ASKEP

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

1.1 Latar Belakang

Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala – gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60 – 80% primi gravida dan 40 – 60% multi gravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala – gejala ini menjadi lebih berat.

Perasaan mual ini desebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG (Human Chorionic Gonadrotropin) dalam serum. Pengaruh Fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari – hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat ringannya penyakit. (Prawirohardjo, 2002).

Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering kita jumpai pada kehamilan muda dan dikemukakan oleh 50 – 70% wanita hamil dalam 16 minggu pertama. Kurang lebih 66% wanita hamil trimester pertama mengalami mual- mual dan 44% mengalami muntah – muntah. Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuri, keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Perbandingan insidensi hiperemesis gravidarum
4 : 1000 kehamilan. (Sastrawinata, 2004).

Diduga 50% sampai 80% ibu hamil mengalami mual dan muntah dan kira – kira 5% dari ibu hamil membutuhkan penanganan untuk penggantian cairan dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit. Mual dan muntah khas kehamilan terjadi selama trimester pertama dan paling mudah disebabkan oleh peningkatan jumlah HCG. Mual juga dihubungkan dengan perubahan dalam indra penciuman dan perasaan pada awal kehamilan. (Walsh, 2007).

Hiperemesis gravidarum didefinisikan sebagai vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atu defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan. Insiden kondisi ini sekitar 3,5 per 1000 kelahiran. Walaupun kebanyakan kasus hilang dan hilang seiring perjalanan waktu, satu dari setiap 1000 wanita hamil akanmenjalani rawat inap. Hiperemesis gravidarum umumnya hilang dengan sendirinya (self-limiting), tetapi penyembuhan berjalan lambat dan relaps sering umum terjadi. Kondisi sering terjadi diantara wanita primigravida dan cenderung terjadi lagi pada kehamilan berikutnya. (Lowdermilk, 2004)

1.2 Rumusan Masalah

1.Definisi Hyperemesis Gravidarum

2.Etiologi Hyperemesis Gravidarum

3.Pathofisiologi Hyperemesis Gravidarum

4.Manifestasi Klinis Hyperemesis Gravidarum

5.Pemeriksaan Diagnostik Hyperemesis Gravidarum

6.Penatalaksanaan Hyperemesis Gravidarum

7.Komplikasi Hyperemesis Gravidarum

8.Woc Hyperemesis Gravidarum

1.3 Tujuan

1)      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Maternitas.

2)      Sebagai bahan diskusi Mahasiswa pada kuliah ‘’Keperawatan Maternitas’’dan Sebagai bahan bacaan Mahasiswa Perawat dan Masyarakat umum.

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi

Hyperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada ibu hamil sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk (Mansjoer, A dkk, 2001).

Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu hamil menjadi buruk. (Sarwono Prawirohardjo, Ilmu Kebidanan, 1999).

Hiperemesis gravidarum adalah vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atau defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan. (Lowdermilk, 2004).

2.2 Etiologi

1) Tingginya tingkat estrogen dan hypertyroidisme karena meningkatnya HCG

2)  Faktor psikologis.

3)  Ambivalence dan konflik menjadi ibu, perubahaan body image.

Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin.

Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan :

1) Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.

2) Faktor organik: karena masuknya vili khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu

3) Faktor organik: Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan.ibu terhadap anak.

4) Faktor psikologi, keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan, rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut memikul tanggung jawab, dan sebagainya.

5) Faktor endokrin lainnya, hipertiroid, diabetes dan lain-lain

2.3 Patofisiologi

Perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen yang biasa terjadi pada trimester I. Bila terjadi terus-menerus dapat mengakibatkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik.
Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena okisidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseto-asetik, asam hidroksida butirik, dan aseton dalam darah. Muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun. Selain itu, dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Di samping dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung ( sindroma mollary-weiss ), dengan akibat perdarahan gastrointestinal.

Masuknya bagian fillus ke peredaran darah ibu

Perubahan endokrin

Perubahan metabolik, pergerakan lambung

Muntah yang berlebihan

Dehidrasi

 – penurunan berat badan

hipoproteinemia, < nutrisi

Ketidakseimbangan elektrolit dan cairan

Hypovolemia : hypotensi, tachycardia

Asidosis Metabolik

2.4 Manifestasi Klinis

1) Muntah yang hebat

2) Haus

3) Dehidrasi

4) BB menurun (>1/10 normal)

5) Keadaan umum menurun

6) Peningkatan suhu tubuh

7) Ikterik

8) Gangguan kesadaran,delirium

9) Lab : proteinurine, ketonuria, urobilinogen Biasanya terjadi pada minggu ke 6-12.

Tingkatan atau klasifikasi hiperemesis gravidarum :

a)      Tingkatan I :

Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit, tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang, lidah mengering dan mata cekung.

b)      Tingkatan II :

Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih berkurang, lidah mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. Berat badan menurun dan mata menjadi cekung, tensi rendah, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi.

Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.

c)      Tingkatan III:

Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu badan meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke, dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik

a) USG (dengan menggunakan waktu yang tepat) : mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multipel, mendeteksi abnormalitas janin, melokalisasi plasenta.

b) Urinalisis : kultur, mendeteksi bakteri, BUN.

c) Pemeriksaan fungsi hepar: AST, ALT dan kadar LDH.

2.6 Penatalaksanaan

Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin.

Obat-obatan

Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin

Isolasi

Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Tidak diberikan makan/minuman selama 24 -28 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.

Terapi psikologik

Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

Cairan parenteral

Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena.

Penghentian kehamilan

Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, tachikardi, ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital.

Diet

a) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III.

Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari.

b) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang.

Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi linggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan . Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D.

c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan.
Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium.

Prognosis
        Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin.

2.7 Komplikasi

a)Dehidrasi

b)Ikterik

c)Takikardi

d)Alkalosis

e)Kelaparan

f)Menarik diri, depresi

g)Ensefalopati wernicke yang ditandai oleh adanya nistagmus, diplopia, perubahan mental

h)Suhu tubuh meningkat

i)Gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.8 WOC

Faktor predisposisi,organik dan psikologik estrogen meningkat

Perangsangan pada hipotalamus

Aktivasi dan stimulasi CT2

Mual Muntah

           B1                                          B2                                                                 B3                                       B4

Cadangan lemak             TD dan pusing (hipo ortostatik)               Mual dan muntah berlebih                  Vomitus berlebih

Karbohidrat habis            Renin-anggro II Adosteon stimulasi               Dehidrasi                                Dehidrasi

Simpatik aktivitas saraf                          Hipovelemia                               Hipovolemia

MK:Defisit vol cairan dan elek trolit

Vaskontriksi ginjal                                 Hipotensi

MK:Penurunan perfusi

Vaskontriksi perfusi                              penurunan kesadaran

MK:G.resiko cedera

Oksidasi lemak tak sempurna

Penimbunan aseton dlm drah                                             Penurunan

Nafas bau ketan

asidosis metabolik

MK:gangguan pertukaran gas

B5                                                                                     B6

Mual muntah berlebih       Iritasi asam mukosa lambung   Mual muntah berlebih

Na dan cl hlng saat muntah   Nafsu makan menurun      Bedrest kelemahan

Mk:G.pola aktivitas

MK:G.Kebutuhan nutrisi:kurang dari kebutuhan tubuh

Dehidrasi

Mk:Defisit volume cairan dan elektrolit

BAB III

CONTOH KASUS

Tanggal Masuk                 :18-02-2012

Ruang / Kelas                   : Semeru/1

Pengkajian tanggal           :  18-02-12

Jam Masuk                  : 15.20 WIB

Kamar No.                  : 3

Jam                              :14.00 WIB

A. IDENTITAS

Nama Pasien   : Ny.S

Umur               : 27 tahun

Suku / Bangsa : Jawa/Indonesia

Agama             : Islam

Pendidikan      : SMA

Pekerjaan         : Ibu Rumah Tangga

Alamat                        : JL. Bratang binangun VB/26

Status Perkawinan : Menikah

Nama Suami    :  Tn.N

Umur               : 30 th

Suku / Bangsa : Jawa/Indonesia

Agama             : Islam

Pendidikan      : Sma

Pekerjaan         : Buruh

Alamat                        : JL. Bratang binangun VB/26

Lama Menikah :2 th

 

B. STATUS KESEHATAN SAAT INI :

1        Alasan kunjungan ke rumah sakit       :  Karena mual-muntah berlebih sejak 3hr(dlm kondisi hamil)

2        Keluhan Utama saat ini                       : Mual Muntah,Dehidrasi sejak 3hari (Dalam Kondisi Hamil)

3        Timbulnya Keluhan                             :  bertahap

4        Faktor yang memperberat                   : Badan menjadi lemas

5        Upaya yang dilakukan untuk mengatasi : Minum obat anti metik

6        Diagnosa Medik                                  : Hiperemesis Gravidarum

 

 

C. RIWAYAT KEPERAWATAN

1        Riwayat Obstetri:

  1. Riwayat Menstruasi :
  • Menarche         : umur 13th
  • Banyaknya      : 3 kali ganti balutan (hari pertama danke dua1000 cc)
  • Siklus               : teratur
  • Lamanya          : 7-10 hari
  • Keluhan           :tdk ada
  1. Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas yang lalu : tdk Ada masalah

Anak Ke

Kehamilan

Persalinan

Komplikasi Nifas

Anak

No.

Th

Umur Kehamilan

Penyulit

Jenis

Penolong

Penyulit

Laserasi

Infeksi

Pendarahan

Jenis

BB

PL

 1  2011  42 mg  tdk  P  2,7kg  50cm
 pr Dktr  tdk  Tdk  tdk tdk

2        Riwayat Keluarga Berencana :

  • Melaksanakan KB :  tidak
  • Bila ya jenis kontrasepsi apa yang pernah atau sedang digunakan : tidak ada
  • Sejak kapan menggunakan kontrasepsi : tidak ada
  • Masalah yang terjadi :tidak ada

3        Riwayat Kesehatan :

  • Penyakit yang pernah dialami ibu : tdk ada
  • Pengobatan yang didapat :tidak
  • Riwayat penyakit kadaeluarga : KeluargaMenurut penuturan klien dan suaminya bahwa diantara keluarga klien tidak mempunyai penyakit menular ataupun penyakit keturunan.

( –  ) Penyakit diabetes melitus

( –  ) Penyakit jantung

( –  ) Penyakit hipertensi

( –  ) Penyakit lainnya : sebutkan

4        Riwayat Lingkungan :

  • Kebersihan           : Cukup Bersih
  • Bahaya                 : Tidak ada
  • Lainnya sebutkan : tidak ada

5        Aspek Psikososial

a)      Bagaimana pendapat ibu tentang penyakit saat ini : ibu mengatakan bahwa cemas dengan penyakit ini.

b)      Apakah keadaan ini menimbulkan perubahan terhadap kehidupan sehari-hari?  ya. Bagaimana? Ibu merasa cemas,takut anak dalam rahimnya kenapa-kenapa

c)      Bagaimana dukungan pasangan terhadap keadaan saat ini : cukup siaga

d)     Bagaimana, sikap anggota keluarga lainnya terhadap keadaan saat ini : Berdoa n Pasrah

e)      Lainnya sebutkan : tidak ada

6        Kebutuhan Dasar Khusus :

  1. Pola nutrisi

a)      Frekwensi makan : 3 x/hari

b)      Nafsu makan :  tidak nafsu, alasan : karena mual dan muntah

c)      Jenis makanan rumah : Nasi

d)     Makanan yang tidak disukai / alergi / pantangan : Tidak ada

  1. Pola eliminasi

BAB

a)      Frekwensi             :  1kali

b)      Warna                   : coklat

c)      Bau                       : khas

d)     Konsistensi           : lunak

e)      Keluhan                : tidak ada

  1. Pola personal hygiens

a)      Mandi

  • Frekwensi : 2x/hari
  • Sabun        :  ya

b)      Oral hygiene

  • Frekwensi : 2x/hari
  • Waktu       :  pagi

c)      Cuci rambut

  • Frekwensi : 2x/mg
  • Shampo     :  ya
  1. Pola istirahat dan tidur
  • Lama tidur    :  1-3jam/hari
  • Kebiasaan sebelum tidur       : berdoa

Keluhan         : susah tidur

  1. Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan

v  Merokok                    : tidak

v  Minuman Keras         : tidak

v  Ketergatungan obat  : tidak

7        Pemeriksaan Fisik

  • Keadaan Umum   : menurun
  • Tekanan Darah     : 110/60 mmHg
  • Respirasi               : 18/mnt
  • Berat Badan         :   68kg

Kesadaran                 : composmetis

Nadi                          : 110 x/menit

Suhu                          :  37

Tinggi Badan            : 160 cm


Kepala,mata,kuping,hidung,dan tenggorokan:

Kepala:Bentuk : Normal

Keluhan: Tidak ada

Mata :

  • Kelopak mata              :Normal (coklat)
  • Gerakan mata              : Normal (kanan-kiri)
  • Konjungtiva                : Normal (merah)
  • Sklera                          : Normal (putih)
  • Pupil                            : Normal
  • Akomodasi                  : Normal
  • Lainnya disebutkan     : tidak ada

Hidung

  • Reaksi alergi                : tidak
  • Sinus                           : tidak
  • Lainnya sebutkan        : tidak ada

Mulut dan Tenggorokan

  • Kesulitan menelan       :tidak
  • Lainnya sebutkan        :tidak ada
  • Papila mammae           : tidak
  • Colostrum                   : tidak

Pernafasan

  • Jalan nafas             : teratur
  • Suara nafas            : vesiculer
  • Menggunakan otot-otot bantu pernafasan                        : tidak
  • Lainnya disebutkan           :tidak ada

Sirkulasi Jantung

  • Kecepatan denyut apical         :           110      x/mnt
  • Irama                                       : tidak teratur
  • Kelainan denyut jantung         : tidak
  • Sakit dada                               : tidak
  • Timbul                                     :tidak
  • Lainnya disebutkan                 : tidak ada

Abdomen

  • Mengecil                                 : tidak
  • Linea dan striae                       : tidak
  • Luka bekas operasi                  :tidak ada
  • Lainnya disebutkan                 : tidak ada

Genitourinary

  • Perineum/vulva                       : tidak
  • Vesika urinaria                        : tidak
  • Lainnya disebutkan                 :tidak ada

Ekstremitas(Integumen/Muskuluskletal)

  • Turgor kulit                       : menurun/sedang
  • Warna kulit                       : ikterik
  • Kesulitan dalam pergerakan          :  ya
  • Lainnya disebutkan           tidak ada

D.Data Penunjang

  1. Laboratorium   :  1)Hb: 14 (Laki2:14-18,perempuan:12-16)

2)Eritrosit:5jt(pr: : 4,5 – 5 juta, Lk : 5-6 jt)

3) Leukosit: 8000(4.000-10000)

4) Trombosit:160.000(150.000-450.000)

5) Hematokrit: 45%(35%-52%)

  1. USG                :  Tidak ada
  2. Terapi yg didapat        : 20-02-2012

Terapi oral: Bufantacyd syr 3 x 1½ cth (½ jam sebelum makan)Caviplex 1 x 1 tab (sesudah makan)Sanmol 3 x 1 tabTherapi Parenteral: Sotatic Inj 2 x1Vit C inj 2 x 1Infus: RL + Neurobin 20 gtt/menit

21 – 0 2– 2012

Terapi Oral: Bufantacyd syr 3 x 1½ cth (½ jam sebelum makan)Caviplex 1 x 1 tab (sesudah makan)Sanmol 3 x 1 tabVoldiamer 3 x 1 tabTherapi Parenteral: Sotatic Inj 2 x1Vit C inj 2 x 1Infus : RL + Neurobin 20 gtt/menit

E.Data tambahan

Tidak ada

ANALISA DATA

DATA

ETIOLOGI

MASALAH KEPERAWATAN

Ds: Pasien Mengatakan Mual Dan muntah berlebih 3 hr yang laluDo: TTVTD: 110/60 mmHgN  :110x/mnt

S   : 37 Derajat Celcius

#BB Sebelum sakit:68

#BB Saat Sakit      :65

#Mukosa bibir:kering

#badan klien lemas

#Turgor:menurun

#mata:tampak cowong

# Intake cairan : 1200 ml/hr

# outputcairan : 900 ml hari

Hasil lab:

Na: 140MEG/ltr

Cl: 120 MEG/ltr

 

Mual muntah berlebih

Na dan Cl hilang melalui muntah

Dehidrasi

Defisit volume cairan dan elektrolit

Defisit volume cairan dan elektrolit

Ds: Pasien Mengatakan Mual Dan muntah,tidak nafsu makan3hr yg laluDo: TTVTD: 110/60 mmHgN  :110x/mnt

S   : 37 Derajat Celcius

#BB Sebelum sakit:68

#BB Saat Sakit      :65

#Porsi Makan: tidak habis/3 sendok

Hasil lab:

Hb:14   Glukosa:120 gr/dl

Albumin:4 gr/dl

Iritasi Asam Pd selaput lendir

Nafsu Makan menurun

          Gangguan nutrisi

Gangguan Kebutuhan Nutrisi:Kurang dari kebutuhan tubuh

Ds: Pasien Mengatakan cemas karena takut keadaan janinnyaDo: TTVTD: 110/60 mmHgN  :110x/mnt

S   : 37 Derajat Celcius

#ekspresi klien tampak cemas

#klien tdk bisa tdr

#kelopak mata hitam

Mual muntah berlebih

Takut akan janin dlm kandungan

cemas

 Cemas

DAFTAR PRIORITAS DIAGNOSA

1.Defisit Volume cairan dan Elektrolit b/d Intake cairan tidak adekuat

2.Gangguan kebutuhan nutrisi: kurang dr kebutuhan b/d nafsu makan menurun

3.cemas b/d takut keadaan janin terganggu

TANGGAL DAN WAKTU

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

INTERVENSI

18/02 2012Jm15.00 Defisit Volume cairan dan Elektrolit b/d Intake cairan tidak adekuat TU:Dengan dilakukannya AskepDalam waktu 1×24 jam kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhiKH:TTVTD:120/80

N:80x/mnt

S:37

Hasil Lab:

Na : 140 MEG/ltr

Cl: 120 MEG/ltr

#mukosa bibir :lembab

#turgor:baik

#badan klien tampak segar

#kelopak mata :tidak tampak hitam

1.Lakukan transfusi cairanR:agar cairan klien terpenuhi2. Kaji suhu badan dan turgor kulit, membran mukosa, TD, input/output dan berat jenis urine. Timbang BB klien dan bandingkan dengan standarR: Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi tingkat atau kebutuhan hidrasi

3. Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat, makan sesering mungkin dengan jumlah sedikit. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur.

R: Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan keasaman lambung.

18/02 2012Jm 15.00 2.Gangguan kebutuhan nutrisi: kurang dr kebutuhan b/d nafsu makan menurun TU:Dengan dilakukannya Askep Dalam waktu 2×24 jam kebutuhan nutrisi terpenuhiKH:TTVTD:120/80N:80x/mnt

S:37

TU: dlm wktu 2×24 jm keadaan umum membaik

#nafsu makan meningkat

BB stabil/(68 kg) naik

Hasil lab:

Hb : 14   Glukosa:120 gr/dl

Albumin: 4 gr/dl

#Porsi makan:habis

#nafsu makan meningkat

 

1. Berikan obat anti emetik yang diprogramkan dengan dosis rendah, misalnya Phenergan 10-20mg/i.v.R: Mencegah muntah serta memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit2. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi seringR: Dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh

3. Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak

R: dapat menstimulus mual dan muntah

4. anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit, roti dan the (panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur

R: Makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari rangsang mual muntah yang berlebih

5.berikan multivitamin/suplemen

R:u/ meningktkn stamina

18/02 2012Jm 15.00 3.cemas b/d takut keadaan janin terganggu TU:Dengan dilakukannya Askep Dalam waktu 2×24 jam cemas hilangKH:TTVTD:120/80N:80x/mnt

S:37

#Ekspresi wajah klien ceria

#klien dapat istirahat/tidur

#kelopak mata tidak menghitam

 

1. Kontrol lingkungan klien dan batasi pengunjungR: Untuk mencegah dan mengurangi kecemasan2. Kaji tingkat fungsi psikologis klienR: Untuk menjaga intergritas psikologis

3. Berikan support psikologis

R: Untuk menurunkan kecemasan dan membina rasa saling percaya

4. Berikan penguatan positif

R: Untuk meringankan pengaruh psikologis akibat kehamilan

WAKTU

DIAGNOSA KEPERAWATAN

IMPLEMENTASI

EVALUASI

15.00 Defisit Volume cairan dan Elektrolit b/d Intake cairan tidak adekuat 1. Melakukan transfusi cairan2.. Mengkaji suhu badan dan turgor kulit, membran mukosa, TD, input/output dan berat jenis urine. Timbang BB klien dan bandingkan dengan standar3. Menganjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat, makan sesering mungkin dengan jumlah sedikit. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur.  S: Pasien Mengatakan Mual Dan muntah berlebih BerkurangO: TTVTD:120/80N:80x/mnt

S:37

Hasil Lab:

Na : 140 MEG/ltr

Cl:120 MEG/ltr

A:Masalah teratasi sebagian

P:Intervensi dilanjutkan

15.00 2.Gangguan kebutuhan nutrisi: kurang dr kebutuhan b/d nafsu makan menurun 1. Memerikan obat anti emetikyang diprogramkan dengan dosis rendah, misalnya Phenergan 10-20mg/i.v.2. Menganjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering3. Menganjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak4. Menganjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit, roti dan teh (panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur

5.memberikan multivitamin dan suplemen

 

S:Pasien mengatakan mual muntah berkurang dan nafsu makan agak lebih baikO: TTVTD:120/80N:80x/mnt

S:37

#keadaan umum membaik

#nafsu makan meningkat

BB stabil/(68 kg) naik

Hasil lab:

Hb : 14   Glukosa:120 gr/dl

Albumin: 4 gr/dl

A:Masalah teratasi sebagian

P: Intervensi dilanjutkan

 

15.00 3.cemas b/d takut 1. Mengontrol lingkungan klien dan batasi pengunjung2. MengKaji tingkat fungsi psikologis klien3. Memberikan support psikologis4. Memberikan penguatan positif

 

S:Pasien Mengatakan rasa cemasnya hilangO: TTVTD:120/80N:80x/mnt

S:37

A:Masalah teratasi

P:Intervensi dihentikan

BAB IV

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan pada ibu hamil yang ditandai dengan muntah-muntah yang berlebihan (muntah berat) dan terus-menerus pada minggu kelima sampai dengan minggu kedua belas (Penyuluhan Gizi Rumah Sakit A. Wahab Sjahranie Samarinda.)

Tanda dan gejala yaitu: Muntah yang hebat,Haus, Dehidrasi, BB menurun (>1/10 normal) Keadaan umum menurun,Peningkatan suhu tubuh, Ikterik,Gangguan kesadaran,delirium

3.2 Saran

Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis agar tidak terjadi hiperemesis gravidarum dengan cara :
1. Memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik
2. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang – kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.
3. Menganjurkan mengubah makan sehari – hari dengan makanan dalam jumlah kecil tapi sering
4. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, erlebih dahulu makan roti kering atau biskuit dengan dengan teh hangat.
5. makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan
6. Makanan seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin
7. Defekasi teratur
8. Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan faktor penting, dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, A, dkk, (2001), Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, Jakarta : Penerbit Media Aesculapius FKUI.

Mochtar, R, (1998), Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi, edisi 2, Jilid 1, Jakarta : EGC.

Taber, B, (1994), Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, cetakan 1 Jakarta : EGC.

KEHAMILAN EKTOPIK

 KATA PENGANTAR

Puji syukur atas karunia yang Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kami, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Makalah yang kami susun ini mengenai Keperawatan Maternitas yang berjudul Kehamilan Ektopik. Salah satu tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk pengembangan daya penalaran untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi dalam suatu pembelajaran.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Kami juga mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan makalah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,

Surabaya, 5 Februari 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………………………………………………………………………………… i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………… ii

BAB I Pendahuluan ………………………………………………………………..………… 1

1.1  Latar Belakang …………………………………………………………………… 1

1.2  Rumusan Masalah ………………………………………………………………… 1

1.3  Tujuan ………………………………………………………………………….… 1

1.4  Manfaat ……………………………………………………………….………….. 1

BAB II Tinjauan Teori ………………………………………………………….……………. 2

2.1 Konsep Dasar Teori ……………………………………………………………… 2

2.1.1 Pengertian ……………………………………………………..…………… 2

2.1.2 Etiologi ……………………………………………………..……………… 2

2.1.3 Macam kehamilan ektopik …………………………………………………. 3

2.1.4 Patofisiologi ………………………………………………………………… 4

2.1.5 Manifestasi Klinis …………………………………..……………………… 7

2.1.6 Diagnosis ………………………………………….………………………. 8

2.1.7 Penatalaksanaan Medis …………………………………………………… 10

2.1.8 Komplikasi …………………………………..…………………………… 10

2.2 Konsep Dasar Keperawatan …………………..………………………………… 11

2.2.1 Pengkajian Keperawatan…………….…………………………………… 11

2.2.2 Analisa Data ……………………………………………………………… 15

2.2.3 Diagnosa Keperawatan …………………………………………………… 15

2.2.4 Intervensi Keperawatan ……..…………………………………………… 16

BAB III Tinjauan Kasus …………………………………………………………………….. 19

3.1 Pengkajian Keperawatan ……………………………………………………… 19

3.2 Analisa Data …………………………………………………………………… 24

3.3 Diagnosa Keperawatan ……………………………………………………….. 24

3.4 Intervensi Keperawatan ……………………………………………………….. 25

3.5 Implementasi Keperawatan …………………………………………………… 27

3.6 Evaluasi Keperawatan ………………………………………………………… 28

BAB IV Kesenjangan Teori dan Kasus ……………………………………………….……. 29

4.1 Pembahasan …………………………………………………………………… 29

4.2 Kesimpulan …………………………………………………………..……….. 29

Daftar Pustaka ……………………………………………………………………….……… 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kehamilan ektopik ialah suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita yang bersangkutan berhubung dengan besarnya kemungkinan terjadi keadaan yang gawat. Keadaan ini terjadi bila kehamilan ektopik terganggu.

Kehamilan ektopik terganggu merupakan peristiwa yang dapat dihadapi oleh setiap dokter, karena sangat beragamnya gambaran klinik kehamilan ektopik terganggu. Tidak jarang yang menghadapi penderita untuk pertama kali adalah dokter umum atau dokter ahli lainnya, maka dari itu, perlu diketahui oleh setiap dokter klinik kehamilan ektopik terganggu serta diagnosis diferensialnya. Hal yang perlu diingat ialah, bahwa pada setiap wanita dalam masa reproduksi dengan gangguan atau keterlambatan haid yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah, perlu difikirkan kehamilan ektopik terganggu.

1.2  Rumusan Masalah

1.2.1        Apa definisi dari kehamilan ektopik?

1.2.2        Apa saja etiologi dari kehamilan ektopik?

1.2.3        Apa saja macam kehamilan ektopik?

1.2.4        Bagaimana patofisiologi dari kehamilan ektopik?

1.2.5        Apakah manifestasi klinis dari kehamilan ektopik?

1.2.6        Bagaimana diagnosis dari kehamilan ektopik?

1.2.7        Bagaimana penatalaksanaan untuk kehamilan ektopik?

1.2.8        Apa saja komplikasi dari kehamilan ektopik?

1.2.9        Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan kehamilan ektopik?

1.3  Tujuan

Agar mahasiswa/i mampu memahami konsep teori dan asuhan keperawatan pada pasien dengan kehamilan ektopik.

1.4  Manfaat

Sebagai sarana belajar dalam mengaplikasikan ilmu keperawatan yang telah didapat dan untuk menambah wawasan ilmu keperawatan maternitas serta untuk pemahaman mengenai konsep dasar dan asuhan keperawatan pada pasien dengan kehamilan ektopik.

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Teori

2.1.1        Pengertian

  • Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun,frekwensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%. apabila tidak diatasi atau diberikan penanganan secara tepat dan benar akan membahayakan bagi sipenderita. (Sarwono Prawiroharjho, Ilmu Kebidanan, 2005)
  • Kehamilan Ektopik Terganggu adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endometrium (Mansjoer A, 2000 ; 267).
  • Kehamilan Ektopik Terganggu adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi, implantasi terjadi di luar endometrium kavum uteri (Prawiroharjo S, 1999).

2.1.2     Etiologi

Berbagai macam faktor berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik. Semua faktor yang menghambat migrasi embrio ke kavum uteri menyebabkan seorang ibu semakin rentan untuk menderita kehamilan ektopik. Beberapa faktor yang dihubungkan dengan kehamilan ektopik diantaranya:

  1. Faktor dalam lumen tuba:
    1. Endosalpingitis, menyebabkan terjadinya penyempitan lumen tuba.
    2. Hipoplasia uteri, dengan lumen tuba menyempit dan berkelok-kelok.
    3. Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tidak sempurna dan menyebabkan lumen tuba menyempit.
  1. Faktor pada dinding tuba:
    1. Endometriosis, sehingga memudahkan terjadinya implantasi di tuba.
    2. Divertikel tuba kongenital, menyebabkan retensi telur di tempat tersebut.
  2. Faktor di luar dinding tuba:
    1. Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba, mengakibatkan terjadinya hambatan perjalanan telur
    2. Tumor yang menekan dinding tuba, menyebabkan penyempitan lumen tuba
    3. Pelvic Inflammatory Disease (PID).
  3. Faktor lain:
    1. Hamil saat berusia lebih dari 35 tahun
    2. Migrasi luar ovum, sehingga memperpanjang waktu telur yang dibuahi sampai ke uterus
    3. Fertilisasi in vitro
    4. Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
    5. Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
    6. Merokok
    7. Penggunaan dietilstilbestrol (DES)
    8. Uterus berbentuk huruf T
    9. Riwayat operasi abdomen
    10. Kegagalan penggunaan kontrasepsi yang mengandung progestin saja
    11. Ruptur appendix
    12. Mioma uteri
    13. Hidrosalping

2.1.3     Macam-macam kehamilan ektopik

Menurut Taber (1994), macam-macam kehamilan ektopik berdasarkan tempat implantasinya antara lain :

  1. Kehamilan Abdominal

Kehamilan/ gestasi yang terjadi dalam kavum peritoneum.

(sinonim : kehamilan intraperitoneal)

  1. Kehamilan Ampula

Kehamilan ektopik pada pars ampularis tuba fallopii. Umumnya berakhir sebagai abortus tuba.

  1. Kehamilan Servikal

Gestasi yang berkembang bila ovum yang telah dibuahi berimplantasi dalam kanalis servikalis uteri.

  1. Kehamilan Heterotopik Kombinasi

Kehamilan bersamaan intrauterine dan ekstrauterin.

  1. Kehamilan Kornu

Gestasi yang berkembang dalam kornu uteri.

  1. Kehamilan Interstisial

Kehamilan pada pars interstisialis tuba fallopii.

  1. Kehamilan Intraligamenter

Pertumbuhan janin dan plasenta diantara lipatan ligamentum latum, setelah rupturnya kehamilan tuba melalui dasar dari tuba fallopii.

  1. Kehamilan Ismik

Gestasi pada pars ismikus tuba fallopii.

  1. Kehamilan Ovarial

Bentuk yang jarang dari kehamilan ektopik dimana blastolisis berimplantasi pada permukaan ovarium.

  1. Kehamilan Tuba

Kehamilan ektopik pada setiap bagian dari tuba fallopii.

2.1.4     Patofisiologi

Prinsip patofisiologi yakni terdapat gangguan mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam perjalanannya menuju kavum uteri. Pada suatu saat kebutuhan embrio dalam tuba tidak dapat terpenuhi lagi oleh suplai darah dari vaskularisasi tuba itu. Ada beberapa kemungkinan akibat dari hal ini :

  1. Kemungkinan “tubal abortion”, lepas dan keluarnya darah dan jaringan ke ujung distal (fimbria) dan ke rongga abdomen. Abortus tuba biasanya terjadi pada kehamilan ampulla, darah yang keluar dan kemudian masuk ke rongga peritoneum biasanya tidak begitu banyak karena dibatasi oleh tekanan dari dinding tuba.
  2. Kemungkinan ruptur dinding tuba ke dalam rongga peritoneum, sebagai akibat dari distensi berlebihan tuba.
  3. Faktor abortus ke dalam lumen tuba.

Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda. Ruptur dapat terjadi secara spontan atau karena trauma koitus dan pemeriksaan vaginal. Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadang sedikit hingga banyak, sampai menimbulkan syok dan kematian.

Implantasi terjadi pada :

¶ Ampulatuba                       – interstitial

¶ servikal                                – itshmic tubal

¶ intra ligamentous               – ovarian

¶ Infundibular                       – intramural

¶ tuba fallopii                        – abdominal

Perkembangan dibatasi oleh vaskularisasi

Telur mati dan di reabsorbsi

Perkembangan tergantung dari faktor tempat implantasi

tebalnya dinding tuba dan banyaknya perdarahan yang

terjadi oleh infasi trofoblas

Kehamilan terganggu umur 6-10 minggu

Bila janin mati kecil dapat di reabsorbsi

2.1.5 Manifestasi Klinis

  1. Nyeri

Gejala yang timbul berkaitan dengan apakah kehamilan ektopik tersebut telah mengalami ruptur.  Menurut pisarska dkk.(1998), wanita beresiko tinggi harus menjalani penapisan sedini mungkin sebelum mereka menjadi simtomatik. Untuk yang lainnya, gejala kehamilan ektopik yang paling sering diaami adalah nyeri panggul dan abdomen (95%) dan amenore disertai spotting atau perdarahan per vaginam dalam derajat tertentu (60-80%). Dengan semakin berlanjutnya kehamilan, Dorfman dkk,(1984) melaporkan bahwa gejala gastroinstensinal (80%) dan pusing atau perasaan mau pinggsan (58%) sering terjadi. Pada rupture, nyeri dapat terjadi didaerah abdomen manapun. Nyeri dada pleuritik dapat terjadi akibat dilatasi diafragmatik yang disebabkan oleh perdarahan.

  1. Menstruasi abnormal

Sekitar seperempat wanita tidak melapoporkan amenore, mereka menyalahartikan perdarahan uterus yang sering terjadi kehamilan tuba sebagai menstruasi yang sebenarnya. Ketika dukungan endrokin untuk endometrium menurun, perdarahan biasanya sedikit berwarna coklat tua, dan dapat intermiten atau kontinu. Meskipun perdarahan per vaginam yang banyak lebih sugestif untuk abortus inkomplet daripada kehamilan ektopik, perdarahan semacam itu kadang kala ditemukan pada kehamilan tuba.

  1. Nyeri tekan abdomen dan pelvis

Nyeri tekan yang timbul pada palpasi abdomen dan pemeriksaan, khususnya dengan menggerakkan servik, dijumpai pada lebih dari tiga per empat kasus kehamilan ektopik sudah atau sedang mengalami ruptur, tetapi kadang-kadang tidak terlihat sebelum ruptur terjadinya.

  1. Perubahan uterus

Uterus pada kehamilan etopik dapat terdorong ke salah satu sisi oleh masa ektopik tersebut. Pada kehamilan ligamentum latum atau ligamentum latum terisi darah, uterus dapat mengalami pergeseran hebat. Uterine cast akan dieksresikan oleh sebagian kecil pasien, mungkin 5% atau 10% pasien. Eksresi uterine cast ini dapat disertai oleh gejala kram yang serupa dengan peristiwa ekspulsi spontan jaringan abortus dari kavum uteri.

  1. Tekanan darah dan denyut nadi

Reaksi awal pada perdarahan sedang tidak menunjukkan perubahan pada denyut nadi dan tekanan darah, atau reaksinya kadang-kadang sama seperti yang terlihat pada tindakan flebotomi untuk menjadi donor darah yaitu kenaikan ringan tekanan darah atau respon vasovagal disertai bradikardi serta hipotensi.

  1. Suhu

Setelah terjadi perdarahan akut, suhu tubuh dapat tetap normal atau bahkan menurun. Suhu yang lebih tinggi jarang dijumpai dalam keadaan tanpa adanya infeksi. Karena itu panas merupakan gambaran yang penting untuk membedakan antara kehamilan tuba yang mengalami ruptura dengan salpingitis akut, dimana pada keadaan ini suhu tubuh umumnya diatas 38oC.

  1. Massa pelvis

Masa pelvis dapat teraba pada ± 20% pasien. Masa tersebut mempunyai ukuran, konsistensi serta posisi yang bervariasi. Biasanya masa ini berukuran 5-15 cm, sering teraba lunak dan elastis. Akan tetapi dengan terjadinya infiltrasi dinding tuba yang luas oleh darah masa tersebut dapat teraba keras. Hampir selalu masa pelvis ditemukan di sebelah posterior atau lateral uterus. Keluhan nyeri dan nyeri tekan kerap kali mendahului terabanya masa pelvis dalam tindakan palpasi.

  1. Kuldosentesis

Cara ini merupakan teknik sederhana untuk mengidentifikasi hemoperitoneum. Serviks ditarik kedepan kearah simfisis dengan tenakulum, dan jarum ukuran 16 atau 18 dimasukan melalui forniks posterior kedalam cul-de-sac. Kalau ada, cairan dapat diaspirasi, namun ketidakberhasilan melakukan aspirasi hanya diinterpretasikan sebagai pemasukan jarum yang tidak baik ke cul-de-sac dan tidak menyingkirkan kehamilan ektopik, baik yang ruptur maupun yang tidak. Fragmen-fragmrn bekuan lama yang berisi cairan, atau cairan mengandundung darah yang tidak membeku, cocok dengan diagnosis hemoperitonium yang disebabkan oleh kehamilan ektopik. Jika darah kemudian membeku, mungkin berasal dari pembuluh darah didekatnya yang pecah dan bukan kehamilan ektopik yang berdarah.

2.1.6        Diagnosis

Gejala-gejala kehamilan ektopik terganggu beraneka ragam, sehingga pembuatan diagnosis kadang-kadang menimbulkan kesulitan, khususnya pada kasus-kasus kehamilan ektopik yang belum mengalami atau ruptur pada dinding tuba sulit untuk dibuat diagnosis.

Berikut ini merupakan jenis pemeriksaan untuk membantu diagnosis kehamilan ektopik :

  1. HCG-β

Pengukuran subunit beta dari HCG-β (Human Chorionic Gonadotropin-Beta) merupakan tes laboratorium terpenting dalam diagnosis. Pemeriksaan ini dapat membedakan antara kehamilan intrauterin dengan kehamilan ektopik.

  1. Kuldosintesis

Tindakan kuldosintesis atau punksi Douglas. Adanya darah yang diisap berwarna hitam (darah tua) biar pun sedikit, membuktikan adanya darah di kavum Douglasi.

  1. Dilatasi dan Kuretase

Biasanya kuretase dilakukan apabila sesudah amenore terjadi perdarahan yang cukup lama tanpa menemukan kelainan yang nyata disamping uterus.

  1. Laparaskopi

Laparaskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnosis terakhir apabila hasil-hasil penilaian prosedur diagnostik lain untuk kehamilan ektopik terganggu meragukan. Namun beberapa dekade terakhir alat ini juga dipakai untuk terapi.

  1. Ultrasonografi

Keunggulan cara pemeriksaan ini terhadap laparoskopi ialah tidak invasif, artinya tidak perlu memasukkan rongga dalam rongga perut. Dapat dinilai kavum uteri, kosong atau berisi, tebal endometrium, adanya massa di kanan kiri uterus dan apakah kavum Douglas berisi cairan.

  1. Tes Oksitosin

Pemberian oksitosin dalam dosis kecil intravena dapat membuktikan adanya kehamilan ektopik lanjut. Dengan pemeriksaan bimanual, di luar kantong janin dapat diraba suatu tumor.

  1. Foto Rontgen

Tampak kerangka janin lebih tinggi letaknya dan berada dalam letak paksa. Pada foto lateral tampak bagian-bagian janin menutupi vertebra Ibu.

  1. Histerosalpingografi

Memberikan gambaran kavum uteri kosong dan lebih besar dari biasa, dengan janin diluar uterus. Pemeriksaan ini dilakukan jika diagnosis kehamilan ektopik terganngu sudah dipastikan dengan USG (Ultra Sono Graphy) dan MRI (Magnetic Resonance Imagine).

  • Trias klasik yang sering ditemukan adalah nyeri abdomen, perdarahan vagina abnormal, dan amenore.

2.1.7        Penatalaksanaan Medis

  1. Salpingostomi : membuka dan mengevakuasi tuba dan mengontrol pendarahan.
  2. Salpingektomi : pengangkatan tuba.
  3. Salpingooveroktomi : pengangkatan ovarium.
  4. Methotrexate : merupakan premarat kemoterapiutik digunakan setelah pembedahan untuk mengatasi pendaharaan yang ditandai dengan kadar β–HCG menetap.

Hasil peneleitian 95 % sukses dengan ultrasonografi dengan pemeriksaan β-HCG pengobatan medis yang digunakan untuk menghilangkan kehamilan ektopik yaitu :

  • Mencegah pendarahan dan perbaiki kerusakan tuba.
  • Sebuah tuba plastik mungkin dapat ditempatkan di tuba plastik atau mungkin di hilangkan. Jaringan scar ini mungkin dapat menjadi resiko tumor ektopik di kemudian hari.
  • Methotrexsate : merupakan suatu asam falik antagonis yang dapat menghambat difusi sel sebagai indikasi untuk pembedahan.
  • Berikan antibiotik dan anti inflamasi.

2.1.8        Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi yaitu:

ü  Pada pengobatan konservatif, yaitu bila kehamilan ektopik terganggu telah lama berlangsung (4-6 minggu), terjadi perdarahan ulang, Ini merupakan indikasi operasi.

ü  Infeksi

ü  Sterilitas

ü  Pecahnya tuba falopii

Komplikasi ini juga tergantung dari lokasi tumbuh berkembangnya embrio.

2.2  Konsep Dasar Keperawatan

2.2.1     Pengkajian Keperawatan

  1. Biodata

1)      Nama

Sebagai identitas bagi pelayanan kesehatan/Rumah Sakit/ Klinik atau catat apakah klien pernah dirawat disini atau tidak.

2)      Umur

Digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan terapi dan tindakan, juga sebagai acuan pada umur berapa penyakit/kelainan tersebut terjadi. Pada keterangan sering terjadi pada usia produktif 25 – 45 tahun (Prawiroharjo S, 1999 ; 251).

3)      Alamat

Sebagai gambaran tentang lingkungan tempat tinggal klien apakah dekat atau jauh dari pelayanan kesehatan khususnya dalam pemeriksaan kehamilan.

4)      Pendidikan

Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien sehingga akan memudahkan dalam pemberian penjelasan dan pengetahuan tentang gejala / keluhan selama di rumah atau Rumah Sakit.

5)      Status Perkawinan

Dengan status perkawinan mengetahui berapa kali klien mengalami kehamilan ektopik terganggu (KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan.

6)      Agama

Untuk mengetahui gambaran dan spiritual klien sehingga memudahkan dalam memberikan bimbingan keagamaan

7)      Nama Suami

Agar diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam pembiayaan dan pemberian persetujuan dalam perawatan.

8)      Pekerjaan

Untuk mengetahui keadaan aktivitas sehari-hari dari klien, sehingga memungkinkan menjadi faktor resiko terjadinya kehamilan ektopik terganggu (KET).

  1. Keluhan Utama

Nyeri hebat pada perut bagian bawah dan disertai dengan perdarahan selain itu klien ammenorrhoe.

  1. Riwayat Penyakit Sekarang

Awalnya wanita mengalami ammenorrhoe beberapa minggu kemudian disusul dengan adanya nyeri hebat seperti disayat-sayat pada mulanya nyeri hanya satu sisi ke sisi berikutnya disertai adanya perdarahan pervagina :

  1. Kadang disertai muntah
  2. Keadaan umum klien lemah dan adanya shock
  3. Terkumpulnya darah di rongga perut:
  • Menegakkan dinding perut Nyeri
  • Dapat juga menyebabkan nyeri hebat sehingga klien pingsan
  1. Perdarahan terus menerus kemungkinan terjadi shock hipovolemik.
  2. Riwayat Penyakit Masa Lalu

Mencari faktor pencetus misalnya adanya riwayat endomatritis, addresitis menyebabkan perlengkapan endosalping,Tuba menyempit / membuntu, Endometritis tidak baik bagian nidasi.

  1. Status Obstetri Genekologi
    1. Usia perkawinan Sering terjadi pada usia produktif 25 – 45 tahun, berdampak bagi psikososial, terutama keluarga yang masih mengharapkan anak.
    2. Riwayat persalinan yang lalu.

Apakah klien melakukan proses persalinan di petugas kesehatan atau di dukun

  1. Grade multi
  2. Abortus yang sering curettage yang sering
  3. Riwayat penggunaan alat kontrasepsi. Seperti penggunaan IUD
  4. Adanya keluhan haid, keluarnya darah haid dan bau yang menyengat. Kemungkinan adanya infeksi.
  1. Riwayat kesehatan keluarga
    1. Hal yang perlu dikaji kondisi kesehatan suami
    2. Suami mengalami infeksi system urogenetalia, dapat menular pada istri dan dapat mengakibatkan infeksi pada celvix.
    3. Riwayat psikososial

Tindakan salpingektomi menyebabkan infertile. Mengalami gangguan konsep diri, selain itu menyebabkan kekhawatiran atau ketakutan.

  1. Pada kebiasaan sehari-hari

Pola aktivitas sehari-hari yang perlu dikaji pada kehamilan ektopik adalah :

  1. Pola Nutrisi

Pada rupture tube keluhan yang paling menonjol selain nyeri adalah Nausea dan vomiting karena banyaknya darah yang terkumpul di rongga abdomen

  1. Eliminasi

Pada BAB klien ini dapat menimbulkan resiko terhadap konstipasi itu diakibatkan karena penurunan peristaltik usus, imobilisasi, obat nyeri, adanya intake makanan dan cairan yang kurang. Sehingga tidak ada rangsangan dalam pengeluaran faeces. Pada BAK klien mengalami output urine yang menurun < 1500 ml/hr, karena intake makanan dan cairan yang kurang.

  1. Personal Hygiene

Luka operasi dapat mengakibatkan pembatasan gerak, takut untuk melakukan aktivitas karena adanya kemungkinan timbul nyeri, sehingga dalam personal hygiene tergantung pada orang lain.

  1. Pola Aktivitas (istirahat tidur)

Terjadi gangguan istirahat, nyeri pada saat infeksi/defekasi akibat hematikei retropertonial menumpuk pada cavum Douglas

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan Umum

Tergantung banyaknya darah yang keluar dan tuba, keadaan umum ialah kurang lebih normal sampai gawat dengan shock berat dan anemi (Prawiroharjo, 1999 ; 255).

  1. Pemeriksaan kepala dan leher

Muka dan mata pucat, conjungtiva anemis (Prawiroharjo, 1999 ; 155)

  1. Pemeriksaan leher dan thorax
  • Tanda-tanda kehamilan ektopik terganggu tidak dapat diidentifikasikan melalui leher dan thorax
  • Payudara pada kehamilan ektopik, biasanya mengalami perubahan
  1. Pemeriksaan Abdomen

Pada abortus tuba terdapat nyeri tekan di perut bagian bawah disisi uterus, dan pada pemeriksaan luar atau pemeriksaan bimanual ditemukan tumor yang tidak begitu padat, nyeri tekan dan dengan batas-batas yang tidak rata disamping uterus.

Hematokel retrouterina dapat ditemukan. Pada repture tuba perut menegang dan nyeri tekan, dan dapat ditemukan cairan bebas dalam rongga peritoneum. Kavum Douglas menonjol karena darah yang berkumpul ditempat tersebut baik pada abortus tuba maupun pada rupture tuba gerakan pada serviks nyeri sekali (Prawiroharjo S, 1999, hal 257).

  1. Pemeriksaan Genetalia
  • Sebelum dilakukan tindakan operasi pada pemeriksaan genetalia eksterna dapat ditemukan adanya perdarahan pervagina. Perdarahan dari uterus biasanya sedikit- sedikit, berwarna merah kehitaman.
  • Setelah dilakukan tindakan operasi pada pemeriksaan genetalia dapat ditemukan adanya darah yang keluar sedikit.
  1. Pemeriksaan Ekstrimitas

Pada ekstrimitas atas dan bawah biasanya ditemukan adanya akral dingin akibat syok serta tanda-tanda cyanosis perifer pada tangan dan kaki

  1. Pemeriksaan Penunjang
    1. Pemeriksaan umum

Penderita tampak kesakitan dan pucat, pada perdarahan dalam rongga perut tanda-tanda syok dapat ditemukan pada jenis tidak mendadak perut bagian bawah hanya sedikit mengembung dan nyeri tekan.

  1. Pemeriksaan Genekologi

Tanda-tanda kehamilan muda mungkin ditemukan, pergerakan serviks menyebakan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba sedikit membesar dan kadang-kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Kavum Douglas yang menonjol dan nnyeri raba merunjukkan adanya hematokel retrouterina, suhu kadang-kadang naik, sehingga menyukarkan perbedaaan dengan infeksi serviks.

  1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegakkan diagnosisi kehamilan ektopik terganggu, terutama bila ada tanda-tanda perdarahan dalam rongga perut. Pada kasus jenis tidak mendadak biasanya ditemukan anemia, tetapi harus diingat bahwa penurunan hemoglobin baru terlihat setelah 24 jam (Prawiroharjo S, 2002 ; 330).

2.2.2        Analisa Data

Analisa data adalah kemampuan menggabungkan data dan mengkaitkan data tersebut dengan konsep yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan. Dalam analisa data ini pengelompokan data dilakukan berdasarkan reaksi baik subyektif maupun obyektif yang digunakan untuk menentukan masalah dan kemungkinan penyebab.

2.2.3        Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 2000).

Diagnosa yang mungklin timbul pada kehamilan ektopik terganggu adalah sebagai berikut :

  1. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan.

R/: Adanya darah yang keluar dari vagina dan perdarahan intra abdominal dapat mengakibatkan kurangnya cairan tubuh.

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya rupture tuba atau robekan lapisan pelvis.

R/: Adanya pemutusan jaringan dalam tubuh akan menimbulkan rangsangan saraf meningkat sehingga timbul rasa nyeri yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman pada klien.

  1. Porensial shock berhubungan dengan perdarahan yang hebat

R/: Rupture tuba mengakibatkan terjadinya perdarahan yang banyak sehingga volume darah dalam tubuh berkurang. Adanya darah kurang dapat terjadi penurunan cardiac output sehingga menimbulkan.

  1. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam.

R/: Setiap orang berbeda pandangan dalam menghadapi tindakan pembedahan yang akan dilaksanakan sehingga responnya berbeda pula, cemas merupakan respon emosi klien adalah kejadian normal ketika klien dihadapkan pada hal yang asing baginya.

2.2.4        Intervensi Keperawatan

Intervensi merupakan bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan penetapan pencegahan masalah dan menentukan tujuan perencanaan untuk mengatasi masalah klien (Hidayat A. Azis Alimul, 2001 ; 30).

Rencana keperawatan pada klien kehamilan ektopik terganggu adalah sebagai berikut :

  1. Gangguan pemebuhan kebutuhan cairan tubuh sehubungan dengan perdarahan.

Tujuan: Perdarahan terhenti

Kriteria Hasil: Tidak ada tanda-tanda shock

Intervensi:

1)      Kaji perdarahan (jumlah, warna, gumpalan)

R/: Untuk mengetahui adanya gejala shock.

2)      Cek Hemoglobin

R/: Untuk Mengetahui adanya enemi atau tidak

3)      Anjurkan klien untuk banyak minum

R/: Dengan banyak minum maka dapat membantu mengganti cairan tubuh yang hilang.

4)      Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian tranfusi darah

R/: Untuk mengganti perdarahan yang banyak keluar

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya tuba atau robekan lapisan pelvis.

Tujuan                    :    Nyeri berkurang sampai hilang

Kriteria Hasil         :    Ekspresi wajah klien tidak menyeringai menahan nyeri

Intervensi               :

1)      Kaji tingkat nyeri klien

R/: Untuk mengetahui tingkat nyeri klien dar mengetahui tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.

2)      Kaji durasi, lokasi, frekuensi, jenis nyeri (akut, kronik, mendadak, terus – menerus)

R/: Dengan mengetahui hal tersebut diatas dapat mengetahui tingkat dan jenis nyeri sehingga mempermudah intervensi selanjutnya.

3)      Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien.

R/: Dengan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien akan dapat mengurangi rasa nyeri klien, karena lingkungan yang tidak menambah persepsi nyeri klien.

4)      Anjurkan tehnik relaksasi, distraksi

R/: Dengan mengajarkan tehnik relaksasi, distraksi dapat meringankan nyeri.

5)      Kompres Dingin

R/: Dengan memberikan kompres dingin akan memberikan rasa nyaman pada klien sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.

6)      Berikan support system

R/: Dengan memberikan support system agar ibu dapat mengerti tentang perubahan bentuk tubuhnya yang cepat karena ada kelainan pada tubuhnya sehingga ibu dapat tenang pada saat dilakukan tindakan.

7)      Lakukan massage pada klien

R/: Dengan melakukan massage akan memberikan rasa nyaman pada ibu.

8)      Atur posisi yang nyaman bagi klien

R/: Dengan mengatur posisi yang nyaman bagi klien akan mengurangi rasa nyeri

9)      Kolaborasi dengan tim medis

R/: Berkolaborasi akan membantu di dalam memberikan terapi analgesic.

  1. Potensial Shock sehubungan dengan perdarahan yang hebat

Tujuan                       :    Perdarahan berhenti

Kriteria Hasil             :    Hb klien normal ( 11 – 13 ) gr %

Intervensi                  :

1)      Monitor tanda – tanda vital

R/: Monitor tanda-tanda vital akan mengetahui keadaan dan perkembangan klien.

2)      Kaji perdarahan (jumlah, warna, gumpalan)

R/: Mengkaji perdarahan, jumlah, warna, gumpalan akan mengetahui gejala-gejala shock.

3)      Cek Hemoglobin

R/: Cek Hb akan mengetahui keadaan Hb klien.

4)      Pasang infus

R/: Memberikan infus akan menggantikan cairan yang keluar.

5)      Lakukan pemeriksaan rhesus golongan darah

R/: Pemeriksaan tersebut memudahkan melakukan transfusi

6)      Berikan transfusi darah

R/: Memberikan transfusi darah akan menggantikan banyaknya darah yang keluar

7)      Observasi tanda-tanda shock

R/: Mengobservasi tanda-tanda shock akan dapat segera mengetahui adanya kemungkinan shock

  1. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam

Tujuan                     : Rasa cemas klien hilang

Kriteria Hasil     .    : Klien dapat mengungkapkan perasaannya secara terbuka

Intervensi                :

1)      Kaji tingkat kecemasan

R/: Mengetahui tingkat kecemasan akan mengetahui tingkat cemas klien.

2)      Kaji tingkat pengetahuan klien

R/: Mengkaji tingkat pengetahuan klien akan dapat mengetahui latar belakang kehidupan klien.

3)      Ajak klien untuk lebih terbuka

R/: Sikap terbuka akan mudah mengungkap masalah yang dihadapi klien yang dapat membantu penyembuhan.

4)      Berikan penjelasan tentang proses penyakit yang sedang diderita.

R/: Memberikan penjelasan pada klien akan membantu menenangkan jiwa klien

5)      Anjurkan pada keluarga untuk memberikan support system.

R/: Memberikan support sistem akan membantu memberikan semangat bagi klien.

BAB III

TINJAUAN KASUS

Ny. M datang ke rumah sakit pada tanggal 1 Februari 2012 dengan keluhan nyeri pada bagian abdomen dan perdarahan pada kemaluannya. Riwayat kehamilan dan persalinannya GII P00010.

3.1 Pengkajian Keperawatan

  1. Data subyektif:
    1. Biodata:
      1. Nama: Ny. M
      2. Umur: 28 th
      3. Nama suami: Tn. S
      4. Umur suami: 31 th
      5. Suku/bangsa: Jawa/Indonesia
      6. Status Perkawinan:
  • Istri

Perkawinan ke          :1 (satu)

Lama perkawinan     : ± 3 tahun

Umur kawin             : 25 tahun

  • Suami

Perkawinan ke          : I (satu)

Lama perkawinan     : ± 3 tahun

Umur kawin             : 28 tahun

  1. Agama: Islam
  2. Pendidikan: SMA
  3. Alamat: Jl. Tj. Harapan 61 E
  4. Diagnosa: GII P00010
  1. Riwayat keperawatan/ kesehatan
    1. Keluhan Utama

Ibu mengatakan keluar darah dari kemaluan (flek-flek) dan merasakan nyeri pada bagian abdomen.

  1. Riwayat keperawatan/kesehatan sekarang

Ibu mengatakan sudah tidak mengalami menstruasi selama 3 minggu dan mengalami perdarahan.

  1. Riwayat keperawatan/kesehatan masa lalu

Ibu mengatakan hamil yang pertama keguguran dan dikuretasi dengan Dx : Abortus Imenens. Tidak pernah sakit DM, Jantung, Ashma, Hipertensi, TBC, dan Hepatitis.

  1. Riwayat keperawatan/kesehatan keluarga

Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit jantung, DM, asma, hepatitis, hipertensi, tidak ada keturunan kembar.

  1. Riwayat keperawatan/kesehatan lingkungan

Lingkungan rumah nyaman, klien dapat dapat beradaptasi dengan lingkungannya dengan baik.

  1. Riwayat psikososial

Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan tetangga baik.

  1. Latar belakang budaya

Klien mengatakan pernah mengadakan pengajian.

  1. Dukungan Keluarga

Keluarga mengatakan sangat mendukung kehamilan kali ini, namun masih merasa takut bila terjadi kegagalan seperti saat hamil yang pertama.

  1. Riwayat Kebidanan

1)      Riwayat haid

Menarche: 14 th

Siklus haid: Teratur, 28 hari

Keluhan selama haid: Disminorea (-), flor albus (-)

Hari pertama haid terakhir (HPHT): Px mengatakan lupa.

Tafsiran persalinan: –

2)      Riwayat perkawinan: melakukan perkawinan sekali

3)      Riwayat kehamilan dan persalinan

GII P00010

KEHAMILAN

PERSALINAN

NIFAS

ANAK

KB

No

Suami ke

Keluhan

Usia kehamilan

Penolong

Cara persalinan

Penyulit

Sex

BBL

Usia

1

1

Nyeri abdomen

8 minggu

Dokter

Aborsi

Perdarahan

suntik

2

1

Hamil ini

–          Riwayat kehamilan sekarang:

  • Ibu mengatakan ini kehamilan ke 2 usia kehamilan 2 bulan.
  • Keluhan selama hamil trimester 1 mual, muntah dan mengeluarkan darah dari kemaluan (flek – flek).

–          Pemeriksaan kehamilan sebelumnya: Ibu memeriksakan kehamilannya secara rutin di poli hamil (trimester 1 = 3 kali).

–          Terapi yang diterima: zat besi, kalsium dan vitamin.

–          HE yang sudah didapat: nutrisi tentang ibu hamil.

3. POLA-POLA FUNGSI KESEHATAN:

a. Pola persepsi-pemeliharaan kesehatan

Sebelum Hamil: pemeliharaan kesehatan cukup baik

Saat Hamil: pemeliharaan kesehatan lebih baik lagi

b. Pola aktivitas_latihan:

Sebelum Hamil: Ibu melakukan pekerjaan rumah tangga setiap hari.

Sesudah Hamil: Ibu hanya berbaring, miring ke kanan dan kiri.

c. Pola nutrisi-metabolisme

Sebelum hamil:

–          Makan         : 3 kali / hari (nasi, lauk pauk, sayur, buah)

–          Minum        : 7 – 8 gelas / hari (air putih, susu)

Saat hamil:

–          Makan         : 2 kali / hari (nasi, lauk pauk, sayur) habis ½ porsi

–          Minum        : ± 2 gelas (air putih, kacang hijau)

d. Pola eliminasi

Sebelum hamil:

–          BAK            : ± 6 kali / hari (warna kuning jernih, tidak nyeri)

–          BAB : 1 kali / hari ( lunak, warna kuning, bau khas)

Saat hamil

–          BAK            : ± 2 kali / hari (warna kuning jernih, nyeri)

–          BAB : 3 hari sekali

e. Pola tidur-istirahat

Sebelum hamil:   Siang   : ± ½ – 1 jam / hari

Malam : ± 6 – 7 jam / hari

Saat hamil: Ibu susah tidur.

f. Pola kognitif-perseptual

Sebelum hamil: Pengetahuan kurang

Saat hamil: Masih belum mengerti akan gangguan pada kehamilannya

g. Pola toleransi-koping stress

Sebelum hamil: Mekanisme koping positif

Saat hamil: mekanisme koping kurang baik

h. Pola persepsi diri-konsep diri

Sebelum hamil: konsep diri positif

Saat hamil: konsep diri berkurang

  1. Pola seksual-reproduksi

Sebelum hamil: Sering melakukan

Saat hamil: Ibu mengatakan jarang melakukan hubungan seksual karena takut keguguran seperti hamil anak pertama.

j. Pola hubungan dan peran

Sebelum hamil: mengurus rumah tangga dengan baik.

Saat hamil: kesibukan berkurang

k. Pola nilai dan keyakinan

Sebelum hamil: rajin beribadah

Saat hamil: menambah ibadah dengan berdzikir.

II. DATA OBJEKTIF

  1. Tanda-tanda vital:
    1. Tekanan darah       : 110 / 70 mmHg
    2. Nadi                      :80 kali/menit
    3. Suhu tubuh            :37º C
    4. Pernapasan            :24 kali/menit
    5. Tinggi badan               : 159 cm
    6. Berat badan                 : 54 kg
    7. Pemeriksaan fisik (head to toe):
      1. Kepala:

1)      Rambut: Rambut hitam, bersih, tidak ada benjolan, tidak ada luka, tidak ada ketombe.

2)      Muka: Simetris, tidak pucat, tidak oedema, tidak ada cloasma gravidarum.

3)      Mata: Simetris, sclera tidak icterus, conjungtiva tidak anemis.

4)      Hidung:Simetris, kepatenan hidung baik, tidak ada polip dan tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada secret.

5)      Gigi dan mulut: Simetris, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi, tidak ada gigi palsu, kebersihan cukup.

6)      Telinga: Simetris, bersih, tidak ada serumen, tidak ada purulent, pendengaran baik.

  1. Leher

1)      Kelenjar tiroid: tidak mengalami pembesaran.

2)      Vena jugularis: tidak mengalami pembesaran.

  1. Dada tidak ada retraksi intercostae, tidak ada benjolan.

1)      Jantung: 80 kali/ menit

2)      Paru: reguler, 24 kali/ menit, tidak ada suara napas tambahan.

3)      Payudara: Simetris, bersih, puting susu menonjol, tidak ada pengeluaran melalui puting.

  1. Abdomen

1)      Bentuk: simetris

2)      Strie: tidak ada

3)      Linea nigra: ada

4)      Bising usus: 18 kali/ menit

5)      Palpasi Leopold

Lepold I          : TFU belum teraba.

Lepold II         : Tidak dilakukan.

Lepold III       : Tidak dilakukan.

Leopold IV     : Tidak dilakukan.

6)      DJJ: –

  1. Genetalia: Bersih, tidak ada penyakit kelamin, keluar darah.
  2. Ekstrimitas: Tidak oedema, tidak ada gangguan pergerakan, tidak ada varices reflek patella (+).
  3. Pemeriksaan panggul luar: tidak dilakukan
  4. Tafsiran berat janin: –
  5. Pemeriksaan penunjang:

USG dengan hasil: Kehamilan ektopik.

3.2  Analisa Data

DATA

ETIOLOGI

MASALAH KEPERAWATAN

DS: Klien mengatakan ada bercak darah dari kemaluannya.

DO: Konjungtiva pucat (anemis)

Hb= 9 mg%

Terdapat bercak darah pada vagina.

Perdarahan

Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh

DS: Klien mengatakan nyeri pada perut bagian bawah.

 

DO: Klien tampak meringis kesakitan dan memegangi perutnya.

Ruptur tuba atau robekan lapisan pelvis

Gangguan rasa nyaman (nyeri)

DS: Klien mengatakan khawatir akan kesuburannya akan dating.

 

DO: Klien terlihat gelisah.

Kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam.

Gangguan psikologis (cemas)

 

3.3  Diagnosa Keperawatan

  1. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan.

R/: Adanya darah yang keluar dari vagina dan perdarahan intra abdominal dapat mengakibatkan kurangnya cairan tubuh.

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya rupture tuba atau robekan lapisan pelvis.

R/: Adanya pemutusan jaringan dalam tubuh akan menimbulkan rangsangan saraf meningkat sehingga timbul rasa nyeri yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman pada klien.

  1. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam.

R/: Setiap orang berbeda pandangan dalam menghadapi tindakan pembedahan yang akan dilaksanakan sehingga responnya berbeda pula, cemas merupakan respon emosi klien adalah kejadian normal ketika klien dihadapkan pada hal yang asing baginya.

3.4  Intervensi Keperawatan

  1. Gangguan pemebuhan kebutuhan cairan tubuh sehubungan dengan perdarahan.

Tujuan                    :    Perdarahan terhenti

Kriteria Hasil         :    Tidak ada tanda-tanda shock

Intervensi               :

1)      Kaji perdarahan (jumlah, warna, gumpalan)

R/: Untuk mengetahui adanya gejala shock.

2)      Cek Hemoglobin

R/: Untuk Mengetahui adanya enemi atau tidak.

3)      Anjurkan klien untuk banyak minum

R/: Dengan banyak minum maka dapat membantu mengganti cairan tubuh yang hilang.

4)      Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian tranfusi darah

R/: Untuk mengganti perdarahan yang banyak keluar

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya tuba atau robekan lapisan pelvis.

Tujuan                    :    Nyeri berkurang sampai hilang

Kriteria Hasil         :    Ekspresi wajah klien tidak menyeringai menahan nyeri

Intervensi               :

1)      Kaji tingkat nyeri klien

R/: Untuk mengetahui tingkat nyeri klien dan mengetahui tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.

2)      Kaji durasi, lokasi, frekuensi, jenis nyeri (akut, kronik, mendadak, terus – menerus)

R/: Dengan mengetahui hal tersebut diatas dapat mengetahui tingkat dan jenis nyeri sehingga mempermudah intervensi selanjutnya.

3)      Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien.

R/: Dengan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien akan dapat mengurangi rasa nyeri klien, karena lingkungan yang tidak nyaman dapat menambah persepsi nyeri klien.

4)      Anjurkan tehnik relaksasi, distraksi

R/: Dengan mengajarkan tehnik relaksasi, distraksi dapat meringankan nyeri.

5)      Kompres Dingin

R/: Dengan memberikan kompres dingin akan memberikan rasa nyaman pada klien sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.

6)      Berikan support system

R/: Dengan memberikan support system agar ibu dapat mengerti tentang perubahan bentuk tubuhnya yang cepat karena ada kelainan pada tubuhnya sehingga ibu dapat tenang pada saat dilakukan tindakan.

7)      Lakukan massage pada klien

R/: Dengan melakukan massage akan memberikan rasa nyaman pada ibu.

8)      Atur posisi yang nyaman bagi klien

R/: Dengan mengatur posisi yang nyaman bagi klien akan mengurangi rasa nyeri

9)      Kolaborasi dengan tim medis

R/: Berkolaborasi akan membantu di dalam memberikan terapi analgesic.

  1. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam

Tujuan                     : Rasa cemas klien hilang

Kriteria Hasil     .    : Klien dapat mengungkapkan perasaannya secara terbuka

Intervensi                  :

1)      Kaji tingkat kecemasan

R/: Mengetahui tingkat kecemasan akan mengetahui tingkat cemas klien.

2)      Kaji tingkat pengetahuan klien

R/: Mengkaji tingkat pengetahuan klien akan dapat mengetahui latar belakang kehidupan klien.

3)      Ajak klien untuk lebih terbuka

R/: Sikap terbuka akan mudah mengungkap masalah yang dihadapi klien yang dapat membantu penyembuhan.

4)      Berikan penjelasan tentang proses penyakit yang sedang diderita.

R/: Memberikan penjelasan pada klien akan membantu menenangkan jiwa klien

5)      Anjurkan pada keluarga untuk memberikan support system.

R/: Memberikan support sistem akan membantu memberikan semangat bagi klien.

3.5  Implementasi Keperawatan

  1. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan.

IMPLEMENTASI

RESPON

Melakukan pengkajian perdarahan. Warna: merah

Jumlah: sedikit (bercak)Memeriksa kadar hemoglobinHb= 9 mg%Menganjurkan klien untuk banyak minumKlien minum air tambahan 2 gelas/hari

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya rupture tuba atau robekan lapisan pelvis.

IMPLEMENTASI

RESPON

Mengkaji tingkat nyeri. Nyeri sedang.
Mengkaji durasi, lokasi, frekuensi, jenis nyeri. Durasi: ±2 menit

Lokasi: abdomen bagian bawah

Frekuensi: sering & terus-menerus

Jenis nyeri: akutMemberikan lingkungan yang nyaman.Pasien terlihat lebih nyaman.Mengajarkan klien teknik relaksasi dan distraksi.Pasien mengatakan nyeri sedikit berkurang.Memberikan kompres dinginKlien lebih nyaman dan nyeri berkurang.Memberikan support systemKlien lebih tenangMemberikan posisi yang nyamanTidak menambah nyeriBerkolaborasi dengan dokterTelah diresepkan analgesic untuk pereda nyeri

  1. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam.

IMPLEMENTASI

RESPON

Mengkaji tingkat kecemasan Tingkat cemas: sedang
Mengkaji tingkat pengetahuan klien Tingkat pengetahuan klien kurang mengenai kehamilannya.
Mengajak klien untuk lebih terbuka mengenai perasaannya Klien sedikit demi sedikit mau untuk menceritakan perasaannya

3.6  Evaluasi Keperawatan

  1. Klien dapat memenuhi kebutuhan cairan tubuhnya.
  2. Nyeri klien berkurang
  3. Klien tidak cemas lagi

BAB IV

KESENJANGAN TEORI DAN KASUS

4.1  Pembahasan

Pada BAB ini, kami akan membahas mengenai kesenjangan yang terdapat pada teori dan kasus yang penulis dapatkan dengan melakukan penerapan Asuhan Keperawatan pada kasus Ny.M yang mengalami kehamilan ektopik. Kami melakukan pembahasan melalui kajian teori dan asuhan keperawatan.

  1. Diagnosa Keperawatan

Pada landasan teori terdapat empat diagnose yang mungkin muncul, yaitu;

  1. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan
  2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya rupture tuba atau robekan lapisan pelvis.
  3. Porensial shock berhubungan dengan perdarahan yang hebat
  4. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam.

Sedangkan pada kasus, diagnose yang muncul hanya tiga, yaitu;

  1. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan
  2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya rupture tuba atau robekan lapisan pelvis.
  3. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam.
  4. Intervensi Keperawatan

Pada landasan teori, terdapat perlakuan masase pada pasien agar nyeri berkurang. Sedangkan pada kasus, kami tidak melakukan masase pada klien karena kami melakukan teknik yang lainnya seperti kompres dingin dan mengajarkan teknik relaksasi-distraksi.

4.2  Kesimpulan

Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endometrium kavun uteri.hamil ini ditandai dengan amenore,gejala kehamilan muda dan perdarahan yang berwarna cokelat dan pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila serviks digoyangkan,nyeri pada perabaan dan kavum douglasi menonjol karena ada pembekuan darah.pada kasus seperti ini perlu segera ditangani dan di ambil tindakan.

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F. Gary dkk. 2005. Obstetri Williams. Jakarta: EGC.

Prawirohardjo, Sarwono. 1999. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

http://dewipadma.wordpress.com/2011/09/06/makalah-kehamilan-ektopik/. Diunduh tanggal 15 Februari 2012.

http://wadung.wordpress.com/2010/03/22/makalah-kehamilan-ektopik/. Diunduh tanggal 15 Februari 2012.

 

 

ABORTUS SPONTAN

Kata Pengantar

 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan makalah Keperawatan Komunitas ” Askep Abortus Spontan” tepat pada waktunya.

Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan makalah ini.

Penulis juga menyadari banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik yang membangun agar penulis dapat berbuat lebih banyak di kemudian hari. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

 

 

 

 

Surabaya, 18 februari, 2012

 

 

 

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………..

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………….

BAB II TINJAUAN TEORI……………………………………………………………………..

2.1 Konsep Dasar Abortus Spontan…………………………………………………………….

2.1.1 Defenisi ……………………………………………………………………………………

2.1.2 Etiologi……………………………………………………………………………………..

2.1.3 Patofisiologi…………………………………………………………………………………..

2.1.4 Manifestasi klinik…………………………………………………………………………

2.1.5 Komplikasi…………………………………………………………………………………

2.1.6 Pemeriksaan penunjang……………………………………………………………………

2.1.7 Penatalaksanaan……………………………………………………………………………

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Abortus Spontan……………………………………………

2.2.1 Pengkajian…………………………………………………………………………………

2.2.2 Diagnosa keperawatan…………………………………………………………………….

2.2.3 Rencana tindakan…………………………………………………………………………

BAB III TINJAUAN KASUS……………………………………………………………………

BAB IV PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN……………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH KEPERAWATAN MATERNITAS II

“ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ABORTUS SPONTAN”

 

KELOMPOK I

  1. DIAH PRITA K . (0910015)
  2. HENDRI OVI      (0910021)
  3. MARNIATI         (0910034)
  4. MULYADI          (0910040)
  5. YEHENI SERAN (0910056)

 

S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

ARTHA BODHI ISWARA

SURABAYA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perlu dikemukakan bahwa hasil konsepsi adalah seperti benda asing yang berimplantasi dalam uterus sehingga terjadi upaya mempertahankan dan menolak benda asing tersebut dengan berbagai reaksi tubuh. Faktor utama untuk mempertahankannya adalah system hormone dan system imunologi. Dengan demikian kehamilan dapat berlangsung sampai aterm dan sampai berlangsung persalinan.

Abortus didefinisikan sebagai keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Karena definisi viabilitas berbeda-beda di berbagai negara, WHO merekomendasikan bahwa janin viable apabila masa gestasi telah mencapai 22 minggu atau lebih atau apabila berat janin 500 gr atau lebih. Karena istilah aborsi tidak membedakan abortus spontan dan abortus buatan, banyak ahli kebidanan, menyebut aborsi spontan sebagai keguguran (miscariage). Kebanyakan abortus secara alamiah antara kehamilan minggu ke 6 dan ke 10.

Data dari beberapa negara memperkirakan bahwa antara 10 dan 15 persen kehamilan yang terdiagnosis secara klinis berakhir dengan abortus. Abortus lebih serinng terjadi pada wanita yang berusia diatas 30 tahun dan meningkat pada usisa diatas usia 35 tahun. Frekuensi meniingkat bersamaan dengan meningkatnya angka graviditas: 6 persen kehamilan pertama atau kedua berakhir dengan abortus, angka ini meningkat menjadi 16 persen pada kehamilan ke 3dan seterusnya.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Penjelasan konsep dasar abortus spontan yang terdiri dari definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi, komplikasi dan pemeriksaan penunjang serta penatalaksanaan.
  2. Penjelasan tentang Asuhan Keperawatan pada klien dengan abortus spontan mulai dari pengkajian samapai intervensi keperawatan.

1.3 Tujuan

            1. Mahasiswa dapat memahami tentang konsep dasar abortus spontan

2. Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan yang akan diterapkan pada klien  dengan abortus spontan.

1.3 Manfaat

Melalui makalah ini diharapkan mahasisiwa dapat memahami konsep dasar dan asuhan keperawatan pada klien dengan abortus spontan sehingga nantinya dapat menerapkan asuhan keperawatan yang optimal dan dapat memberikan pendidikann yang benar kepada klien yang belum memahami masalah kehamilan dan post partum.

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1. Konsep Dasar Abortus Spontan

2.1.1 Defenisi

Abortus spontan (miscarriage ) adalah  abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis atau medis untuk mengosongkan uterus

Menurut ACOG – American College of Obstetricians and Gynecologists, abortus spontan adalah jenis kegagalan kehamilan yang sering dijumpai. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 10 – 25% kehamilan akan berakhir dengan abortus spontan. Dari seluruh peristiwa abortus spontan,  50 – 75% adalah peristiwa kehamilan yang tergolong dalam ” Chemical Pregnancies”. Kejadian ini terjadi dimana kehamilan segera berakhir setelah implantasi dan terjadi kehamilan sekitar waktu perkiraan haid yang akan datang. Pasien dengan ” chemical pregnancy” tak menyadari bila dirinya hamil.

Berdasarkan dari aspek klinisnya abortus spontan itu terdiri atas 6 sub kelompok :

  1. Abortus Iminens

Perdarahan atau rabas pervaginam dari uterus pada paruh pertama kehamilan atau  pada kehamilan sebelum 20  minggu, sedang hasil konsepsi masih dalam uterus tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosis abortus imminens diduga bila perdarahan berasal dari intrauteri muncul selama pertengahan pertama kehamilan, dengan atau tanpa kolik uterus, tanpa pengeluaran hasil konsepsi dan tanpa dilatasi serviks. Menurut Taber (1994), umumnya kira-kira 50 % wanita dengan gejala abortus imminens kehilangan kehamilannya, persentase kecil lahir prematur dan lainnya berlanjut ke kelahiran cukup bulan.

  1. Abortus inevitable/insipien

Abortus yang tidak terhindarkan ditandai oleh pecah ketuban yang nyata disertai pembukaan serviks tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kuat, perdarahan bertambah.

Ciri : perdarahan pervaginam, dengan kontraksi makin lama makin kuat dan sering, serviks terbuka.

  1. Abortus inkomplit

Abortus yang terjadi sebelum usia gestasi 10 minggu. Sebagian hasil konsepsi masih tersisa dalam rahim yang dapat menimbulkan penyulit. Perdarahan abortus ini dapat banyak sekali, sehingga dapat menyebabkan perdarahan banyak dan tidak berhenti sebelum hasil konsepsi dikeluarkan.

Ciri : perdarahan yang banyak, disertai kontraksi,serviks terbuka,sebagian jaringan keluar.

  1. Abortus Kompletus (keguguran lengkap)

Abortus kompletus terjadi dimana semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri sebagian besar telah menutup, dan uterus sudah banyak mengecil. Ciri : perdarahan pervaginam, kontraksi uterus, ostium serviks menutup, ada keluar jaringan, tidak ada sisa dalam uterus.

 

 

Gbr: 1                                                                                  Gbr 2: abortus kompletus

Abortus Inkompletus,dimana pada sebelah kanan gambar terlihat                                                     gambaran produk konsepsi yangkeluar pada abortus inkompletus

  1. Missed abortion

Retensi produk konsepsi yang telah meninggal in utero selama beberapa minggu (8 minggu atau lebih). Setelah retensi yang lama dari hasil konsepsi yang mati, dapat terjadi kelainan pembekuan darah yang serius, khususnya bila kehamilan telah mencapai trimester kedua sebelum janin mati.

  1. Abortus rekuren/habitualis

Definisi abortus spontan yang berkali-kali (habitualis) telah dibuat berdasarkan berbagai kriteria jumlah dan urutannya, tapi definisi yang paling mungkin diterima saat ini adalah abortus spontan yang terjadi berturut-turut tiga kali atau lebih.

2.1.2        Etiologi

            Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi beberapa faktor yang berpengaruh adalah:

  1. Faktor pertumbuhan hasil konsepsi, kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan        kematian janin dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan, gangguan pertumbuhan karena :
  • Faktor kromosom terjadi sejak semula pertemuan kromosom, termasuk kromosom seks
  • Faktor lingkungan endometrium terjadi karena endometrium belum siap untuk menerima implantasi hasil konsepsi.selain itu juga karena gizi ibu yang kurang karena anemia atau terlalu pendeknya jarak kehamilan.
  • Pengaruh luar

–          Infeksi endometrium

–          Hasil konsepsi yang dipengaruhi oleh obat dan radiasi

–          Faktor psikologis

–          Kebiasaan ibu (merokok, alcohol, kecanduan obat)

  1. Kelainan plasenta
  • Infeksi pada plasenta
  • Gangguan pembuluh darah
  • Hipertensi
  1. Penyakit ibu
  • Penyakit infeksi seperti tifus abdominalis, malaria, pneumonia dan sifilis
  • Anemia
  • Penyakit menahun seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati, DM
  • Kelainan rahim

2.1.4 Manifestasi klinik

  • Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.
  • Pada pemeriksaan fisik ; keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau menurun.
  • Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.
  • Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus.
  • Pada pemeriksaan ginekologi:

ü  Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam, ada/tidak jaringan hasil konsepsi, tercium atau tidak bau busuk dari vagina.

ü  Inspekulo: perdarahan dari cavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup, ada/tidak  jaringan keluar dari ostium, ada/tidak jaringan berbau busuk dari ostium

ü  Vaginal toucher : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat portio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri.

2.1.3   Komplikasi

Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah perdarahan, perforasi,infeksi, dan syok.

  1. Perdarahan

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.

  1. Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiporetrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi, dan tergantung dari luar dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin juga terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi,laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya cedera,untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi.

  1. Infeksi

Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis. Apabila infeksi menyebar lebih jauh, terjadilah peritonitis umum atau sepsis, dengan kemungkinan diikuti oleh syok.

  1. Syok

Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik)dan karena infeksi berat (syok endoseptik).

 

2.1.6 Pemeriksaan Penunjang

  1. Laboratorium
  • Darah  Lengkap :

–          Kadar haemoglobin rendah akibat anemia haemorrhagik.

–          LED dan jumlah leukosit meningkat tanpa adanya infeksi.

  • Tes Kehamilan

–          Penurunan atau level plasma yang rendah dari β-hCG adalah prediktif. terjadinya kehamilan abnormal (blighted ovum,abortus spontan atau kehamilan ektopik).

  1. Ultrasonografi

USG transvaginal dapat digunakan untuk deteksi kehamilan 4– 5 minggu. Detik jantung janin terlihat pada kehamilan dengan CRL > 5 mm (usia kehamilan 5– 6 minggu). Dengan melakukan dan menginterpretasi secara cermat, pemeriksaan USG dapat digunakan untuk menentukan apakah kehamilan viabel atau non-viabel.

  • Pada abortus imimnen

Mungkin terlihat adanya kantung kehamilan (gestational sac GS) dan embrio yang normal. Prognosis buruk bila dijumpai adanya kantung kehamilan yang besar dengan dinding tidak beraturan dan tidak adanya kutub janin. Perdarahan retrochorionic yang luas ( > 25% ukuran kantung kehamilan). Frekuensi DJJ yang perlahan ( < 85 dpm ).

  • Pada abortus inkompletus kantung kehamilan umumnya pipih dan iregular serta terlihat adanya jaringan plasenta sebagai masa yang echogenik dalam cavum uteri.
  • Pada abortus kompletus

Endometrium nampak saling mendekat tanpa visualisasi adanya hasil konsepsi.

  • Pada missed abortion

Terlihat adanya embrio atau janin tanpa ada DJJ. Pada blighted ovum, terlihat adanya kantung kehamilan abnormal tanpa yolk sac atau embrio.

 

2.1.7        Penatalaksanaan

Tehnik aborsi dapat dilakukan baik secara medis maupun bedah. Dalam suatu uji klinis teracak tentang efektivitas dan akseptabilitas teknik-teknik ini.

  1. Teknik bedah :
  • Dilatasi serviks diikuti evakuasi uterus :

–          Kuratase

–          Aspirasi vakum (kuratase isap)

–          Dilatasi dan evakuasi (D & E

–          Dilatasi dan ekstraksi (D & X)

  • Aspirasi haid
  • Laparotomi

–          Histeretomi

–          Histerektomi

  1. Tehnik medis :
  • Oksitosin intravena
  • Cairan hiperosmotik intra amnion

–          Salin 20 %

–          Urea 30 %

  • Prostaglandin E2, F2 alfa dan analognya

–          Injeksi intraamnion

–          Insersi vagina

–          Injeksi parenteral

–          Ingesti oral

  • Anti progesterone – RU 486 (mifepriston) dan epostan

 

1.2              Konsep Asuhan Keperawatan Abortus Spontan

2.2.1   Pengkajian

Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Data pengkajian pada pasien dengan abortus spontan adalah memperhatikan keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau menurun. Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.

  1. I.     RIWAYAT KEPERAWATAN/ KESEHATAN
    1. a.    Keluhan utama :

Perdarahan pervagina disertai nyeri perut bagian bawah.

  1. b.   Riwayat keperawatan/kesehatan sekarang :

Merupakan penjelasan dari permulaan klien merasakan keluhan adanya perdarahan sampai menimbulkan nyeri dan bagaiman kualitas nyeri yang dirasakan dan jumlah perdarahannya.

  1. c.    Riwayat keperawatan/kesehatan masa lalu

Riwayat kesehatan klien yang berhubungan dengan masalah abortus yang dialaminya atau adanya masalah kesehatan lain yang mungkin dapat dipengaruhi atau mempengaruhi abortus yang saat ini dialami klien

  1. d.   Riwayat keperawatan/kesehatan keluarga :

Dihubungkan dengan kemungkinan adanya riwayat keluarga yang mengalami abortus, kecendrungan alergi dalam satu keluarga, penyakit menular akibat kontak lansung maupun tak langsung antara anggota keluarga. Dan dihubungkan dengan menggunakan genogram.

  1. e.    Riwayat keperawatan/kesehatan lingkungan :

Diisi faktor-faktor lingkungan seperti situasi dan kondisi lingkungan yang meningkatkan resiko trauma dan faktor lainnya.

  1. f.     Riwayat psikososial :

Dihubungkan dengan perasaan klien dan keluarganya pada saat hamil dan terjadinya abortus.

  1. g.    Latar belakang budaya :

Pandangan klien dan keluarga tentang kehamilan masalah kehamilan dalam hal ini adalah abortus berdasarkan budayanya.

  1. h.   Dukungan keluarga:

Dukungan yang diberikan keluarga khususnya sang ayah dalam menerima kehamilan sampai terjadinya abortus dan pandangannya tentang kehamilan.

  1. i.      Riwayat Obstetri/Kebidanan
    1. Riwayat menstruasi :

Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta          keluhan yang menyertainya

  1. Riwayat perkawinan :

Kaji mengenai status perkawinan. Lama perkawinan dan kawin pertama.

  1. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas :

 

G….. P……..

Kehamilan

Persalinan

Nifas

Anak

KB

No Suami ke Keluhan Usia kehamilan. Penolong Cara      persalinan Penyulit   Sex BBL Usia  
                     
                     
                     
                       

 

Riwayat Kehamilan Sekarang :

–          Pemeriksaan kehamilan sebelumnya : Pemeriksaan yang diilakukan pada saat hamil sebelumnya

–          Terapi yang diterima : Terapi yang pernah di terima

–          HE yang sudah didapat : Pendidikann kesehatan yang diketahui oleh klien selama hamil  dan post partum

POLA-POLA FUNGSI KESEHATAN

Diisi dengan prioritas pola fungsi kesehatan yang berhubungan perubahan fungsi/anatomi tubuh. Dari kesebelas pola fungsi kesehatan diisi dengan keadaan klien sebelum dan saat          hamil. Sebelas pola tersebut antara lain :

  1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan :

Ibu mengatakan tidak merokok, minum jamu, obat-obatan tanpa resep dokter dan sering melakukan pemeriksaan kesehatan.

  1. Pola nutrisi dan metabolism :

Makan 3x sehari 1 porsi sedang dengan komposisi nasi, sayur, lauk. Minum 7-8 gelas per hari. Nafsu makan baik, kadang terasa mual ingin muntah.

  1. Pola eliminasi :

BAK lancar, warna kuning jernih, bau amoniak, tdak ada keluhan. BAB lancar setiap pagi, warna kuning tengguli, bau khas.

  1. Pola aktivitas dan kebersihan diri :

Ibu mengatakan sebagai Ibu Rumah Tangga tetap melakukan kegiatan seperti memasak, mencuci, menyapu.

  1. Pola istirahat tidur :

Tidur siang 2 jam (12.00 – 14.00) tidur malam 8 jam (21.00 – 05.00). tidur sering terganggu karena adanya rasa nyeri perut bagian bawah.

  1. Pola seksual dan seksualitas :

Ibu tidak melakukan hubungan seksual pada saat mengalami abortus

 

  1. II.   DATA OBYEKTIF

Merupakan data yang dapat dioservasi dan diukur antara lain

  1. Kesadaran : Composmentis
  2. Tanda – tanda vital :

T   :           110/70 mmHg

N  :           100 x/ menit

S   :           36º C

RR:           20 x/ menit

  1. Tinggi badan
  2. Berat badan
  3. Pemeriksaan fisik dengan head to toe dan dilakuan dengan tehnik inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
  • Kepala

Rambut          : hitam, bersih

Muka               : chloasma gravidarum tidak ada

Mata                : anemis tidak ada,  icterus tidak ada

Hidung            : tidak ada polip,  normal

Mulut             : sariawan tidak ada

Gigi                 : caries tidak ada

Telinga : bersih, tidak ada secret/cairan yang keluar.

  • Leher :

Tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan tiroid tiroid, tidak ada distensi vena jugularis

  • Dada/Payudara :

Bentuk simetris, mamae membesar, putting susu menonjol, areola hiperpigmentasi, tidak terdapat benjolan.

  • Abdomen/Perut           : belum tampak membesar, tidak ada bekas operasi SC, Fundus Uteri  belum teraba, terdapat nyeri tekan, terdapat his.
  • Ekstrimitas  atas : normal, odema tidak ada. Bawah : normal, odema tidak ada, varices tidak ada, Reflek patella kanan kiri positif
  • Genetalia         : terdapat perdarahan pervagina
  • Anus    : hemoroid tidak ada
  •  Pemeriksaan dalam : ada perdarahan pada jalan lahir, tidak ada pembukaan servicks, dan service teraba lunak
  • Data Penunjang  : PPT positif

 

2.2.2        Diagnosa keperawatan

  1. Devisit Volume Cairan berhubungan dengan  perdarahan
  2. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan  kerusakan jaringan intrauteri
  3. Resiko tinggi Infeksi berhubungan dengan  perdarahan, kondisi vulva lembab
  4. Cemas berhubungan dengan  kurang pengetahuan

2.2.3        Rencana tindakan

  1. 1.      Devisit Volume Cairan b/d Perdarahan

Tujuan :

Setelah  dilakukan tindakan keperawatan, maka tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.

Kriteria hasil :

–            Klien mengatakan jumlah perdarahannya berkurang

–            Turgor kulit baik

–            TTV normal

Intervensi :

  1. Kaji kondisi status hemodinamika

Rasional : Pengeluaran cairan pervaginam sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi

  1. Ukur pengeluaran harian

Rasional  : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal

  1. Anjurkan klien memenuhi kebutuhan cairan

Rasional  : Motivasi untuk memenuhi kebutuhan cairan

  1. Kolaborasi untuk pemberian cairan IV

Rasional : Resusitasi cairan membantu kehilangan cairan dan mencegah terjadinya komplikasi

  1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri b/d kerusakan jaringan intrauteri

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang   dialami

Kriteria hasil :

–          Klien mengatakan nyeri mulai berkurang

–          Wajah tampak rileks

–          Klien dapat istirahat  tidur

–          Skala nyeri dalam batas normal

 

Intervensi :

  1. Kaji kondisi nyeri yang dialami klien

Rasional  : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun deskripsi.

  1. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya

Rasional  : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri

  1. Kolaborasi pemberian analgetika

Rasional  : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik

  1. Lakukan pendidikan kesehatan teknik distraksi

Rasional : Adaptasi terhadap nyeri merupakan teknik yang dapat menurunkan nyeri disamping kecemasan

  1. Resiko tinggi Infeksi berhubungan dengan  perdarahan, kondisi vulva lembab

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan tidak terjadi infeksi selama perdarahan berlangsung

Kriteria hasil :

–          Klien mulai mengenal tanda-tanda infeksi

–          Mampu melakukan perawatan vulva

–          Vulva nampak bersih dan kotor

–          Tanda-tanda infeksi berkurang atau hilang

Intervensi :

  1. Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau

Rasional  : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi

  1. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan

Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar

  1. Lakukan perawatan vulva

Rasional  :Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.

  1. Terangkan pada klien cara  mengidentifikasi tanda inveksi

Rasional  : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi

  1. Anjurkan pada suami untuk   tidak melakukan hubungan senggama selama masa perdarahan

Rasional  : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

  1. Cemas berhubungan dengan  kurang pengetahuan

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien tidak merasa cemas, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat

Kriteria hasil :

–          Klien dapat mengulang kembali informasi yang diberikan

–          Klien terlihat tenang

–          Berpartisipasi dalam aturan perawatan

Intervensi :

  1. Kaji tingkat pengetahuan/persepsi  klien dan keluarga terhadap penyakit

Rasional  : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas

  1. Kaji derajat kecemasan yang dialami klien

Rasional  : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit

  1. Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan

Rasional  : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien

  1. Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama

Rasional  : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan

  1. Terangkan hal-hal seputar aborsi  yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga

Rasional  : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga

 

 

 

BAB III

TINJAUAN KASUS

Kasus :

Ny. U adalah seorang ibu berusia 31 tahun dan menikah pada usia 23 tahun  dengan  Gravida III, PARA 10111, datang ke poli kebidanan dengan keluhan nyeri pada bagian bawah perut, perdarahan pervagina yang sedikit-. Klien mengatakan terlambat haid sudah 3 bulan dan melakukan tes urine positif hamil. Ny U sebelumnya mengalami keguguran pada usia kehamilan 5 bulan dan ditolong oleh PKM dan mempunyai anak perempuan berusia 3 tahun.

PENGKAJIAN

Tanggal masuk   : 4 April 2001                                   Jam masuk       : 09.40 WIB

Ruang                 : Poliklinik Kebidanan                     No. Reg Med  :

Pengkajian          : 4 April 2001

  1. Identitas

 

Nama Pasien         : Ny. U                                    Nama Suami    : Tn. M

Umur                     : 31 tahun                                Umur               : 34 tahun

Suku/Bangsa         : Sulawesi/Indonesia               Suku/bangsa    : Sulawesi/ Indonesia

Agama                   : Islam                                     Agama             : Islam

Pendidikan                        : SLTP                                     Pendidikan      : SLTA

Pekerjaan               : Ibu rumah tangga                  Pekerjaan         : Wiraswasta

Alamat                  : Jl. Soedirman no 5, Kendari

 

 

  1. RIWAYAT KEPERAWATAN/kesehatan
    1. Keluhan utama :

Perdarahan pervagina sedikit-sedikit disertai nyeri perut bagian bawah

  1. Riwayat keperawatan/kesehatan sekarang

Ibu datang  ke klinik karena mengalami perdarahan yang tidak berhenti mulai tanggal 9 pebruari 2012, jumlah sedikit-sedikit dan disertai dengan nyeri pada perutnya bagian bawah,  menyebar ke daerah pinggang dan dubur, jumlah darah yang keluar kurang lebih 500 cc (tiap hari 50 cc/kali).

  1. Riwayat keperawatan/kesehatan masa lalu : Klien sebelumnya pernah mengalami keguguran (tahun 2008) pada saat umur kehamilan 5 bulan. Klien menyatakan tidak menderita penyakit jantung, paru, kencing manis, gondok, dan penyakit keturunan lainnya.
  2. Riwayat keperawatan/kesehatan keluarga :

Tidak ada riwayat keguguran pada anggota keluarga lainnya.

  1. Riwayat keperawatan/kesehatan lingkungan :

Ibu dan keluarga tinggal dilingkungan yang sangat padat, mempunyai seorang anak perempuan berumur 3 tahun.

  1. Riwayat psikososial :

Kehamilan ini sebenarnya tidak direncanakan tapi karena ibu mengalami abortus sehingga ibu dan keluarga menerima kondisi ini dan berharap dapat sembuh dengan cepat.

  1. Latar belakang budaya : Menurut budaya Ny. U untuk menghindari terjadinya abortus pada saat hamil dilarang keluar pada saat matahri terbenam.
  2. Dukungan keluarga : Suami dan keluarga memberi dukungan penuh pada ibu saat mengalami perawatan tersebut.
  3. Riwayat Obstetri/Kebidanan
  4. Riwayat Menstruasi

Menarche umur 14 tahun, siklus teratur (28 hari) denggan jumlah darah relatif banyak selama 6-7 hari. Klien tidak mengalami dismenorhea. Hari Pertama Haid Terakhir tanggal 9 desember 2011, Perdarahan tanggal 9februari 2012 dianggap klien sebagai haid.

  1. Riwayat perkawinan:

Klien  menikah pada usia 23 tahun

  1. Riwayat Kehamilan dan persalinan

 

G.IV P10111

Kehamilan

Persalinan

Nifas

Anak

KB

No Suami ke Keluhan Usia keh. penolong Cr pers. Penyulit   Sex BBL Usia  
1.     I Mual,muntah 9 bln Bidan normal baik perempuan 2,5 3 thn suntik
2     I Mual,muntah & pusing 5 bln PKM dikuret perdarahan
3.     I Pusing 3 bln PKM dikuret perdarahan
4. Ham.ini                    

 

Riwayat Kehamilan Sekarang :

–                      Pemeriksaan kehamilan sebelumya : dilakukan oleh Bidan

–                      Terapi yang diterima : terapi suportif, antibiotika dan uterotonika

–                      HE yang sudah didapat : pendidikan kesehatan tentang kehamilan dan persalinan

  1. a.    POLA – POLA FUNGSI KESEHATAN
    1. Pola persepsi-pemeliharaan kesehatan
  • Sebelum hamil :      klien sering melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah                                                 sakit
  • Saat hamil   :          klien tetap sering melakukan pemeriksaan di rumah sakit                                      khususnya di poli kebidanan
  1. Pola aktifitas – latihan
  • Sebelum hamil :      klien dapat memenuhi kebutuhan dasar (makan, minum,                                                 BAB, BAK dan lain- lain) dan dapat beraktifitas secara                                           mandiri.
  • Saat hamil   :           klien tetap mampu memenuhi kebutuhan dasar (makan,                                        minum,  BAB,BAK) dan tetap dapat             beraktifitas secara                                       mandiri
  1. Pola nutrisi – metabolism
  • Sebelum hamil :      Klien makan 3 kali sehari, nafsu makan baik, dengan cukup                                 lauk dan sayuran; klien tidak mengalami gangguan nafsu                                          makan, klien tidak berpantang makan.
  • Saat hamil   :          nafsu makan tetap baik meskipun kadang porsi makan tidak                                 dihabiskan, minum sedikit demi sedikit tapi sering
  1. Pola eliminasi
  • Sebelum hamil :      BAK lancar dengan frekuensi 4 -5 kali/hari, warna kuning,                                   bau khas. Untuk BAB 1 kali/hari, warna kuning kecoklatan,                                     bau khas, konsistensi lembek.
  • Saat hamil   :          BAK lancar dan sering dengan frekuensi 9 – 10 kali/hari,                                     warna kuning, bau khas. Untuk BAB 1 kali/2 hari, warna                                         kuning kecoklatan, konsistensi lembek.
  1. Pola tidur – istrahat
  • Sebelum hamil :      Tidur malam 6 – 8 jam/hari, tidur siang kadang-kadang,                                       tidak ada gangguan saat tidur.
  • Saat hamil   :           Tidur terganggu karena adanya rasa nyeri pada abdomen
  1. Pola nilai dan kepercayaan

Klien rajin melaksanakan shalat 5 waktu, dan selalu mengikuti kegiatan ke agamaam seperti pengajian dan sebagainya.

II. DATA OBYEKTIF

  1. Tanda – tanda vital
  • Tekanan darah         : 120/70 mmHg
  • Nadi                      : 80 X/menit
  • Suhu tubuh            : 36,4
  • Pernapasan                : 18 X/menit:
  1. Tinggi badan                  : 157 cm
  2. Berat badan                   : 58 Kg
  3. Pemeriksaan fisik :
  • Kepala

–          Rambut bersih warna hitam, jumlah rambut banyaak, tidak ada pembesaran kepala, tidak ada benjolan, tidak ada luka.

–          Muka : bentuk simetris, tidak ada oedema, tidak ada luka, tidak ada benjolan.

–          Mata : konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterus, tidak ada oedema, reflex cahaya (      ).

–          Hidung : bentuk simetris, tidak ada secret, tidak nampak pernapasan cuping hidung, hidung bersih.

–          Gigi dan mulut : mukkosa bibir kering, tidak ada kemerahan/radang, tidak ada caries, tidak ada stomatitis, mulut dan gigi bersih.

–          Telinga : bentuk simetris, tidak ada serumen/darah yang keluar, tidak ada oedema/benjolan.

  • Leher

–          Kelenjar tiroid : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

–          Vena jugularis : tidak ada pembesaran vena jugularis.

  • Dada

–          Jantung  : suara jantung SI – S2 tunggal

–          Paru       : bentuk thoraks simetris, pergerakan dada simetris kiri dan kanan, tidak ada nyeri tekan pada thhoraks, tidak ada suara napas tambahan, pada ICS 4 – 6 terdengar pekak dan terdengar suara sonor pada seluruh lapang paru.

–          Payudara : bentuk simetris, tidak ada benjolan pada payudara, papillae mammae mengalami pembesaran, payudara nampak bersih.

  • Abdomen

–          Bentuk simetris

–          Terdapat striae dan linea

–          palpasi LEOPOLD I     : tinggi Fundus Uteri 3 Cm diatas simpisis

–          DJJ (positif)

 

  • Genetalia

Terjadi perdarahan pervagina sedikit – sedikit, jumlah darah yang keluar kurang lebih 500 cc (tiap hari 50 cc/kali).

  • Ekstremitas        :

–          CRT       : 2 detik

–          Warna kulit        : kuning bersih

–          Tidak ada kesulitan dalam pergerakan

–          Tidak ada pembengkakan pada kaki

  1. Pemeriksaan panggul luar          : –
  2. Tafsiran berat janin                    : –
  3. – Vaginal Toucher

– Portio                                    : Lunak, nyeri goyang (-), Pembukaan 1 Cm

– Cavum Uteri                         : TFU l.k 8 – 10 Cm

– Adnexia Parametrium ka/ki  : Nyeri tekan (-) Massa (-)

– Cavum Douglas                    : Tidak menonjol

  1. Pemeriksaan penunjang
  • HCG Test                    : Positif
  • Hemoglobin                : 9 mg%
  • Ultra Sonografi            : Janin Tunggal intraabdomen, Denyut Jantung (+)
  •  Panjang janin 5-6 Cm
  1. Diagnosa Medik            : Abortus Imminens

Analisa Data

Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS :

–     Mengeluh perdarahan 10 hari, badan lemah

DO :

–     Perdarahan 10 hari, 50 cc/hari

–     Hb. 9 mg%

–     Kulit agak pucat

 

DS :

–     mengeluh perdarahan 10 hari

DO :

–     Perdarahan

–     Vulva kotor & lembab

 

DS :

–     Menyatakan Nyeri

–     Mengeluh Perdarahan 10 hari

DO :

–     Kadang meringis menahan nyeri

 

 

Perdarahan akibat kerusakan jari-ngan intrauterus menimbulkan perdarahan dan penurunan volume cairan.

 

 

 

 

 

Akibat perdarahan mengakibatkan kondisi vulva hygiene menjadi berkurang dan selalu lembab, beresiko terhadap terjadinya infeksi

 

 

Kerusakan jaringan yang terjadi dapat mengakibatkan nyeri dan mengganggu kondisi fisik dan psikologis klien

 

 

Devisit Volume Cairan

Resiko tinggi untuk Infeksi

Gangguan Rasa Nyaman : Nyeri

 

Diagnosa Keperawatan :

a)    Devisit Volume Cairan berhubungan dengan  perdarahan

b)   Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan  kerusakan jaringan intrauteri

c)    Resiko tinggi Infeksi berhubungan dengan  perdarahan, kondisi vulva lembab

Rencana Keperawatan :

  1. Devisit Volume Cairan berhubungan dengan  Perdarahan

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, maka tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.

Kriteria hasil :

–            Klien mengatakan jumlah perdarahannya berkurang

–            Turgor kulit baik

–            TTV normal

Intervensi :

  1. Kaji kondisi status hemodinamika

Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi

  1. Ukur pengeluaran harian

Rasional  : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal

  1. Anjurkan klien memenuhi kebutuhan cairan

Rasional  : Motivasi untuk memenuhi kebutuhan cairan

  1. Kolaborasi untuk pemberian cairan IV

Rasional : Resusitasi cairan membantu kehilangan cairan dan mencegah terjadinya komplikasi

  1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan  Kerusakan jaringan intrauteri

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami.

Kriteria hasil :

–          Klien mengatakan nyeri mulai berkurang

–          Wajah tampak rileks

–          Klien dapat istirahat  tidur

–          Skala nyeri dalam batas normal

 

Intervensi :

  1. Kaji kondisi nyeri yang dialami klien

Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun deskripsi.

  1. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya

Rasional  : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri

  1. Kolaborasi pemberian analgetika

Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik

  1. Berikan pendidikan kesehatan teknik distraksi

Rasional : Adaptasi terhadap nyeri merupakan teknik yang dapat menurunkan nyeri disamping kecemasan

  1. Resiko tinggi Infeksi berhubungan dengan  perdarahan, kondisi vulva lembab

Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan keperawtan, diharapkan tidak terjadi infeksi selama perdarahan berlangsung

Kriteria hasil :

–          Klien mulai mengenal tanda-tanda infeksi

–          Mampu melakukan perawatan vulva

–          Vulva nampak bersih dan kotor

–          Tanda-tanda infeksi berkurang atau hilang

Intervensi :

  1. Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau

Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi

  1. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan

Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar

  1. Lakukan perawatan vulva

Rasional :Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.

  1. Terangkan pada klien cara  mengidentifikasi tanda infeksi

Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi

  1. Anjurkan pada suami untuk   tidak melakukan hubungan senggama selama masa perdarahan

Rasional  : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

Implementasi & Evaluasi

Devisit Volume Cairan berhubungan dengan  Perdarahan

Waktu

Implementasi

Evaluasi

09.45 Mengukur jumlah cairan yang keluar

Menerangkan bahaya pengeluaran cairan berlebihan

 

Melakukan penghitungan intake dan output

Mengajarkan cara mengukur kebutuhan cairan sederhana

Menganjurkan klien cukup banyak minum dan makan

Mengajarkan cara menentukan jumlah minum yang diperlukan selama perdarahan

S : -klien mengatakan takut dengan   perdarahan, dan menanyakan cara agar perdarahan berhenti

O :-Vol darah l.k 20 cc keluar, warna merah segar, perdarahan berkurang, Intake harian +  1200 cc

A : Masalah sebagian  teratasi

P : Intervensi dilanjutkan

 

Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan Kerusakan jaringgan intrauterine

Waktu

Implementasi

Evaluasi

09. 55 Menilai derajad nyeri

 

Menerangkan penyebab nyeri

Menganjurkan klien tidak banyak bergerak/aktivitas

Menganjurkan klien untuk berobat bila nheri bertambah hebat

S : Klien menyatakan nyeri berkurang

O : Skala nyeri ringan, ekspresi wajah tampak tenang, TTV normal

A : Masalah teratasi

P : Intervensi Dihentikan

Resiko tinggi Infeksi berhubungan dengan  perdarahan, kondisi vulcva lembab

Waktu

Implementasi

Evaluasi

10.10 Mengajarkan pada ibu untuk dapat mengecek perdarahan tiap hari, menerangkan hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengkaji tanda infeksi pada vagina

Menganjurkan ibu untuk membersihkan kemaluan teratur

Menganjurkan pada ibu untuk segera berobat bila ada tanda demam, perdarahan berbau atau  keluar nanah

S :

O : Tidak tampak tanda – tanda infeksi( merah, ruam, vulva kering)

A : masalah teratasi

P : intervensi dihentikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

  1. a.    Pembahasan

Dari hasil penjabaran tentang konsep asuhan keperawatan dari abortus spontan dan kasus  yang  diangkat tentang klien yang mengalami abortus spontan tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus. Mulai dari tahap pengkajian mengenai pengkajian data subjektif sampai obyektif,kemungkinan untuk terdapat kesenjangan ada tapi hanya sedikit.

Demikian pula dilihat dari diagnose yang  diangkat dari kasus   sama dengan diagnose dari teori tentang abortus spontan, terdapat 3 masalah utama meskipun dari kasus  tentang abortus spontan tersebut masih ada beberapa masalah lain tapi yang utama adalah:

  1. Deficit volume cairan b/d perdarahan
  2.  Gangguan rasa nyaman nyeri b/d kerusakan jaringan intra uteri
  3. Resiko tinggi infeksi b/d perdarahan, kondisi vulva lembab.

dari ketiga diagnose tersebut diatas menjadi prioritas dimana klien harus segera dilakukan penanganan karena jika tidak segera ditolong akan berakibat fatal pada klien.

Pada intervensi keperawatan harus disertai dengan rasional untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada perawat bahwa setiap tindakan yang dilakukan akan member manfaat pada klien. Pemberian penyuluhan penting pada klien apalagi klien sudah mengalami abortus yang berulang, supaya kehamilan berikutnya akan lebih baik lagi

Implementasi dilakukan berdasarkan intervensi yang telah direncanakan disesuaikan dengan diagnose keperawatan yang diangkat. Dan untuk evaluasi pada kasusnya untuk tiap diagnose keperawatan saya memberikan asumsi masalah itu teratasi dengan menggunakan komponen SOAP (subjek, objektif, assessment, dan planning).

  1. b.   Kesimpulan

Abortus spontan (miscarriage ) adalah terminologi yang digunakan pada kasus kehamilan dalam 20 minggu pertama yang berakhir dengan sendirinya.

 

Berdasarkan gambaran klinis

  • Abortus kompletus
  • Abortus inkompletus
  • Abortus imminen
  • abortus insipient
  • Abortus habitualis
  • Abortus infeksiousus
  • Missed abortion

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran

EGC, Jakarta

Derek Llewellyn – Jones, 2002, Dasar – dasar Obstetri dan Ginekologi edisi 6, Penerbit Hipokrates, Jakarta

Hamilton, C. Mary, 1995, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, EGC, Jakarta

Manuaba,IBG, 2007, Pengantar Kuliah Obstetri, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius. Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.1.3 WOC Abortus

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: