rasional : Motivasi untuk memenuhi kebutuhan cairan hariannya.

  1. Berikan sejumlah cairan IV sesuai indikasi

Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif

 

 Dx 2: Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan Penurunan komponen   seluler yang di butuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrien ke sel.

Tujuan      :Tidak terjadi Perubahan perfusi jaringan selama perawatan perdarahan      

kriteria hasil:-Hb dalam batas normal

                      -turgor kulit baik,vital sign dalam batas normal

                      -tidak ada mual muntah

                      -tidak ada perdarahan

                       

Intervensi :

  1. Kaji tanda vital, warna kulit, ujung jari

Rasional : Memberikan informasi mengenai perfusi

  1. Pertahankan suhu lingkungan dan tubuh.

Rasional : Memperlancar vaskularisasi kejaringan perifer.

  1. Nilai hasil lab.HB/HT dan jumlah SDM GDA.

Rasional : Mengidentifikasi/memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan.

  1. Berikan sel darah merah seuai program terapi.

Rasional : Memaksimalkan transportasi oksigen kejaringan

 

Dx 3 : Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi penyakitnya.

ü  Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien tidak merasa cemas, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat

ü  Kriteria hasil: – klien menjadi tenang

                      -klien dapat memahami informasi tentang penyakitnya

                      -klien  dapat menerima kondisinya.

ü  Intervensi :

  1. Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit

Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas

  1. Kaji derajat kecemasan yang dialami klien

Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penilaian objektif klien tentang penyakit

  1. Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan

Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien

  1. Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama

Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan

  1. Terangkan hal-hal seputar Molahidatidosa yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga

  Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.

 

Dx 4 : Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab.

ü  Tujuan      :Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan

ü  kriteria hasil: TTV dalam batas normal, Ekspresi tenang, Hasil laboraturium dalam batas normal.

ü  Intervensi :

a.Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau

Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi

b. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan

Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar.

c .Lakukan perawatan vulva

Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.

d. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda infeksi

Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi

e .Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama selama masa perdarahan

Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

  1. Batasi pengunjung dan ajari pengunjung untuk mencuci tangan yang baik.

Rasional : Mencegah cross infeksi.

  1. Observasi suhu tubuh.

Rasional : Mengetahui infeksi lanjut.

 

 

 

Dx 5 : Resiko kurangnya kebutuhan nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah yang berlebihan.

ü  Tujuan :
Nutrisi kebutuhan harian klien akan terpenuhi.

ü  Kriteria hasil:- Nafsu makan meningkat
                       –  Porsi makan dihabiskan

ü  Intervensi :
a. Kaji status nutrisi klien
   Rasional :
   Sebagai awal untuk menetapkan rencana pemberian nutrisi

b. Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering
    Rasional :
    Makan sedikit demi sedikit tapi sering, dapat membantu untuk                    meminimalkan anoreksia
c. Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi
Rasional :
Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien
d. Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional :
Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi
e. Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan, anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien
Rasional :
Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan

5.4  Implementasi

Dx 1 : Devisit Volume Cairan berhubungan dengan Perdarahan

 

Waktu

Implementasi

Hasil

08.00

 

 

08.15

 

 

08.20

 

 

 

08.30

  1. Mengkaji kondisi status hemodinamika klien.
  2. Mengobservasi Nadi dan Tensi Klien.
  3. Mengukur jumlah intake dan output, menerangkan bahaya pengeluaran cairan yang berlebihan.
  4.  Menganjurkan klien cukup banyak minum dan makan,   mengajarkan cara menentukan jumlah minum yang diperlukan selama perdarahan.
  5. Memberikan sejumlah cairan IV sesuai indikasi dokter

.

  1. Perdarahan merah segar bergumpal :100cc
  2. TD:110/80, nadi:80x/menit
  3. Intake:1200cc, output: 1300cc, dan pasien telah memahami bahaya dari pengeluaran cairan yang berlebihan.
  4. Pasien menyatakan diri akan banyak minum dan makan.
  5. Memberikan cairan Nacl o,9% ,1000 ml/hari

 

Dx 2: Perubahan perfusi jaringan berhubungan penurunan komponen seluler yang dibutuhkan untuk pengiriman oksigen/ nutrien ke sel akibat perdarahan

Waktu

implementasi

Hasil

08.30

  1. Mengaji tanda-tanda vital, warna kulit, ujung jari
  2. Mempertahankan suhu lingkungan dan tubuh
  3. Menilai hasil lab. HB/HT dan jumlah SDM GDA
  4. Memberikan tablet Fe 500 mg/hari sesuai advise dokter
  1. TD: 110/80, nadi: 80x/menit, RR: 20x/menit, suhu: 37C
  2. Pasien agak pucat, CRT: 3 detik
  3. Hb: 10 gr%

 

 

Dx 3 : Cemas berhubungan dengan  kurang pengetahuan

Waktu

Implementasi

Hasil

09.00

1.      Mengkaji tingkat pengetahuan atau persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit

  1. Mengkaji derajat kecemasan yang dialami klien
  2. Bantu Klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
  3. Menerapkan bahwa ibu saat ini sebenarnya hamil gelembung-gelembung anggur.
  4. Menerangkan agar ibu banyak istirahat

 

 

 

  1. Pasien dan keluarga belum mengetahui bahwa ibu hamil gelembung-gelembung mola.
  2. Setelah diberikan penjelasan tentang penyakitnya ibu memahami kondisi penyakitnya.
  3. Ibu menyatakan mau banyak istirahat.

 

 

 

 

 

 

 

Dx 4: Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab

waktu

Implementasi

Hasil

09.30

  1. Mengkaji kondisi keluaran/dishart yang keluar; jumlah, warna dan bau
  2. Meneranakan kepada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan
  3. Melakukan  perawatan vulva
  4. Menerangkan kepada klien cara mengidentifikasi tanda infeksi
  5. Menganjurkan pada suami untuk tidak melaukan hubungan senggama selama masa perdarahan
  6. Membatasi klien dan mengajari klien untuk mencuci tangan yang baik

1.      Perdarahan pervaginam warna merah segar bergumpal, peradarahan pervaginam 100cc.

  1. Setelah diberikan penjelasan, klien mengetahui tentang penting perawatan vulva hygiene.
  2. Setelah diberikan penjelasan, klien mengetahui tentang cara mengidentifikasi tanda-tanda infeka dan harus segera lapor ke dokter/perawat.
  3. Setelah dilakukan tindakan vulva hygiene, vulva klien bersih
  4. Suhu 37C

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dx 5 : Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah berlebihan

Waktu

implementasi

Hasil

10.00

1.      Mengkaji status nutrisi klien.

  1. Menganjurkan klien makan sedikit demi sedikit tapi sering
  2. Menganjurkan klien untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi
  3. Menimbang berat badan klien sesuai indikasi
  4. Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan, anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien

 

1.BB: 55 kg, TB: 164 cm, albumin: 4 gr/dl, Hb: 10 %

2.klien menyatakan mau makan sedikit dan sering dan juga bervariasi jenis makanan

3.keluarga klien membawakan makanan kesukaan klien yang memenuhi standar nutrisi dan zat gizi.

 

 

5.5  Evaluasi

Dx 1 : Devisit Volume Cairan berhubungan dengan Perdarahan pervaginam.

                 S

             O

A

P

Klien menyatakan banyak minum

-Vol darah + 100cc keluar, warna merah segar

bergumpal

-TTV: TD:110/80

          Nadi:80x/menit

Suhu: 37C

Rr:20x/menit

–          Mukosa:agak lembab

–          Turgor kulit:membaik

Masalah teratasi sebagian

Lanjutkan intervensi 2, 3, 4,5

 

 

 

 

Dx 2: Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang dibutuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel akibat perdarahan.

S

O

A

P

–          Klien mengatakan badannya tidak lemah lagi

–          Hb:10gr%

–          Turgor kulit:membaik

–          TTV: Td: 110/80, nadi: 80x/menit, suhu: 37C, rr:20x/menit

–          Mual muntah: 1x/hari

–          Perdarahan:100cc/hari

Masalah teratasi sebagian

Lanjutkan intervensi

 

      Dx 3 :Cemas berhubungan dengan  kurang pengetahuan.

S

O

A

P

–          Klien megerti bahwa dirinya hamil gelembung-gelembung anggur dan harus dikuret

–          Klien menyatakan bahwa ia banyak istirahat

–          Klien tampak tenang

–          Klien menerima kondisinya

Masalah teratasi

Intervensi dihentikan

 

 

 

 

 

Dx 4: Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab.

S

O

A

P

–          Klien menyatakan jumlah perdarahannya berkurang dan rajin melakukan perawatan vulva hygiene sendiri

–          TTV: Td:110/80, nadi: 80x/menit, suhu: 37C, rr: 20x/menit

–          Ekspresi wajah: pasien tampak tenang

–          Tidak ada tanda-tanda infeksi (tidak demam, vulva tidak merah, tidak bengkak, tidak keluar nanah)

Masalah teratasi

Intervensi dihentikan

 

Dx 5: Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah berlebihan.

S

O

A

P

–          klien menyatakan nafsu makan meningkat

–          klien menyatakan porsi makan dihabiskan (porsi sedikit tapi sering)

–          BB: 55kg

–          TB:164cm

–          Albumin: 4gr/dl

–          Hb: 10gr%

Masalah teratasi

Intervensi dihentikan

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB iV

                          Kesenjangan Teori dan Kasus

 

4.1 pembahasan kesenjangan teori dan kasus

Teori pada Pasien dengan Diagnosa Mola Hidatidosa, salah satu gejalanya pasien akan mengatakan nyeri. Tetapi pada Ny. N tidak timbul gejala nyeri pada kehamilan mola hidatidosa karena memang persepsi dan toleransi terhadap nyeri pada pasien satu dan pasien yang lain sangat berbeda.

Nyeri merupakan suatu perasaan tidak nyaman yang betul-betul subyektif dan hanya orang yang menderinya yang dapat menjelaskan serta mengevaluasinya. Nyeri dapat timbul oleh beberapa stimulasi tetapi reaksi terhadap nyeri tidak dapat diukur dengan obyektif. Dan respon seseorang terhadap nyeri dipengaruhi oleh emosi, tingkat kesadaran, latar belakang budaya, pengalaman masa lalu tentang nyeri dan pengertian nyeri, sehingga dapat menganggu kemampuan seseorang untuk beristirahat, konsentrasi serta kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan (Barbara Engram, 1999).

Intensitas nyeri dapat ditemukan dengan berbagai cara salah satunya adalah bertanya kepada klien tentang nyeri atau ketidaknyamanan. Metode lain adalah bertanya kepada klien untuk mengurangi bagaimana gawatnya nyeri yang mendatangkan ketidaknyamanan dengan menggunakan skala 0 sampai 10. dimana skala 0-3 ringan, skala 4-6 nyeri sedang, skala 7-10 nyeri berat (Barbara C. Long, 1996).

Teori pada Pasien dengan Diagnosa Mola Hidatidosa, salah satu gejalanya pasien akan mengatakan nyeri, dan masalah nyeri ini dikaji dengan menggunakan pendekatan P, Q, R, S, T. Dimana P : nyeri meningkat ketika darah keluar pervaginam, Q : frekuensi nyeri sering, berlangsung sebentar dan terasa seperti diremas-remas, R : nyeri terjadi pada abdomen bagian bawah, S : skala nyeri 4 – 5 (sedang), T : nyeri berlangsung sebentar tapi sering ketika darah keluar pervaginam. Serta klien tampak menahan sakit ketika perutnya dipalpasi. Kondisi ini akan menyebabkan masalah keperawatan gangguan rasa nyaman nyeri.

Untuk mengatasi masalah nyeri ini pada klien dengan Mola Hidatidosa, intervensi dapat dibuat dengan tujuan agar nyeri berkurang atau hilang dengan jangka waktu 2 x 24 jam dengan kriteria hasil ekspresi wajah tenang, rileks, pasien tidak mengeluh nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan. Adapun perencanaan yang dibuat adalah sebagai berikut :

  

a.       tentukan sifat, lokasi dan Durasi nyeri, hal ini dilakukan untuk membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapi

b.       kaji stress psikologis klien / pasangan dan respon emosional terhadap kejadian, hal tersebut dilakukan karena ansietas sebagai respon terhadap situasi darurat dapat memperberat derajat ketidaknyamanan

c.        ajarkan tehnik relaksasi dan nafas dalam hal tersebut dilakukan untuk memfokuskan kepada perhatian tertentu atau menurunkan ketegangan otot

d.      berikan lingkungan yang tenang dan aktivitas untuk mengalihkan rasa nyeri rasionalnya dengan lingkungan tenang maka dapat membantu dalam menurunkan tingkat ansietas dan karenanya mereduksi ketidaknyamanank

e.       kolaborasi untuk menghilangkan nyeri.

 

Dalam pelaksanaannya, perawat dapat melakukan semua perencanaan yang telah dibuat, hal ini didukung dengan adanya peran aktif pasien dan keluarga mengikuti proses keperawatan dan keinginan yang besar untuk segera sembuh dari penyakitnya.

Pada Ny. N tidak timbul gejala nyeri pada kehamilan mola hidatidosa karena memang persepsi dan toleransi terhadap nyeri pada pasien satu dan pasien yang lain sangat berbeda. Inilah salah satu alasan respon nyeri perlu dikaji dengan teliti. Penyebab spesifik mungkin sulit ditemukan, namun umumnya sifat dan letak lesi yang mendatangkan nyeri dapat ditentukan dari data-data klinis. Dua macam serabut saraf meneruskan rangsangan nyeri : pada kulit dan otot. Serabut A meneruskan rasa nyeri tajam setempat dan serabut C dari visceral uterus dan otot-otot kurang meneruskan rasa nyeri tumpul setempat. Serabut-serabut aferen ini mempunyai badan-badan sel disebelah dorsal akar ganglion, beberapa akson menyilang garis tengah dan naik ke medulla, otak tengah dan tallamus. Rasa nyeri dirasakan di korteks girus post sentralis, yang dapat menerima impuls yang datang dari dua sisi tubuh. Rasa tidak nyeri pada pasien karena impuls tida dapat diteruskan ke medulla, otak tengah dan tallamus.

     Rangsangan yang biasanya mendatangkan rasa nyeri pada uterus adalah ketegangan dan kerengangan. Usia kehamilan pada Ny. N 15 minggu, 1 hari dan TFU 3 jari dibawah pusat. Memang TFU lebih besar dari usia kehamilan normal yang seharusnya pada usia 16 minggu TFU berada pada setengah pusat dan sympisis pubis. Tapi otot-otot abdomen Ny. N tidak terlalu meregang sehinnga Ny. N tidak merasakan nyeri. Factor psikologis Pasien juga sangat penting menentukan rasa nyeri.

4.2 Kesimpulan

     Mola Hidatidosa ditandai oleh kelainan vili korialis, yang terdiri dari proliferasi trofoblastik dangan derajat yang bervariasi dan edema sroma vilus. Mola biasanya menempati kavum uteri, tetapi kadang-kadang tumor ini ditemukan dalam tuba falopii dan bahkan dalam ovarium. Perkembangan penyakit trofoblastik ini amat menarik, dan ada tidaknya jaringan janin telah digunakan untuk menggolongkannya menjadi bentuk mola yang komplet (klasik) dan parsial (inkomplet).

      Kehamilan mola hidatidosa merupakan kelainan kehamilan yang banyak terjadi pada multipara yang berumur 35-45 tahun.Mengingat banyaknya kasus mola hidatidosa pada wanita umur 35-45 tahun sangat diperlukan suatu penanggulangan secara tepat dan cepat dengan penanganan tingkat kegawatdaruratan obstetric. Observasi dini sangat diperlukan untuk memberikan pertolongan penanganan pertama sehingga tidak memperburuk keadaan pasien. Penerapan asuhan keperawatan sangat membantu dalam perawatan kehamilan mola hidatidosa karena kehamilan ini memerlukan perawatan dan pengobatan secara kontinyu sehingga keluarga perlu dilibatkan agar mampu memberikan perawatan secara mandiri.Pendidikan kesehatan sangat diperlukan mengingat masih banyaknya wanita-wanita khususnya yang berumur 35-45 tahun yang kurang mengerti tentang kehamilan mola hidatidosa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTar Pustaka

 

Bagian obstetric & ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.  1984.  Obstetri Patologi.  Bandung :  Elstar Offset

Bobak, dkk. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4. Jakarta : EGC

Cunningham, F Garry, dkk. 1995. Obstetri Williams. Jakarta : EGC

Johnson & Taylor. 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta : EGC

Mochtar, Rustam . 1998. Sinopsis Obstetri, Jilid I. Jakarta : EGC

Taber Ben-Zion. 1994. Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: