KATA PENGANTA…

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur atas karunia yang Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kami, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Makalah yang kami susun ini mengenai Keperawatan Maternitas yang berjudul Kehamilan Ektopik. Salah satu tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk pengembangan daya penalaran untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi dalam suatu pembelajaran.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Kami juga mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan makalah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,

 

 

 

 

 

Surabaya,             Februari 2012

 

 

 

 

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar ……………………………………………………………….         i

Daftar Isi …………………………………………………………………….           ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang ………………………………………………………… 1

1.2  Rumusan Masalah ……………………………………………………..  2

1.3  Tujuan …………………………………………………………………. 2

1.4  Manfaat ………………………………………………………………..3

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Teori ………………………………………………….   4

2.1.1 Pengertian ………………………………………………………  4

2.1.2 Etiologi …………………………………………………………. 4

2.1.3 Patofisiologi ……………………………………………………. 5         

2.1.4 Manifestasi Klinis ………………………………………………  6

2.1.5 Komplikasi……………………………………………… ……… 6         

2.1.6  Diagnosis ………………………………………………………. 7

2.1.7 Penatalaksanaan Medis ………………………………………..   8

2.2 Konsep Dasar Keperawatan

2.2.1 Pengkajian Keperawatan……………………………………….   10

2.2.2 Analisa Data ……………………………………………………  15

2.2.3 Diagnosa Keperawatan ………………………………………..   15       

2.2.4 Intervensi Keperawatan …………………………………            ………18

BAB III Tinjauan Kasus

3.1 Pengkajian Keperawatan ……………………………………………. 19

3.2 Analisa Data ………………………………………………………… 20

3.3 Diagnosa Keperawatan ……………………………………………..   25

3.4 Intervensi Keperawatan …………………………………………….   27

3.5 Implementasi Keperawatan …………………………………………  27

3.6 Evaluasi Keperawatan ……………………………………………..    30

BAB IV Kesenjangan Teori dan Kasus

4.1 Pembahasan …………………………………………………………32

4.2 Kesimpulan ………………………………………………………….35

Daftar Pustaka …………………………………………………………………….  . iii

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

            Plasenta merupakan suatu organ penting pada ibu hamil yang mulai terbentuk lengkap pada kehamilan ± 16 minggu. Plasenta dikatakan organ penting karena sebagai alat yang memberi makan pada  janin, sebagai alat ekskresi yang mengeluarkan sisa metabolisme sebagai alat respirasi,  sebagai alat menyalurkan pelbagai antibody  ke janin, sebagai pembentuk hormon sehingga bila terjadi gangguan pada plasenta maka akan berakibat fatal pada janin.

            Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.

            Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

            Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.

 

            Solusio plasenta merupakan penyakit kehamilan yang relatif umum dan dapat secara serius membahayakan keadaan ibu. Seorang ibu yang pernah mengalami solusio plasenta, mempunyai resiko yang lebih tinggi mengalami kekambuhan pada kehamilan berikutnya. Solusio plasenta juga cenderung menjadikan morbiditas dan bahkan mortabilitas pada janin dan bayi baru lahir.

1.2              Rumusan Masalah

  1. Apa definisi solusio plasenta ?
  2. Apa etiologi solusio plasenta?
  3.  Bagaimana patofisiologi dari solusio plasenta ?
  4.  Apa saja klasifikasi dari solusio plasenta ?
  5.  Apa saja manifestasi klinis dari solusio plasenta ?
  6.  Apa saja pemeriksaan penunjang untuk pasien dengan solusio plasenta ?
  7.  Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan solusio plasenta ?

1.3              Tujuan

  1. Tujuan umum.

Tujuan umum penulisan makalah ini adalah setelah mengikuti mata kuliah ini  mahasiswa diharapkan dapat memberikan Askep pada pasien dengan Solusio Plasenta dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan

  1. Tujuan Khusus.
  • Menyebutkan pengertian, etiologi dan patofisiologi solusio plasenta
  • Mengidentifikasi jenis dan manifestasi klinik solusio plasenta
  • Membuat diagnosa keperawatan berdasarkan DS dan DO yang berhubungan dengan solusio plasenta
  • Membuat rencana Askep berdasarkan masalah yang ditemukan
  • Melaksanakan rencana keperawatan dengan menerapkan tindakan keperawatan yang tepat.

1.4              Manfaat

Manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu memberikan sidikit informasi kepada mahasiswa tentang solusio plasenta sampai asuhan keperawatan pasien dengan solusio plasenta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1       KONSEP DASAR TEORI

2.1.1    Pengertian

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebelum janin lahir, dengan masa kehamilan 22 minggu / berat janin di atas 500 gr.
Biasanya terjadi dalam triwulan ketiga, walaupun dapat pula terjadi setiap saat dalam kehamilan. Apabila terjadi sebelum kehamilan 20 minggu, mungkin akan dibuat diagnosis abortus imminens. Plasenta dapat terlerpas seluruhnya : solusio plasenta totalis atau sebagian, solusio plasenta parsialis atau hanya sebagian kecil pinggir plasenta yang sering disebut ruptura sinus marginalis. Perdarahan yang terjadi karena terlepasnya plasenta dapat menyelundup keluar dibawah selaput ketuban yaitu pada solusio plasenta dengan perdarahan keluar atau tersembunyi dibelakang plasenta yaitu pada solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi atau kedua-duanya atau perdarahannya menembus selaput ketuban masuk kedalam kantong ketuban.

 

2.1.2        Klasifikasi Solusio Plasenta

  1. 1.            Klasifikasi solusio plasenta secara klinis,

v   Solusio plasenta ringan

Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak akan menyebabkan perdarahan pervaginan berwarna kehitaman dan sedikit. Perut terasa agak sakit atau terus menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah diraba.

v   Solusio plasenta sedang

Plasenta telah terlepas lebih dari seperempat, tanda dan gejala dapat timbul perlahan atau mendadak dengan gejala sakit terus menerus lalu perdarahan pervaginan. Dinding uterus teraba tegang.

 

 

v   Solusio plasenta berat

Plasenta telah terlepas lebih dari dua per tiga permukaannnya. Terjadi sangat tiba-tiba. Biasanya ibu telah jatuh dalam keadaan syok dan janinnya telah meninggal. Uterusnya sangat tegang seperti papan dan sangat nyeri. Perdarahan pervaginam tampak tidak sesuai dengan keadaan syok ibu, terkadang perdarahan pervaginam mungkin saja belum sempat terjadi. Pada keadaan-keadaan di atas besar kemungkinan telah terjadi kelainan pada pembekuan darah dan kelainan/gangguan fungsi ginjal

  1. 2.            Klasifikai solusio plasenta  sesuai dengan derajat terlepasnya plasenta

v  Solusio plasenta partsialis

Bila hanya sebagaian plasenta terlepas dari tepat pelekatnya.

v  Solusio plasenta totalis

Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat pelekatnya.

v  Prolapsus plasenta

Bila plasenta turun kebawah dan dapat teraba pada pemeriksaan dalam.

2.1.3        Etiologi

Hingga kini penyebabnya belum diketahui dengan jelas. Namun keadaan berikut ini dikemukakan sebagai faktor – faktor etiologi nya :

v  Trauma.

v  Tali pusat yang terlalu pendek.

v  Hipertensi kronik.

v  Tekanan pada vena kava inferior akibat uterus membesar.

v  Defisiensi gizi.

v  Pre – eklampsia.

v  Multiparitas.

 

 

2.1.4    Patofisiologi

Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.

Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban.

2.1.5    Manifestasi klinik

  1. Solusio Plasenta Ringan.

v  Ibu maupun janin tidak apa – apa.

v  Perut mungkin terasa agak sakit.

v  Terjadi perdarahan pervaginam, warnanya kehitam – hitaman dan sedikit sekali (< 100 ml).

v  Bagian-bagian janin masih teraba.

  1. Solusio Plasenta Sedang.

v  Tanda dan gejalanya dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta    ringan, kemudian mendadak dengan gejala sakit perut yang terus menerus dan disusul dengan perdarahan pervaginam.

v  Perdarahan (> 100ml, < 500ml).

v  Ibunya syok.

v  Janinnya dalam keadaan gawat.

v  Janin sukar teraba

v  Tanda-tanda persalinan telah ada.

 

 

  1. Solusio Plasenta Berat.

v  Ibunya syok hipovolemik.

v  Janinnya telah meninggal.

v  Uterus sangat tegang seperti papan dan sangat nyeri.

v  Kelainan pembekuan darah.

 

2.1.6     Komplikasi

Komplikasi pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung.

Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:

  1. Perdarahan

Perdarahan pada solusio plasenta dapat terjadi karena kontraksi uterus tidak kuat lagi sehingga perdarahan hampir tidak dapat dicegah. Kontraksi uterus tidak kuat itu disebabkan oleh karena ekstravasasi darah diantara otot – otot miomemetrium

  1. Kelainan pembekuan darah.

Kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hiperfibrinogenemi. Terjadinya hiperfibrinogenemi diterangkan oleh Page (1951) dan Schneider (1955) bahwa dengan masuknya tromboplastin kedalam peredaran darah ibu akibat terjadinya pembekuan darah retroplasenter, sehingga terjadi pembekuan darah intravaskuler dimana-mana yang akan menghabiskan factor – faktor pembekuan darah lainnya terutama fibrinogen. Kadar fibrinogen plasma normal ibu hamil cukup bulan: 450 %, berkisar antara 300-700 mg %.

  1. Oliguria.

Terjadinya oliguria belum diterangkan dengan jelas. Sangat mungkin berhubungan dengan hipovolemi dan penyempitan darah ginjal akibat perdarahan yang banyak. Ada pula yang menerangkan bahwa tekanan intrauterine  yang meninggi karena solusio plasenta menimbulkan refleks penyempitan pembuluh darah ginjal. Kelainan pembekuan darah berperan pula dalam terjadinya kelainan fungsi ginjal ini.

  1. Gawat janin.

Jarang kasus solusio plasenta yang datang ke RS dengan janin yang masih hidup. Kalaupun didapatkan janin masih hidup, biasanya keadaannya sudah sedemikian gawat, kecuali pada kasus solusio plasenta ringan.

2.1.7    Diagnosis

Keluhan dan gejala pada solusio plasenta dapat bervariasi cukup luas. Sebagai contoh, perdarahan eksternal dapat banyak sekali meskipun pelepasan plasenta belum begitu luas sehingga menimbulkan efek langsung pada janin, atau dapat juga terjadi perdarahan eksternal tidak ada, tetapi plasenta sudah terlepas seluruhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung dari keadaan ini. Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi mengandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar bagi ibu, hal ini bukan saja terjadi akibat kemungkinan koagulopati yang lebih tinggi, namun juga akibat intensitas perdarahan yang tidak diketahui sehingga pemberian transfusi sering tidak memadai atau terlambat.

Berdasarkan kepada gejala dan tanda yang terdapat pada solusio plasenta klasik umumnya tidak sulit menegakkan diagnosis, tapi tidak demikian halnya pada bentuk solusio plasenta sedang dan ringan. Solusio plasenta klasik mempunyai ciri-ciri nyeri yang hebat pada perut yang datangnya cepat disertai uterus yang tegang terus menerus seperti papan, penderita menjadi anemia dan syok, denyut jantung janin tidak terdengar dan pada pemeriksaan palpasi perut ditemui kesulitan dalam meraba bagian-bagian janin.

 

2.1.8        Penatalaksanaan

v   Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi .

v   Sebelum dirujuk , anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri , tidak melakukan senggama , menghindari peningkatan tekanan rongga perut

v   Pasang infus cairan Nacl fisiologi . Bila tidak memungkinkan . berikan cairan peroral .

v   Pantau tekanan darah & frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi / syok akibat perdarahan . pantau pula  DJJ &  pergerakan janin .

v   Bila terdapat renjatan , segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah , bila tidak teratasi , upayakan penyelamatan optimal . bila teratsi perhatikan keadaan janin .

v    Setelah renjatan diatasi pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama . bila renjatan tidak dapat diatasi , upayakan tindakan penyelamatan optimal .

v   Setelah syok teratasi dan janin mati , lihat pembukaan . bila lebih dari 6 cm pecahkan ketuban lalu infus oksitosin . bila kurang dari 6 cm lakukan seksio sesarea

v   Bila tidak terdapat renjatan dan usia gestasi kurang dari 37 minggu / taksiran berat janin kurang dari 2.500 gr, lakukan persalinan pervaginam, jika diperkirakan berlangsung lama, maka lakukan partus perabdominam.

Penganganan berdasarkan berat / ringannya penyakit yaitu :

a)            Solusi plasenta ringan .

–          Ekspektatif , bila ada perbaikan ( perdarahan berhenti , kontraksi uterus tidak ada , janin hidup ) dengan tirah baring atasi anemia , USG & KTG serial , lalu tunggu persalinan spontan.

–          Aktif , bila ada perburukan ( perdarahan berlangsung terus , uterus berkontraksi , dapat mengancam ibu / janin ) usahakan partus pervaginam dengan amnintomi / infus oksitosin bila memungkinan . jika terus perdarahan skor pelvik kurang dari 5 / ersalinan masih lama , lakukan seksi sesarea .

b)           Slusio plasenta sedang / berat .

–          Resusitasi cairan .

–          Atasi anemia dengan pemberian tranfusi darah .

–          Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berkurang dalam 6 jam perabdominam bila tidak dapat renjatan , usia gestasi 37 minggu / lebih / taksiran berat janin 2.500 gr / lebih , pikirkan partus perabdominam bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama .

 

2.2      KONSEP DASAR KEPERAWATAN

2.2.1        Pengkajian
a.     Biodata

  Pada biodata yang perlu dikaji berhubungan dengan solusio plasenta antara lain

1)      Nama
Nama dikaji karena nama digunakan untuk mengenal dan merupakan identitas untuk membedakan dengan pasien lain dan menghindari kemungkinan tertukar nama dan diagnosa penyakitnya.

2)      Jenis kelamin

Pada solusio plasenta diderita oleh wanita yang sudah menikah dan mengalami kehamilan.

3)      Umur

Solusio plasenta cenderung terjadi pada usia lanjut (> 45 tahun) karena terjadi penurunan kontraksi akibat menurunnya fungsi hormon (estrogen) pada masa menopause.

4)      Pendidikan

Solusio plasenta terjadi pada golongan pendidikan rendah karena mereka tidak mengetahui cara perawatan kehamilan dan penyebab gangguan kehamilan.

5)      Alamat

Solusio plasenta terjadi di lingkungan yang jauh dan pelayanan kesehatan, karena mereka tidak pernah dapat pelayanan kesehatan dan pemeriksaan untuk kehamilan.

6)      Riwayat persalinan

Riwayat persalinan pada solusio plasenta biasanya pernah mengalami pelepasan plasenta.

7)       Status perkawinan

Dengan status perkawinan apakah pasien mengalami kehamilan (KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan.

 

 

8)      Agama

Untuk mengetahui gambaran dan spiritual pasien sebagai memudahkan dalam memberikan bimbingan kegamaan.

9)      Nama suami.

Agar diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam pembiayaan dan memberi persetujuan dalam perawatan.

10)  Pekerjaan

Untuk mengetahui kemampuan ekonomi pasien dalam pembinaan selama istrinya dirawat.

  1. Keluhan utama

–                                  Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri

–       Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga rahim tegang.

–                                  Perdarahan yang berulang-ulang.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darh, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya, pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.

  1. Riwayat penyakit masa lalu

Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi / pre eklampsi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim feulidli.

  1. Riwayat psikologis

Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.

  1. Pemeriksaan fisik

1)                              Keadaan umum

  • Kesadaran : composmetis s/d coma
  • Postur tubuh : biasanya gemuk
  • Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa
  • Raut wajah : biasanya pucat

2)      Tanda-tanda vital

  • Tensi : normal sampai turun (syok)
  • Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)
  • Suhu : normal / meningkat (> 37o c)
  • RR : normal / meningkat (> 24x/menit)

3)                                          Pemeriksaan Kepala

  • kulit kepala biasanya normal / tidak mudah mengelupas rambut biasanya rontok / tidak rontok.,
  • Muka : biasanya pucat, tidak oedema ada cloasma,
  • Hidung : biasanya ada pernafasan cuping hidung,
  • Mata : conjunctiva anemis

4)      Pemeriksaan  Dada

 Bentuk dada normal, RR meningkat, nafas cepat da dangkal, hiperpegmentasi aerola.

5)      Pemeriksaan  Abdomen

  • Inspeksi : perut besar (buncit), terlihat etrio pada area perut, terlihat linea alba dan ligra
  • Palpasi: rahim keras, fundus uteri naik
  • Auskultasi : tidak terdengar DJJ, tidak terdengar gerakan janin.

6)                                          Pemeriksaan Genetalia

Hiperpregmentasi pada vagina, vagina berdarah / keluar darah yang merah kehitaman, terdapat farises pada kedua paha / femur.

7)      Pemeriksaan ekstimitas

Akral dingin, tonus otot menurun.

  1. Pemeriksaan laboratorium

Darah perifer lengkap, fungsi hemostasis, fungsi hati, atau fungsi ginjal (disesuaikan dengan beratnya penyulit atau keadaan pasien). Lakukan pemeriksaan dasar : hemoglobin, hematokrit, trombosit, waktu pembekuan darah, waktu protrombin, waktu tromboplastin parsial, dan elektrolit plasma.

  1. Pemeriksaan penunjang

–             Darah : Hb, hemotokrit, trombosit, fibrinogen, elektrolit.

–             USG untuk mengetahui letak plasenta,usia gestasi, keadaan janin, dan menilai implantasi plasenta dan seberapa luas terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya, biometri janin, indeks cairan amnion, kelainan bawaan dan derajat maturasi plasenta.

–             Kardiotokografi : pada kehamilan di atas 28 minggu.

 

2.2.2        Diagnosa Keperawatan

  1.  Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan conjungtiva anemis , acral dingin , Hb turun , muka pucat & lemas .
  2. Resiko tinggi terjadinya letal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang .
  3.  Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus di tandai terjadi distress / pengerasan uterus , nyeri tekan uterus .
  4.  Gangguan psikologi ( cemas ) berhubungan dengan keadaan yang dialami .
  5. Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan .
  6.  Kurang pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi .

2.2.3        Intervensi Keperawatan dan implementasi

Rencana keperawatan tidak hanya terdiri dari tindakan yang dilakukan karena pesanan/ketentuan medis, tetapi juga koordinasi tertulis dari perawatan yang diberikan oleh semua disiplin pelayanan kesehatan yang berhubungan. Tindakan keperawatan mandiri adalah bagian integral dari proses ini. Tindakan kolaboratif didasarkan pada aturan medis sertan anjuran atau pesanan dari disiplin lain yang terlibat dengan asuhan terhadap klien. Pada bagian ini, mengkomunikasikan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai hasil klien yang diinginkan. Rasional untuk intervensi perlu logis dan dapat dikerjakan dengan tujuan memberikan perawatan individual. Tindakan mungkin mandiri atau kolaboratif dan mencakup pesanan dari keperawatan, kedokteran, dan disiplin lain (Doenges, 2001).

Dx I :   Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai  dengan conjunctiva anemis, acrar dingin, Hb turun, muka pucat, lemas.

–          Tujuan : suplai / kebutuhan darah kejaringan terpenuhi

–          Kriteria hasil : Conjunctiva tidak anemis, acral hangat, Hb normal, muka tidak pucat, tidak lemas.

Intervensi :

  1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien

R/: pasien percaya tindakan yang dilakukan

  1. Jelaskan penyebab terjadi perdarahan

R/ : pasien paham tentang kondisi yang dialami

  1. Monitor tanda-tanda vital

R/ : tensi, nadi yang rendah, RR dan suhu tubuh yang tinggi menunjukkan gangguan sirkulasi darah.

  1. Kaji tingkat perdarahan setiap 15 – 30 menit

R/ : mengantisipasi terjadinya syok

  1. Catat intake dan output

R/ : produsi urin yang kurang dari 30 ml/jam menunjukkan penurunan fungsi ginjal.

  1. Kolaborasi pemberian cairan infus isotonic

R/: cairan infus isotonik dapat mengganti volume darah yang hilang akiba perdarahan.

  1. Kolaborasi pemberian tranfusi darah bila Hb rendah

R/ : tranfusi darah mengganti komponen darah yang hilang akibat perdarahan.

Dx II : Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan dengan perfusi darah ke placenta berkurang.

–          Tujuan : tidak terjadi fetal distress

–          Kriteria hasil : DJJ normal / terdengar, bisa berkoordinasi, adanya pergerakan bayi, bayi lahir selamat.

 

 

 Intervensi

  1. Jelaskan resiko terjadinya dister janin / kematian janin pada ibu

R/ : kooperatif pada tindakan

  1. Hindari tidur terlentang dan anjurkan tidur ke posisi kiri

R/ : tekanan uterus pada vena cava, menyebabkan  aliran darah kejantung menurun sehingga terjadi gangguan perfusi jaringan.

  1. Observasi tekanan darah dan nadi klien

R/ : penurunan dan peningkatan denyut nadi terjadi pad sindroma vena cava sehingga klien harus di monitor secara teliti.

  1. Oservasi perubahan frekuensi dan pola DJ janin

R/ : penurunan frekuensi plasenta mengurangi kadar oksigen dalam janin sehingga menyebabkan perubahan frekuensi jantung janin.

  1. Berikan O2 10 – 12 liter dengan masker jika terjadi tanda-tanda fetal distress

R/ : meningkat oksigen pada janin

 

Dx III : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uteres ditandai terjadi distrensi uterus, nyeri tekan uterus.

–          Tujuan : klien dapat beradaptasi dengan nyeri

–          Kriteria hasil :

  • Klien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri.
  • Klien kooperatif dengan tindakan yang dilakukan.

Intervensi

  1. Jelaskan penyebab nyeri pada klien

R/: dengan mengetahui penyebab nyeri, klien kooperatif terhadap tindakan

  1.  Kaji tingkat

R/ : menentukan tindakan keperawatan selanjutnya.

  1. Bantu dan ajarkan tindakan untuk mengurangi rasa nyeri.
    (Tarik nafas panjang (dalam) melalui hidung dan meng-hembuskan pelan-pelan melalui mulut.)
    R/
    : dapat mengalihkan perhatian klien pada nyeri yang dirasakan.
  2. Memberikan posisi yang nyaman (miring kekiri / kanan)

R/ : posisi miring mencegah penekanan pada vena cava.

  1. Berikan masage pada perut dan penekanan pada punggung

R/ : memberi dukungan mental.

  1. Libatkan suami dan keluarga

R/ : memberi dukungan mental.

Dx IV : Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan keadaan yang dialami

–          Tujuan : klien tidak cemas dan dapat mengerti tentang keadaannya.

–          Kriteria hasil : penderita tidak cemas, penderita tenang, klie tidak gelisah.

 Intervensi

  1. Anjurkan klilen untuk mengemukakan hal-hal yang dicemaskan.

R/ : dengan mengungkapkan perasaannyaaka mengurangi beban pikiran.

  1. Ajak klien mendengarkan denyut jantung janin

R/ : mengurangi kecemasan klien tentag kondisi janin.

  1.  Beri penjelasan tentang kondisi janin

R/ : mengurangi kecemasan tentang kondisi / keadaan janin.

  1. Beri informasi tentang kondisi klien

R/ : mengembalikan kepercayaan dan klien.

  1. Anjurkan untuk manghadirkan orang-orang terdekat

R/: dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi klien

  1. Anjurkan klien untuk berdo’a kepada tuhan

R/ : dapat meningkatkan keyakinan kepada Tuhan tentang kondisi yang dilami.

  1. Menjelaskan tujuan dan tindakan yang akan diberikan

R/ : penderita kooperatif

 

 

Dx V: Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan

–          Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi

–          Kriteria hasil :

  • Perdarahan berkurang
  • Tanda-tanda vital normal
  • Kesadaran kompos metit

 Intervensi

  1.  Kaji perdarahan setiap 15 – 30 menit

R/: mengetahui adanya gejala syok sedini mungkin.

  1. Monitor tekanan darah, nadi, pernafasan setiap 15 menit, bila normal observasi dilakukan setiap 30 menit.

R/: mengetahui keadaan pasien

  1.  Awasi adanya tanda-tanda syok, pucat, menguap terus keringat dingin, kepala pusing.

R/ : menentkan intervensi selanjutnya dan mencegah syok sedini mungkin

  1.  Kaji konsistensi abdomen dan tinggi fundur uteri.

R/ : mengetahui perdarahan yang tersembunyi

  1.  Catat intake dan output

R/ : produksi urine yang kurang dari 30 ml/jam merupakan penurunan fungsi ginjal.

  1.  Berikan cairan sesuai dengan program terapi

R/ : mempertahanka volume cairan sehingga sirkulasi bisa adekuat dan sebagian persiapan bila diperlukan transfusi darah.

  1.  Pemeriksaan laboratorium hematkrit dan hemoglobin

R/ : menentukan intervensi selanjutnya.

Dx VI :     Kurangnya pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi

–          Tujuan : penderita dapat mengerti tentang penyakitnya.

–          Kriteria hasil : dapat menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan penyakitnya.

 

Intervensi

  1. Kaji tingkat pengetahuan penderita tentang keadaanya

R/ : menentukan intervensi keperawatan selanjutnya.

  1. Berikan penjelasan tentang kehamilan dan tindakan yang akan dilakukan.
    1. Pengetahua tentang perdarahan antepartum.
    2. Penyebab
    3. Tanda dan gejala
    4. Akibat perdarahan terhadap ibu dan janin
    5. Tindakan yang mungkin dilakukan

R/ : penderita mengerti dan menerima keadaannya serta pederita menjadi kooperatif.

 

2.2.5     Evaluasi

  • Ttv dalam batas normal.
  • Mukosa membran lembab.
  • Pasien tidak mengalami syok.
  • Tidak ada tanda-tanda perdarahan lagi.

 

2.2.6     Pendidikan kesehatan (HE)

  1. Ajarkan pada klien untuk melaporkan perdarahan yang tidak biasanya dan segera berobat ke Rumah Sakit.
  2. Berikan informasi untuk pertahankan posisi terlentang karena posisi ini mengurangi kompusi pada vena kava yang akan meningkatkan perfusi  pada fetal.
  3. Anjurkan pada klien agar jangan sampai terjadi trauma pada kehamilan seperti jatuh.
  4. Anjurkan klien untuk selalu memeriksa  kehamilan.

 

 

 

 

 

BAB III

TINJAUAN  KASUS

3.1       Contoh Kasus                                                   

Ny.M (45 tahun) datang ke RSIA bersama suaminya dengan membawa surat rujukan dari bidan. Tertulis disurat status obstetri G6P4A1H37 mg dengan susp.solusio plasenta. Saat wawancara, klien mengeluh mengalami perdarahan melalui vagina berwarna kehitaman sejak tadi malam, disertai nyeri dan kram pada perut yang terus menerus serta janin bergerak aktif. Klien berfikir akan segera melahirkan dan datang ke bidan dekat rumah keesokan paginya, tapi klien justru dirujuk ke RS

Klien menceritakan selama kehamilan ini baru memeriksakan kehamilannya sekali, yaitu pada saat dinyatakan (+) hamil 12 mg oleh bidan. Setelah itu tidak pernah lagi memeriksakan kehamilan karena ini bukan kehamilan yang pertama. Sebelum kehamilan ini, klien mempunyai riwayat perdarahan dan mengalami keguguran pada usia kehamilan 16 mg.

Selama pemeriksaan fisik perawat mencatat TTV sebagai berikut : TD=80/55 mmHg, N=110x/Mnt, P= 28x/Mnt, S= 36, uterus keras , tegang, seperti papan, nyeri tekan (+), TFU=36 cm, His (-), DJJ dan palpasi janin sulit. Klien terlihat pucat, lemah, tampak kesakitan, kulit teraba dingin, konjungtiva anemis, pembalut penuh dengan darah berwarna kehitaman.

 Klien kemudian melakukan pemeriksaan USG dan terlihat solusio plasenta partialis dengan hematoma, DJJ 82x/Mnt, aktifitas janin lemah, perdarahan aktif (+). Tertulis di surat status obstetric G6P4A1H37 minggu (gestasi ke 6, pastus 4 kali, abortus 1 kali dan sekarang usia kehamilan 37 minggu) dengan suspect solusio plasenta

 

 

 

3.2       PENGKAJIAN

            Tanggal masuk            : 11 juni 2009                          jam                  : 10 WIB

            Ruang                          : Antepartum                                       No. reg Med    :           –

Pengkajian                   : 11 juni 2009

  1.          I.            DATA SUBYEKTIF :
  2. 1.         BIODATA
    1. Nama         :Ny. M
    2. Umur         : 31 tahun
    3. Nama suami : Tn. H         
    4. Agama       : islam 
    5. Suku/bangsa : jawa /Indonesia       
    6. Pendidikan            : SMP
    7. Alamat      : Surabaya
    8. Diagnose   : susp.solusio plasenta
    9. 2.         RIWAYAT KEPERAWATAN/KESEHATAN
      1. Keluhan Utama:

Klien mengeluh mengalami perdarahan melalui vagina berwarna kehitaman ,sejak tadi malam, disertai nyeri dan kram pada perut yang terus menerus serta janin bergerak aktif.

  1. Riwayat keperawatan/ kesehatan sekarang:

Darah terlihat merah kehitaman ,yang keluar secar terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat.

  1. Riwayat keperawatan/ kesehatan masa lalu:

Sebelum kehamilan ini, klien mempunyai riwayat perdarahan dan mengalami keguguran pada usia kehamilan 16 mg, pada kehamilan yang ke- 4.

  1. Riwayat keperawatan/ kesehatan keluarga:

 Didalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit keturunan dan tidak ada yang menderita penyakit kronis yang menular termasuk PMS serta tidak ada yang melahirkan kembar.

  1. Riwayat keperawatan/ kesehatan lingkungan:

Lingkungan Sangat Mendukung, dengan kehamilan ibu.

  1. Riwayat psikososial:

–          Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan tetangga baik

–          Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.

  1. Latar belakang budaya:

Selama  hamil ibu tidak pernah minum jamu, ibu tidak pantang makan, tidak mengadakan acara tradisi budaya.

  1. Dukungan keluarga:

Ibu mendapat dukungan dari keluarga, terutama dari suami, sehingga ibu menjalakan masa kehamilannya dengan baik

  1. Riwayat kebidanan:

1)      Riwayat haid:

  • Menarche    :           ± 13 thn
  • Siklus          :           28 hari
  • Lamanya haid         :           3 – 4hari
  • Nyeri haid   :           tidak ada
  • Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT):        4 – 11 – 2008
  • Tafsiran Persalinan (TP):    11 – 8 – 2009 

2)      Riwayat perkawinan:  Menikah

3)      Riwayat kehamilan dan persalinan:

 

 

 

 

KEHAMILAN

PERSALINAN

NIFAS

ANAK

KB

NO

Suami ke

Keluhan

Usia kehamilan

Penolong

Cara persalinan

penyulit

 

sex

BBL

usia

 

1

Ke-1

 

16 minggu

 

Abortus

 

 

 

 

 

 

2

  Ke-1

Nyeri. Kram pd perut

37 minggu

bidan

_

Pendarahan dari vagina, warna hitam

 

 

 

 

 

                         

 

4)      Riwayat kehamilan sekarang:

–          Pemeriksaan kehamilan sebelumnya:

Ibu mengatakan ,hanya  sekali memeriksa kehamilannya, yaitu pada saat dinyatakan (+) hamil 12 mg oleh bidan. Setelah itu tidak pernah lagi memeriksakan kehamilan karena ini bukan kehamilan yang pertama.

–          Terapi yang diterima:                    –

–          HE yang sudah didapat:               –

 

  1. 3.   POLA-POLA FUNGSI KESEHATAN:
    1. Pola persepsi-pemeliharaan kesehatan:
  • Sebelum hamil : pemeliharaan kesehatan sebelum hamil baik
  • Saat  hamil                  : pemeliharaan kesehatan saat hamil lebih baik.
  1. Pola aktifitas-latihan
  • Sebelum hamil : ibu melakukan pekerjaan rumah tangga  setiap hari.
  • Saat  hamil      :
  1. Pola nutrisa-metabolisme

Jenis makanan : Nasi, sayuran, Ikan, daging, buah-buahan

Frekuensi makan   : Sebelum hamil : 3x/hari,                    selama hamil : 3-4 x/hari

Frekuensi minum   : Sebelum hamil : 6-7 gelas/hari          selama hamil : 7-8 gelas/hari  

  1. Pola eliminasi
  • BAK   : Sebelum hamil : 3-4 x/hari,   selama hamil : 4-5 x/hari
  • BAB    : Selama hamil maupun sebelum hamil : 2x/hari
  1. Pola tidur-istirahat
  • Tidur siang      : Sebelum hamil : ± 1jam/hr, selama hamil 1: ± 2 jam/hari
  • Tidur malam    : Sebelum hamil : ± 6-7 jam/hari, selama hamil : ± 7-8 jam/hari
  • Keluhan           : Tidak ada
  1. Pola kognitif-perseptual
  • Sebelum hamil :           _
  • Saat  hamil                  :           _
  1. Pola toleransi-koping stres
  • Sebelum hamil :           –
  • Saat hamil                   :           _
  1. Pola persepsi diri-konsep diri
  • Sebelum hamil
  • Saat hamil
  1. Pola seksual-reproduksi:

Ibu mengatakan jarang melakukan hubungan seksual karena takut keguguran seperti pada kehamilan sebelumnya.

  1. Pola hubungan dan peran
  • Sebelum hamil : aktif
  • Saat hamil                   :aktif
  1. Pola nilai dan keyakinan
  • Sebelum hamil: Mejalankan ibadah secara teratur
  • Saat hamil:      Menjalankan ibadah secara teratur

 

 

 

 

 II.               DATA OBYEKTIF:

  1. Tanda-tanda vital
    1. Tekanan darah          : 80/55 mmHg
    2. Nadi                         : 110x/Mnt,
    3. Suhu tubuh               :36
    4. Pernafasan                :28x/Mnt
    5. Pemeriksaan fisik (Head to too)

Keadaan umum                 : klien terlihat pucat, lemah, tampak kesakitan. Dan kulit teraba dingin.

  1. Kepala        :

1)      Rambut             : kerapian, kebersihan, ketombe.

2)      Muka                : cloasma gravidarum, kesimetrisan, edema.

3)      Mata                 : Konjugtiva anemis, Sclera, ikteris.

4)      Hidung             : kepatenan, sinusitis, bentuk.

5)      Gigi dan mulut : caries, stomatitis, kebersihan

6)      Telinga              : kebersihan, pendengaran

  1. Leher

1)      Kelenjar tyroid             :           tidak ada pembesaran

2)      Vena jugularis               :           baik

  1. Dada :

1)      Jantung :           Normal

2)      Paru:                 Normal

3)      Payudara : Kesimetrisan, pembesaran, bentuk puting, hiperpigmentasi, massa pengeluaran, kebersihan.

  1. Abdomen :

1)      Bentuk              :           perut membesar kedepan

2)      Strie                  :           –

3)      Linea                 :           –

4)      Bising  usus      :           –

5)      Uterus keras, tegang seperti papan

Nyeri takan (+)

6)      Palpasi LEOPOLD

LEOPOLD I    : TFU 36 cm

LEOPOLD II   : Tidak dilakukan karena, palpasi janin sulit

LEOPOLD III :           –

LEOPOLD IV :           –

7)      DJJ        :           28x/mnt

Aktifitas janin lemah

  1. Genetalia    : keluar cairan: darah berwarna kehitaman

Perdarahan aktif (+)

  1. Ekstermitas : Edema, varises.
  2. Pemeriksaan penunjang:  .
  • Hb (6,8 g/dL)
  •  turunnya kadar fibrinogen (106 mg/L), dan meningkatnya kadar D-dimer (2,0 mg/L).
  • Dari inspekulo, tampak darah mengalir dari ostium berwarna merah kehitaman.

 

3.3              ANALISA DATA

Data

Masalah

Etiologi

Data subyektif

 Klien mengeluh mengalami perdarahan melalui vagina berwarna kehitaman sejak tadi malam

Data obyektif

1. TTV : TD= 80/55 mmHg

Nadi : 110x/menit

RR : 28x/menit

Suhu: 36 oC

2. Klien terlihat pucat, lemah  Kulit klien teraba dingin, konjungtiva anemis

3. TFU = 36 cm

4. Hasil pemeriksaan USG terlihat solusio plasenta parsialis dengan hematoma

8. Perdarahan aktif (+)

Data tambahan

1. Dari inspekulo, tampak darah mengalir dari ostium berwarna merah kehitaman

2. Hb (6,8 g/dL)

3. turunnya kadar fibrinogen (106 mg/L), dan meningkatnya kadar D-dimer (2,0 mg/L).

Kekurangan volume cairan

Perdarahan terus menerus

Data Subjektif

1. Klien mengeluh nyeri dan keram pada perut yang terus-menerus

Data Objektif

1. TTV : nadi = 110 x/menit

RR = 28x/menit

2. Uterus keras dan  Tegang seperti papan

3. Nyeri tekan +

4.USG: terlihat solusio plasenta parsialis dg hematoma

Gangguan Rasa nyaman : nyeri (akut)

Trauma jaringan

Data Subjektif

1. Klien mengeluh janin yang ada didalam kandungannya bergerak aktif

Data Objektif

1.Dari hasil pemeriksaan fisik : His (- ), DJJ dan palpasi janin sulit

2.USG : DJJ = 82 x /menit ,   Aktivitas janin lemah

Resiko gawat janin

Solusio plasenta

 

3.4              Diagnosa Keperawatan

  1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan terus menerus
  2. Gangguan Rasa nyaman : nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan
  3. Resiko gawat janin berhubungan dengan solusio plasenta

 

3.5              Intervensi

Dx. I: kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan terus menerus

–          Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 1 x 24  jam kekurangan volume cairan teratasi

–          Kriteria Hasil :

  1. Keadaan umum baik
  2.  Perdarahan yang keluar 200 ml
  3. Tinggi fundus uteri sesuai dengan tuanya kehamilan

 

 

Intervensi

  1. Monitor intake dan output setiap 5-10 menit

R/: Perubahan output merupakan tanda adanya gangguan fungsi ginjal

  1. Monitor tanda vital TD 120/80 mmHg, nadi: 88 x/menit, RR 22 – 24 x/menit, suhu 36-37° C)

R/: Perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin hebat

  1. Lakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas simpisis.

R/: Merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan placenta, satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri

  1. Batasi pemeriksaan vagina dan rectum

R/: Trauma meningkat terjadi perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks / perineum atau terdapat hematom

  1. Kolaborasi
    1. Berikan Infus atau cairan intravena

R/: Merangsang kontraksi uterus dan mengontrol perdarahan

  1. Antibiotik

R/: Mencegah infeksi yang mungkin terjadi

  1.  Transfusi whole blood ( bila perlu )

R/: Membantu menormalkan volume cairan tubuh.

Dx II:  Gangguan Rasa nyaman : nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan.

–          Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 2×24 jam nyeri berkurang

–          Kriteria Hasil :

  1. klien akan mengungkapkan penatalaksanaan atau reduksi nyeri
  2.  Uterus tidak Tegang seperti papan
  3. Nyeri tekan (-)
  4. Klien tidak terlihat kesakitan

 

Intervensi

  1. Bantu dengan penggunaan tekhnik pernafasan

R/: mendorong relaksasi dan memberikan klien cara mengatasi dan mengontrol tingkat nyeri.

  1.  Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi. Berikan instruksi bila perlu.

R/: relaksasi dapat membantu menurunkan tegangan dan rasa takut, yang memperberat nyeri.          

  1. Berikan tindakan kenyamanan (pijatan, gosokan punggung, sandaran bantal, pemebrian kompres)

R/: meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kooping dan kontrol klien.

  1. Kolaborasi memberikan sedatif sesuai dosis

R/: meningkatkan kenyamanan dengan memblok impuls nyeri.

 

Dx III:  Resiko gawat janin berhubungan dengan solusio plasenta

–          Tujuan :  Setelah dilakukan perawatan 3- 4 jam tidak terjadi kondisi gawat janin

–          Kriteria Hasil :

1. DJJ dalam batas normal (120-160 x /menit)

2. His +

3. Bayi lahir dengan selamat

4. gerakan janin normal

Intervensi :

  1. beri waktu istirahat untuk ibu

R/: Dengan memberi waktu istirahat yang cukup kepada ibu ,diharapkan metabolisme tubuh menurun dan peredaran darah ke placenta menjadi adekuat, sehingga kebutuhan O2 untuk janin dapat dipenuhi

 

  1. Anjurkan ibu agar tidur miring ke kiri

R/: dengan tidur miring ke kiri diharapkan vena cava dibagian kanan tidak tertekan oleh uterus yang membesar sehingga aliran darah ke placenta menjadi lancar

  1. Pantau tekanan darah ibu

R/: untuk mengetahui keadaan aliran darah ke placenta seperti tekanan darah tinggi, aliran darah ke placenta berkurang, sehingga suplai oksigen ke janin berkurang.

  1. Memantau bunyi jantung ibu.

R/: dapat mengetahui keadaan jantung janin lemah atau menurukan menandakan suplai O2 ke placenta berkurang sehingga dapat direncanakan tindakan selanjutnya.

 

3.6              Implementasi

  1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan terus menerus
  2. Memonitor intake dan output setiap 5-10 menit karena perubahan output merupakan tanda adanya gangguan fungsi ginjal
  3. Memonitor tanda vital karena perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin hebat
  4. Melakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas simpisis untuk Merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan placenta, satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri
  5. Membatasi pemeriksaan vagina dan rectum karena trauma meningkat terjadi perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks / perineum atau terdapat hematom
  6. Kolaborasi
    1.  Berkolaborasi dalam pemberian Infus atau cairan intravena karena merangsang kontraksi uterus dan mengontrol perdarahan
    2. Memberikan antibiotik untuk mencegah infeksi yang mungkin terjadi
    3. Transfusi whole blood (bila perlu) karena Membantu menormalkan volume cairan

 

 

3.7      evaluasi

S

O

A

P

klien mengatakan perdarahan yang keluar dari vagina sudah berkurang.

TTV dalam batas normal

 

masalah kekurangan volume cairan teratasi sebagian

 

Pertahankan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1              KESENJANGAN ANTARA TEORI  DAN KASUS

Dalam bab ini penulis akan membahas tentang asuhan keperawatan pada Ny M dengan solusio plasenta parsialis dirawat di RSIA dengan memperhatikan tahapan proses keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan tindakan, pelaksanaan dan evaluasi. Rumusan pembahasan yang penulis buat dengan bertitik tolak dari masalah keperawatan pada Ny. M serta tinjauan teori yang penulis gunakan. Penulis dalam menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan hierarki kebutuhan dasar Maslow. Lima dari tingkat tersebut adalah kebutuhan fisiologis, keselamatan dan keamanan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri.

Adapun masalah keperawatan yang muncul pada Ny. M dengan solusio plasenta parsialisadalah sebagai berikut :

  1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan terus menerus

Kekurangan volume cairan adalah keadaan dimana seseorang individu yang tidak menjalani puasa mengalami atau beresiko dehidrasi vaskuler, interstitial atau intravaskules. (Carpenito, 2000). Penulis merumuskan diagnosa ini karena pada pengkajian pada Ny. M diperoleh data klien mengeluh mengalami perdarahan melalui vagina berwarna kehitaman sejak tadi malam, mengatakan mempunyai riwayat perdarahan pada kehamilan sebelumnya. Hasil pemeriksaan fisik yaitu : TTV : TD= 80/55 mmHg, Nadi : 110x/menit , RR : 28x/menit, Suhu: 36 oC, Klien terlihat pucat, lemah, kulit klien teraba dingin, TFU = 36 cm, konjungtiva anemis, pembalut penuh dengan darah berwarna kehitaman, hasil pemeriksaan USG terlihat solusio plasenta parsialis dengan hematoma, perdarahan aktif (+).

Data tambahan yang bisa mendukung diagnosa ini adalah dari inspekulo, tampak darah mengalir dari ostium berwarna merah kehitaman, Hb (6,8 g/dL) , turunnya kadar fibrinogen (106 mg/L), dan meningkatnya, kadar D-dimer (2,0 mg/L). Dari data inilah memunculkan diagnosa Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan terus menerus. Yang mana sebenarnya diagnosa ini tidak sesuai dengan teori.

Intervensi yang sudah ditetapkan penulis adalah untuk mengatasi kekurangan volume cairan, penulis mengambil perencanaan yang lebih spesifik ke arah kekurangan volume cairan. Tujuannya yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan. Adapun intervensi yang penulis tetapkan adalah Monitor intake dan output setiap 5-10 menit, Monitor tanda vital TD 120/80 mmHg, nadi: 88 x/menit, RR 22 – 24 x/menit, suhu 36-37° C), Lakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas simpisis, Batasi pemeriksaan vagina dan rectum sedangkan kolaborasi Infus atau cairan intravena, Antibiotik, Transfusi whole blood ( bila perlu ), rasionalnya adalah Perubahan output merupakan tanda adanya gangguan fungsi ginjal, Perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin hebat, Merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan placenta, satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri, Trauma meningkat terjadi perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks / perineum atau terdapat hematom, Merangsang kontraksi uterus dan mengontrol perdarahan, mencegah infeksi yang mungkin terjadi, membantu menormalkan volume cairan tubuh.

Diagnosa ini kami angkat menjadi diagnosa utama karena, jika kekurangan volume cairan tidak segera diatasi maka akan terjadi shock dan mengakibatkan resiko kematian ibu dan janin

  1.  Gangguan Rasa nyaman : nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan

Nyeri adalah keadaan, individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam berespon terhadap suatu rangsangan yang berbahaya dengan batasan karakteristik individu melihatkan dan melaporkan ketidak nyamanan, tekanan darah meningkat, nadi meningkat, respiratori meningkat, posisi berhati-hati, raut wajah kesakitan, merintih. (Carpenito, 2000:52).

Nyeri merupakan suatu mekanisme proteksi bagi tubuh, timbul pada jaringan yang  rusak dan menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rangsang  nyeri tersebut dan nyeri merupakan suatu pengalaman pribadi yang unik dan kompleks. (Long, 1996: 301).

Pada Bab III, penulis merumuskan diagnosa keperawatan gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan. Setelah penulis menganalisa, nyeri bukan disebabkan karena kontraksi janin melainkan karena adanya distensi uterus akibat dari hematoma, hematoma karena rupture pembuluh darah arteri spinalis. Didukung oleh data subyektif klien mengeluh nyeri apalagi dipalpasi. Data obyektif. Karena pada saat pengkajian didapatkan data klien mengeluh nyeri apalagi, saat perut ditekan. TTV : nadi = 110 x/menit, RR = 28x/menit, Uterus keras, Uterus Tegang seperti papan , Nyeri tekan +, Klien tampak kesakitan, Hasil pemeriksaan USG terlihat solusio plasenta parsialis dengan hematoma

Tujuannya yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam nyeri hilang. Adapun intervensi yang akan dilakukan adalah mengkaji tingkat dan karakteristik nyeri rasionalnya untuk membantu mengevaluasi derajat nyeri dan untuk melakukan tehnik relaksasi nafas dalam rasionalnya untuk meningkatkan relaksasi ketegangan otot dan untuk mengalihkan rasa nyeri agar intensitas nyeri dapat menurun. Menciptakan lingkungan yang nyaman rasionalnya dapat menurunkan ketidaknyamanan fisik dan emosional klien. Memonitor tanda-tanda vital rasionalnya untuk mengetahui respon autonomik dari nyeri yaitu perubahan pada tekanan darah, peningkatan denyut nadi dan pernafasan serta perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan keluhan atau penghilangan nyeri.

  1. Resiko gawat janin berhubungan dengan solusio plasenta

Resiko gawat janin adalah suatu keadaan dimana janin mengalami asfiksia, Karena uterus tetap teregang akibat adanya hasil pembuahan, organ ini tidak mampu mengadakan kontraksi yang memadai guna menekan pembuluh darah yang ruptur yang menyuplai kebutuhan nutrisi dan oksigen bagi plasenta tersebut. Dengan adanya tanda Klien mengeluh janin yang ada didalam kandungannya bergerak aktif. Dari hasil pemeriksaan fisik : His (- ), DJJ dan palpasi janin sulit. Dari hasil pemeriksaan USG : DJJ = 82 x /menit , Aktivitas janin lemah.

Secara teori resiko gawat janin tidak ada namun sesuai dengan data diatas kami mengangkat diagnosa keperawatan resiko gawat janin berhubungan dengan solusio plasenta

4.2              KESIMPULAN

Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.

Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.

Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam, sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian terjadi gawat janin, perdarahan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: